kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.835   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.375   97,87   1,56%
  • KOMPAS100 833   11,37   1,38%
  • LQ45 633   7,57   1,21%
  • ISSI 221   4,34   2,00%
  • IDX30 351   3,57   1,03%
  • IDXHIDIV20 434   1,47   0,34%
  • IDX80 95   1,26   1,34%
  • IDXV30 119   0,20   0,17%
  • IDXQ30 112   0,55   0,49%

AS dan Iran Kembali Berkomunikasi, Peluang Akhiri Perang Timur Tengah Terbuka


Rabu, 23 September 2026 / 22:01 WIB
AS dan Iran Kembali Berkomunikasi, Peluang Akhiri Perang Timur Tengah Terbuka
ILUSTRASI. Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali membuka jalur komunikasi diplomatik setelah berbulan-bulan hubungan kedua negara memburuk (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali membuka jalur komunikasi diplomatik setelah berbulan-bulan hubungan kedua negara memburuk akibat perang di Timur Tengah.

Kontak terbaru yang berlangsung di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York memunculkan harapan baru terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi berkomunikasi dengan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner melalui para mediator. Kontak tersebut menjadi komunikasi diplomatik pertama antara kedua pihak sejak kesepakatan gencatan senjata sementara runtuh pada Juli 2026.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pertemuan yang berlangsung melalui mediator tersebut menunjukkan perkembangan positif.

"Steve dan Jared mengadakan pertemuan yang sangat produktif hari ini dengan para mediator Iran," kata Trump.

"Saya pikir ada banyak momentum bagi mereka untuk mencapai kesepakatan. Itulah yang kami dengar dari semua pihak," tambahnya.

Baca Juga: Iran Tak Akan Menyerah Lawan AS, Pezeshkian Dorong Diplomasi

Sebelumnya, Trump dalam pidatonya di Majelis Umum PBB mengatakan dirinya harus menentukan apakah akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau "memusnahkannya".

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan menyampaikan pidato di hadapan Majelis Umum PBB pada Rabu.

Iran Sampaikan Syarat kepada AS

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan Teheran telah berkomunikasi dengan AS melalui mediator Qatar di New York.

Menurut Baghaei, Iran menyampaikan sejumlah persyaratan, termasuk penghentian perang di seluruh front serta penghentian apa yang disebut Iran sebagai "tindakan agresi" AS.

Sejumlah media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa Araqchi dan Witkoff telah bertemu secara langsung. Namun, pejabat Iran kemudian mengklarifikasi kepada Reuters bahwa komunikasi tersebut tidak berlangsung secara tatap muka.

Araqchi justru bertemu dengan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani. Qatar merupakan salah satu mediator utama dalam perundingan sebelumnya antara AS dan Iran.

Kontak diplomatik terbaru ini menjadi celah komunikasi pertama dalam beberapa bulan setelah perundingan terhenti pada Juli dan pertempuran kembali terjadi di berbagai wilayah Timur Tengah.

Sejak saat itu, AS dan Iran berulang kali saling menyerang. Namun, Trump belum memerintahkan dimulainya kembali serangan AS secara penuh setelah para komandan militer memperingatkan bahwa persediaan amunisi mulai menipis.

Kelompok Garis Keras Iran Menentang Kontak Diplomatik

Upaya diplomatik di New York mendapat penolakan dari media Iran yang berafiliasi dengan kelompok garis keras.

Tasnim, kantor berita semi-resmi yang memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran, menerbitkan artikel opini yang menilai Araqchi keliru karena melakukan kontak dengan Witkoff dan Kushner.

Artikel tersebut menyebut kontak itu sebagai "hadiah besar bagi Trump", dengan alasan Iran sebelumnya telah menyampaikan persyaratan mereka.

Baca Juga: Xi Jinping ke AS, Delegasi Pengusaha Tiongkok Batal Dampingi

Sumber-sumber Iran mengatakan kepada Reuters bahwa delegasi Iran telah diperintahkan untuk tidak melakukan pertemuan tatap muka dengan pihak AS oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Dewan tersebut mencakup sejumlah tokoh yang dipilih oleh Ayatollah Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang hingga kini belum muncul di hadapan publik sejak menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas pada hari pertama perang.

Seorang jurnalis Iran yang meliput kunjungan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa sebagian kelompok garis keras memandang kunjungan ke New York sebagai penghinaan terhadap mendiang pemimpin Ali Khamenei.

Harga Minyak Bertahan di Level Terendah Dua Pekan

Pembukaan jalur diplomatik antara AS dan Iran turut membantu menjaga harga minyak tetap berada di sekitar level terendah dalam dua pekan.

Harga minyak Brent berada di kisaran US$100 per barel setelah sebelumnya melonjak pada awal September. Kenaikan tersebut dipicu serangan besar yang dilancarkan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman dan mengancam lalu lintas pelayaran di Laut Merah.

Perang yang dimulai Trump bersama Israel pada Februari melalui operasi yang disebut "Operation Epic Fury" telah berlangsung hampir tujuh bulan.

Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang, mengganggu pasokan energi global dan meluas ke sejumlah negara lain di kawasan, terutama Lebanon dan belakangan Yaman.

Trump kembali menyampaikan pernyataan sebelumnya bahwa perang dapat berakhir sekitar pelaksanaan pemilu paruh waktu AS pada November. Namun, Trump belum menjelaskan alasan di balik perkiraan tersebut.

Kesepakatan AS-Iran Sebelumnya Gagal

Kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni dan ditandatangani Trump serta Pezeshkian sebelumnya memberikan peluang bagi Iran untuk memperoleh sejumlah tuntutannya.

Dalam kesepakatan tersebut, Iran akan mendapatkan pencabutan sanksi finansial serta pembekuan aset, sebagai imbalan atas pembicaraan mengenai pembatasan program nuklir Iran.

Namun, kesepakatan tersebut hanya bertahan selama beberapa pekan. Perselisihan kemudian muncul terkait aturan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi rute sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum perang.

Iran menginginkan kontrol yang lebih besar serta pungutan biaya terhadap kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. Washington menolak tuntutan tersebut.

Dalam serangan terbaru yang dilaporkan terjadi di Selat Hormuz, badan keamanan maritim Inggris UKMTO mengatakan sebuah kapal kargo terkena proyektil dan menyebabkan dua anggota awak mengalami luka.

Baca Juga: Ukraina Jajaki Pelabuhan Baltik untuk Alternatif Ekspor Biji-bijian

Seluruh awak telah dievakuasi, sementara kapal tersebut terbakar dan hanyut.

Aktivitas Pelayaran Mulai Pulih

Meskipun serangan hampir terjadi setiap hari, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz mulai meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Produsen minyak membayar perusahaan pelayaran dengan biaya yang dapat mencapai seperempat nilai kargo untuk mengambil risiko melewati selat tersebut selama perang. Sejumlah kapal mematikan transponder selama pelayaran sebelum minyak dipindahkan ke kapal lain di sisi selat yang menghadap Oman.

Ekspor minyak Uni Emirat Arab (UEA) bahkan telah kembali ke tingkat sebelum perang.

Sementara itu, Arab Saudi telah menjual sekitar 60 juta barel minyak dari kawasan Teluk untuk pengiriman pada bulan ini dan bulan depan. Minyak tersebut akan diserahkan di luar Selat Hormuz, di lepas pantai Oman.

Meski demikian, sekitar sepertiga pasokan minyak dari kawasan Teluk diperkirakan masih belum masuk ke pasar global.

Kelangkaan terutama berdampak pada produk minyak olahan seperti diesel. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan inflasi, mendorong kenaikan suku bunga dan menambah tekanan terhadap Partai Republik yang dipimpin Trump menjelang pemilu paruh waktu AS.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×