Sumber: Reuters | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - Arab Saudi mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan oleh kelompok Houthi Yaman pada hari Kamis (24/9), menggagalkan serangan terhadap provinsi selatan Taif dan wilayah Yanbu di Laut Merah, demikian pernyataan koalisi pimpinan Saudi di Yaman.
Belum jelas apakah terdapat kerusakan atau korban jiwa di Taif maupun Yanbu setelah peringatan darurat luas dikeluarkan untuk wilayah-wilayah termasuk Jeddah dan kota suci Mekkah.
Serangan terhadap Yanbu terjadi menyusul membaiknya prospek dimulainya kembali ekspor minyak dari terminal di sana, setelah sejumlah sumber mengatakan kepada Reuters bahwa operasi telah dimulai kembali di jalur pipa Timur-Barat; jalur pipa tersebut sempat ditutup pada 11 September akibat serangan pesawat nirawak (drone) yang dituduhkan Riyadh sebagai ulah milisi Irak.
Pelabuhan tersebut merupakan titik vital bagi minyak mentah Saudi ketika pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu.
Baca Juga: Kunjungan Netanyahu ke AS Hanya 8 Jam, Hubungan dengan Trump Makin Tegang
Otoritas pertahanan sipil juga memperingatkan adanya potensi bahaya di provinsi barat laut Tabuk, dekat perbatasan dengan Yordania—sebuah peringatan pertama bagi wilayah tersebut selama eskalasi terkini antara kerajaan itu dan kelompok Houthi bulan ini.
Selama ini, kelompok Houthi sebagian besar menyerang wilayah selatan Arab Saudi.
Mereka meningkatkan serangan terhadap kerajaan tersebut setelah mengumumkan blokade laut pada bulan Juli, yang menjadikan wilayah itu sebagai medan tempur kedua dalam konflik AS-Iran.
Kelompok Houthi juga merebut seluruh pesisir barat Yaman dalam serangan kilat hampir dua minggu lalu, yang membawa mereka hingga ke tepi jalur perairan strategis Bab el-Mandeb di Laut Merah.
"Setiap eskalasi dan pelanggaran oleh milisi teroris Houthi akan ditindak tegas," kata koalisi tersebut dalam sebuah pernyataan tak lama setelah serangan terjadi.
Eskalasi perang saudara Yaman memperluas konflik Timur Tengah
Sebelumnya, pasukan pemerintah yang didukung Riyadh berhasil memukul mundur serangan malam hari oleh kelompok Houthi di jalur pasokan utama menuju kota pelabuhan selatan Aden menurut sumber-sumber pemerintah.
Kelompok Houthi terus memberikan tekanan terhadap pasukan pemerintah yang berupaya mengonsolidasikan kekuasaan mereka melalui jalur pegunungan yang curam dan berliku.
Jalan yang dikenal sebagai Hejat al-Abd ini merupakan jalur vital bagi pasukan yang bertempur demi pemerintah Yaman, yang posisinya telah terkepung oleh kelompok Houthi.
Jalan tersebut juga sangat vital bagi pasokan barang yang masuk ke Taiz serta wilayah pedesaan di bagian selatan dan baratnya.
Ini merupakan satu-satunya jalur bagi warga yang ingin bepergian ke luar negeri, mengingat tidak adanya penerbangan komersial yang beroperasi dari wilayah yang dikuasai Houthi.
Penguasaan atas sebagian ruas jalan Taiz-Aden dapat memungkinkan Houthi memperketat cengkeraman mereka di sekitar Taiz dan memberikan pukulan telak lainnya bagi pemerintah, yang telah berjuang keras untuk merebut kembali inisiatif sejak kehilangan wilayah pesisir barat.
Pertempuran ini merupakan babak terbaru dalam perang saudara selama 12 tahun di Yaman, yang sebelumnya sebagian besar telah mereda sejak adanya gencatan senjata pada tahun 2022.
Houthi merebut ibu kota Sanaa pada tahun 2014, yang memicu intervensi militer pimpinan Arab Saudi pada tahun berikutnya untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional.
Dalam beberapa pekan terakhir, pertempuran kembali berkobar di sepanjang sejumlah garis depan lama seiring pergerakan Houthi ke arah selatan menyusuri pesisir Laut Merah Yaman.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lebih dari 700 orang tewas dan ribuan lainnya terluka dalam pertempuran terkini ini.
Hampir 130.000 warga Yaman terpaksa mengungsi di dalam negeri, sementara lebih dari 3.000 orang melarikan diri dengan perahu melintasi Laut Merah menuju Afrika.
Baca Juga: Bagi Paus Leo, Risiko Kiamat AI Menjadi Perhatian Utama














