Reporter: Dani Prasetya, CNN |
PARIS. Pendiri perusahaan penghasil dada palsu ditahan. Adalah pendiri Poly Implant Protheses (PIP) Jean Claude Mas ditangkap di kawasan Six Fours les Plages, dekat Toulon, sebelah selatan Prancis.
Claude Mas ditangkap karena terkait penyelidikan pembunuhan tanpa sengaja dan kekerasan yang menyebabkan tewasnya seorang wanita penderita kanker dengan implan hasil produksi PIP pada 2010. Direktur PIP Claude Couty juga ditangkap pada waktu nyaris bersamaan saat berada di area La Seyne sur Mer.
Penyelidikan kasus itu dimulai Desember lalu dengan jaksa penuntut umum dari wilayah Marseille. Dada implan buatan PIP itu telah menimbulkan ketakutan kesehatan di wilayah Amerika Serikat, Eropa, dan Amerika Selatan. Kabarnya, 300.000 wanita yang tersebar di 65 negara menggunakan dada implan itu. Produk itupun kemudian dilarang beredar sejak 2010. Setahun kemudian, PIP bangkrut.
Seperti dilansir CNN, bulan lalu pemerintah Prancis mengumumkan, bakal mengganti penarikan produk yang menyebabkan perusahaan itu bangkrut. Penarikan produk mesti dilakukan karena ahli kesehatan asal Inggris menemukan, bahan baku produk itu terbuat dari silikon yang tidak layak untuk keperluan medis. Kabarnya, bahan yang digunakan PIP itu banyak digunakan pada produksi kasur.
Pemerintah Prancis lalu merekomendasikan agar para konsumen PIP segera mengangkat dada implan itu. Sebab, produk itu cenderung mudah pecah serta bisa menyebabkan radang dan fibrosis. Memang hingga saat ini pemerintah Inggris belum memiliki data yang menunjukkan bahwa dada implan itu beracun atau memiliki kecenderungan pecah ketimbang produk lainnya. Namun, Sekretaris Negara Bagian Kesehatan Inggris Andrew Lansley menyarankan, para wanita pengguna dada implan segera berkonsultasi dengan dokter bedahnya masing-masing.
The National Health Service (NHS), berjanji membantu biaya pengangkatan dada implan setelah para wanita itu berkonsultasi dengan dokternya. "Kami yakin rumah sakit swasta juga seharusnya memiliki tanggung jawab moral yang sama seperti NHS. Informasi, konsultasi, scan, dan pengangkatan gratis apabila dibutuhkan," tuturnya, Kamis (26/1).













