Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Sejak 2025, sejumlah bursa dan proyek kripto kehilangan dana miliaran dolar AS akibat berbagai serangan siber. Berikut adalah kasus terbesar selama satu tahun terakhir.
Di antara seluruh kasus tersebut, Bybit masih tercatat sebagai korban dengan kerugian terbesar.
Berdasarkan kompilasi data The Block, Yahoo Finance, Binance, dan Chainalysis hingga 30 April 2026, platform tersebut kehilangan aset kripto senilai US$1,5 miliar atau sekitar Rp27,12 triliun dengan kurs rata-rata saat ini.
Nilai tersebut jauh melampaui peretasan lain dalam daftar, termasuk KelpDAO dan Drift Trade yang sama-sama menjadi korban serangan besar sepanjang 2026.
Baca Juga: Coinbase Catat Rugi Kuartalan Ketiga Beruntun, Volume Trading Kripto Lesu
Daftar 10 Peretasan Kripto Terbesar Sejak 2025
Mengacu data Visual Capitalist, berikut adalah daftar 10 kasus peretasan kripto terbesar sejak tahun 2025:
| Peringkat | Platform | Tanggal | Nilai Kerugian |
|---|---|---|---|
| 1 | Bybit | 21 Februari 2025 | US$1,5 miliar (Rp27,12 triliun) |
| 2 | KelpDAO | 18 April 2026 | US$292 juta (Rp5,28 triliun) |
| 3 | Drift Trade | 1 April 2026 | US$285 juta (Rp5,15 triliun) |
| 4 | Cetus | 22 Mei 2025 | US$223 juta (Rp4,03 triliun) |
| 5 | Balancer | 3 November 2025 | US$128 juta (Rp2,31 triliun) |
| 6 | Bitget | 20 April 2025 | US$100 juta (Rp1,81 triliun) |
| 7 | Nobitex | 18 Juni 2025 | US$90 juta (Rp1,63 triliun) |
| 8 | Phemex | 23 Januari 2025 | US$85 juta (Rp1,54 triliun) |
| 9 | UPCX | 1 April 2025 | US$70 juta (Rp1,27 triliun) |
| 10 | Infini | 24 Februari 2025 | US$50 juta (Rp904 miliar) |
Baca Juga: Pakistan Dorong Regulasi Kripto Berbasis Syariah, Fokus pada Aset Riil
Bybit Jadi Kasus Peretasan Terbesar
Sebagai pengingat, kasus yang menimpa Bybit pada Februari 2025 hingga kini masih menjadi peretasan terbesar dalam sejarah industri kripto.
Pelaku diketahui berhasil menyusup ke perangkat kerja milik pengembang pihak ketiga, lalu menanamkan kode berbahaya ke dalam proses transaksi.
Modifikasi tersebut membuat sistem menampilkan transaksi seolah-olah sah, padahal dana sebenarnya dialihkan ke dompet digital milik peretas.
Akibat insiden tersebut, Bybit kehilangan aset senilai US$1,5 miliar, atau lebih dari lima kali lipat dibandingkan kerugian yang dialami KelpDAO di posisi kedua.
Posisi kedua ditempati KelpDAO, yang mengalami kerugian sekitar US$292 juta pada April 2026. Dalam kasus ini, peretas mengeksploitasi sistem verifikasi transaksi lintas blockchain milik pihak ketiga.
Celah tersebut memungkinkan mereka memalsukan bukti jaminan (collateral), sehingga sistem melepaskan aset kripto yang sebenarnya tidak memiliki jaminan.
Masih pada bulan yang sama, Drift Trade menjadi korban peretasan senilai US$285 juta. Pelaku menggunakan teknik social engineering untuk memperoleh akses istimewa ke sistem.
Selanjutnya, pelaku menciptakan token palsu yang nilainya dimanipulasi agar dapat digunakan sebagai agunan untuk meminjam aset kripto asli.
Baca Juga: Tren Baru: Stablecoin Jadi Andalan Kelompok Kriminal













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
