kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.939   104,00   0,58%
  • IDX 6.299   -76,31   -1,20%
  • KOMPAS100 819   -14,09   -1,69%
  • LQ45 623   -9,92   -1,57%
  • ISSI 219   -2,18   -0,99%
  • IDX30 345   -5,37   -1,53%
  • IDXHIDIV20 429   -4,96   -1,14%
  • IDX80 93   -1,50   -1,58%
  • IDXV30 117   -1,48   -1,24%
  • IDXQ30 111   -1,66   -1,48%

AS Masih Bergantung pada China untuk Rare Earth hingga 2030-an


Kamis, 24 September 2026 / 15:46 WIB
AS Masih Bergantung pada China untuk Rare Earth hingga 2030-an
ILUSTRASI. Upaya AS mengurangi ketergantungan terhadap China dalam pasokan rare earths diperkirakan membutuhkan waktu lebih panjang.? (via REUTERS/Kenny Holston)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Upaya Amerika Serikat (AS) mengurangi ketergantungan terhadap China dalam pasokan mineral tanah jarang atau rare earths diperkirakan membutuhkan waktu lebih panjang.

Bahkan setelah mempercepat pembangunan fasilitas tambang dan pengolahan domestik, AS masih akan bergantung pada impor dari China hingga memasuki dekade 2030-an.

Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan strategis yang dihadapi Presiden AS Donald Trump saat bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Washington pada Kamis (24/9/2026). Pasokan rare earths menjadi salah satu isu penting dalam hubungan dagang dan ekonomi kedua negara.

Rare earths merupakan kelompok mineral yang masuk dalam daftar 60 mineral kritis menurut pemerintah AS. Mineral tersebut harus melalui proses pengolahan sebelum dapat digunakan untuk menghasilkan magnet serta berbagai material yang dibutuhkan dalam industri persenjataan, otomotif, komputer, hingga berbagai produk teknologi lainnya.

Menurut data Benchmark Mineral Intelligence, produksi AS untuk dua jenis rare earths yang paling banyak digunakan telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak Trump kembali menjabat tahun lalu.

Baca Juga: MU Melepas Sebagian Besar Aset Old Trafford untuk Dijual

Namun, peningkatan tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik. Produksi dalam negeri AS saat ini baru mampu mencukupi sekitar 42% permintaan. Dalam lima tahun ke depan, AS juga diperkirakan masih harus mengandalkan impor untuk hampir seperempat kebutuhan rare earths.

China sendiri masih menjadi negara dominan dalam penambangan dan pemurnian rare earths dunia. Beijing sebelumnya menyepakati penundaan pembatasan ekspor hingga 10 November. Kemungkinan memperpanjang penundaan tersebut menjadi salah satu agenda yang dibahas Trump dan Xi.

Di sisi lain, Gedung Putih sebelumnya menetapkan target Januari 2027 untuk menghentikan impor rare earths dari China. Berdasarkan proyeksi kebutuhan dan kapasitas produksi saat ini, target tersebut dinilai sangat sulit dicapai.

"Tujuannya bukan agar AS menggantikan China sebagai pemasok global yang dominan," kata Coco Zhang, analis ING.

"Tujuan yang lebih realistis adalah membangun rantai pasokan alternatif yang berarti dan dapat melindungi sektor-sektor strategis selama periode gangguan geopolitik," lanjutnya.

AS Kucurkan Investasi ke Industri Rare Earth

Trump menjadikan rare earths sebagai salah satu prioritas keamanan nasional sejak kembali ke Gedung Putih. Pemerintah AS telah menggelontorkan miliaran dolar untuk mendukung perusahaan seperti MP Materials, USA Rare Earth dan Energy Fuels guna mengurangi dominasi China dalam rantai pasokan mineral tersebut.

Sejumlah investasi mulai menghasilkan kapasitas baru. Namun, kebutuhan AS terhadap impor masih menunjukkan kompleksitas pembangunan kembali industri rare earths setelah negara tersebut nyaris meninggalkan sektor ini pada akhir abad ke-20.

"Kita harus membangun ini dengan benar dan dengan urgensi. Dan ketika kita membangun kapasitas ini, kita akan mampu memenuhi permintaan tersebut," kata Kunal Sinha, pendiri perusahaan rintisan pengolahan mineral Valor.

Selain itu, AS masih memiliki kapasitas yang sangat terbatas untuk mengolah jenis heavy rare earths yang digunakan dalam aplikasi militer. Produksi mineral khusus tersebut diperkirakan meningkat hingga 2031, tetapi tetap belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik, berdasarkan data Benchmark.

Baca Juga: Dolar AS Bertahan di Level Tertinggi 2 Bulan Kamis (24/9), Tunggu Sinyal The Fed

China Masih Kuasai Pengolahan Rare Earth

Salah satu tantangan terbesar AS bukan hanya menambang rare earths, tetapi juga mengolahnya. Proses tersebut membutuhkan teknologi dan keahlian karena 17 unsur rare earths harus dipisahkan melalui proses kimia dan mekanis yang kompleks.

"Negara-negara Barat berada dalam posisi yang lebih kuat untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap China, tetapi menggantikan pasokan China di seluruh rantai nilai jauh lebih sulit," kata Todd Downing, analis mineral dari konsultan Project Blue.

Sejumlah perusahaan AS mulai memperluas aktivitasnya. MP Materials, misalnya, pada awal September mulai mengirimkan magnet yang dibuat dari rare earths hasil pemurniannya sendiri kepada General Motors. Pengiriman tersebut merupakan bagian dari kesepakatan yang ditandatangani pada 2021.

USA Rare Earth juga melakukan ekspansi melalui sejumlah akuisisi setelah memperoleh investasi dari pemerintah AS. Perusahaan tersebut membeli tambang di Brasil dan fasilitas pengolahan di Prancis.

Sementara itu, Energy Fuels pada awal tahun ini menyepakati akuisisi perusahaan yang membangun fasilitas produksi magnet besar di South Carolina.

"Pengembangan industri rare earths domestik sedang berjalan," kata Tim Moore, analis rare earths dari perusahaan jasa keuangan Clear Street.

"Ini masih tahap awal, tetapi prosesnya sedang berlangsung," lanjutnya.

Sejumlah perusahaan rintisan, termasuk Nth Cycle dan Ucore Rare Metals, juga mengembangkan teknologi baru untuk melakukan pemurnian rare earths.

"AS terus membuat kemajuan pesat dalam mengembangkan kapasitas untuk memproduksi material di seluruh rantai pasokan," kata Albert Gore, kepala ZETA, kelompok perdagangan kendaraan listrik. Industri kendaraan listrik merupakan salah satu pengguna utama magnet berbasis rare earths.

Pasokan China Masih Jadi Risiko bagi Industri AS

Di tengah pembangunan kapasitas domestik tersebut, ketergantungan AS terhadap pemasok China belum sepenuhnya hilang. Bahkan, sejumlah pemasok China mulai menahan pengiriman ke AS karena khawatir tindakan mereka dapat memicu persoalan dengan pemerintah Beijing, menurut laporan Reuters sebelumnya.

Jika China kembali memberlakukan pembatasan ekspor secara resmi, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap manufaktur AS.

Baca Juga: Bank Sentral Swedia Tahan Suku Bunga, Buka Peluang Kenaikan Tahun Ini

Ford Motor, misalnya, sempat menghentikan sementara operasi sejumlah pabriknya di AS pada tahun lalu setelah pasokan rare earths dari China mengering.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan rantai pasokan domestik membutuhkan waktu, meskipun investasi AS terus meningkat.

"Kami semua bekerja sangat keras untuk membangun kapasitas pengolahan secepat mungkin," kata Megan O'Connor, CEO Nth Cycle.

Perusahaan tersebut mengembangkan teknologi yang diklaim mampu mengolah rare earths dan pada awal pekan ini menandatangani kesepakatan pasokan senilai US$1 miliar dengan Glencore.

Ketergantungan terhadap rare earths China pun menjadi bagian dari dinamika yang lebih luas dalam hubungan ekonomi kedua negara. Reuters melaporkan bahwa dominasi China atas mineral tersebut turut menjadi salah satu faktor yang membuat isu rantai pasokan menjadi penting dalam pertemuan Trump dan Xi.

Dengan demikian, bagi AS, tantangan bukan sekadar meningkatkan produksi tambang rare earths, tetapi membangun seluruh ekosistem mulai dari penambangan, pemurnian, pemrosesan hingga produksi magnet dan material akhir yang dibutuhkan industri strategis.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×