kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Kim Jong Un kian melunak, apakah kebetulan dengan cadev Korut yang kian menipis?

Kamis, 08 Maret 2018 / 10:08 WIB

Kim Jong Un kian melunak, apakah kebetulan dengan cadev Korut yang kian menipis?
ILUSTRASI. Pemimpin Korut Kim Jong Un menyambut Kepala Kantor Keamanan Nasional Korsel Chung Eui-yong

KONTAN.CO.ID - PYONGYANG. Sikap pimpinan Korea Utara (Korut) Kim Jong Un dinilai semakin melunak beberapa waktu terakhir. Hal ini ditunjukkan dari adanya niatan Kim untuk melakukan perundingan terkait program nuklir dan menormalisasi hubungan dengan Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Seikat.

Namun, banyak pihak yang meragukan niatan baik Kim. Pasalnya, keinginan Kim untuk melakukan perundingan terkait program nuklir Korut bertepatan dengan terjadinya penurunan tajam nilai cadangan devisa mereka.

Mengutip Bloomberg, sanksi internasional yang diterapkan atas Korut memukul perekonomian negara itu. Menurut analis Korsel, pembatasan ekspor pada 2017 akan menggerus dana tunai Korut tahun ini dan mampu menyusutkan nilai impor atas produk-produk utama.

Sementara, menurut laporan Korea Institute for International Economic Policy, yang berbasis di Sejong di selatan Seoul, risiko tambahan untuk rezim Pyongyang adalah lonjakan inflasi. Kelompok riset lain di Sejong, Korea Development Institute, memperingatkan adanya penurunan ekonomi di Korut.

Negara yang terisolasi ini memiliki sejarah dengan menggantungkan harapan tak pasti pada penyelesaian perundingan terkait gudang senjata nuklirnya, kemudian balik badan setelah mendapatkan konsesi. Kali ini, Kim telah sepakat untuk bertemu dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in untuk berunding di desa perbatasan Panmunjom. Bahkan Presiden AS Donald Trump telah memberi isyarat bahwa dia sangat terbuka untuk diskusi.

"Jika perkiraan cadangan mata uang asing Korut akurat, impor akan turun pada 2018 dan menyebabkan penurunan aktivitas di private market dan produksi industri dari paruh kedua. Gangguan terhadap impor bahan baku dan minyak mentah berarti adanya perubahan yang tidak bisa dihindari pada kebijakan industri Kim Jong Un," tulis Choi Jang-ho, seorang peneliti di Korea Institute untuk Kebijakan Ekonomi Internasional.

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh badan-badan pemerintah Korsel, ekspor Korut ke China -mitra dagang terbesarnya- turun 37% pada 2017, sementara impor naik tipis sebesar 4%. Kondisi ini menyebabkan defisit perdagangan barang senilai US$ 1,7 miliar.

Choi memperkirakan, cadangan devisa Korut hanya sekitar US$ 4 miliar sampai US$ 5 miliar, dibandingkan dengan Korsel senilai US$ 395 miliar.

Menurut prediksi Kang Seok-ho, ketua komite intelijen parlemen Korsel bulan lalu, saat bayangan mengenai cadangan devisa Pyongyang masih samar, kepemilikan Korut atas dollar bisa mengering sekitar Oktober jika sanksi internasional terus berlanjut.

Sedangkan Kim Byung-yeon, seorang profesor ekonomi di Seoul National University dan penulis "Unveiling the North Korea Economy", memperkirakan mata uang asing yang dimiliki oleh pemerintah Korut saat ini bisa mencapai US$ 3 miliar sampai US$ 7 miliar.

"Perekonomian Korut mungkin mengalami kontraksi 2% tahun lalu karena sanksi ekonomi mulai berlaku. Penurunan cadangan devisa akan berlanjut tahun ini, meski tidak sebanyak tahun 2017 karena impor bisa turun seiring dengan ekspor," jelas Kim Byung-yeon.

Tambahan informasi saja, mengutip Wall Street Journal, Kim Jong Un dikabarkan memberikan isyarat yang jelas kepada utusan Korsel bahwa pihaknya siap untuk memasuki tahap denuklirisasi. Selain itu, dalam masa perundingan, Kim Jong Un juga memberikan jaminan pada Korsel bahwa Korut tidak akan melakukan pengujian senjata nuklir.

Sinyal yang baik ini ditanggapi secara positif oleh pihak Korsel dan menguatkan harapan untuk perdamaian antara kedua negara ini. Pernyataan Kim Jong Un juga semakin melegakan banyak pihak bahwa pertemuannya dengan Presiden Korsel, Moon Jae-In, April 2018 mendatang akan berlangsung lancar.

Utusan khusus Korsel selanjutnya dijadwalkan bertolak ke Washington, AS untuk bertemu dengan pejabat senior pemerintahan Trump. Delegasi Korsel juga akan berkunjung ke Beijing, China dan Tokyo, Jepang untuk mengabarkan perkembangan mengenai hubungan Korsel dan Korut. Utusan Korsel ini akan diketuai oleh Chung Eui-Yong dan didampingi oleh kepala intelijen Korsel, Suh Hoon.

 


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KOREA UTARA

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0015 || diagnostic_api_kanan = 0.0775 || diagnostic_web = 0.2399

Close [X]
×