Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/BRUSSELS/PARIS. Pemerintahan Amerika Serikat (AS) telah meminta Jerman dan Prancis untuk mengurangi cadangan darurat solar. Dengan demikian, kenaikan harga bahan bakar global diharapkan bisa ditahan.
Yang menarik, sebagaimana dilaporkan Reuters, Kamis (1/10/2026),bila Jerman dan Prancis tidak patuh, kedua negara itu akan menghadapi larangan ekspor solar AS. Reuters menerima informasi tersebut dari sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.
Peringatan ini menandai peningkatan tekanan terhadap Eropa di saat Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan kemungkinan larangan ekspor solar demi menurunkan harga bahan bakar di AS menjelang pemilihan umum sela bulan November.
Pemerintahan AS merasa sangat kecewa terhadap Prancis dan Jerman. Menurut sumber Reuters, yang juga merupakan pejabat AS, Prancis dan Jerman belum sepenuhnya menepati komitmen awal untuk melepas cadangan darurat minyak dan produk minyak bumi.
Baca Juga: Warga Jerman Bisa Gunakan Baterai Mobil Listrik untuk Pasok Listrik di Rumah
Sumber Reuters lainnya, yang berbasis di ibukota negara Eropa, mengatakan, AS telah meminta Uni Eropa untuk melepas 120 juta barel solar dalam enam bulan ke depan.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada wartawan pada Rabu (30/9/2026), pemerintah AS mengharapkan adanya pengumuman segera dari Eropa mengenai pasokan solar baru.
"Kami kehilangan sebagian ekspor solar dari Timur Tengah, meskipun kami sedang memulihkannya kembali, dan kami juga kehilangan ekspor solar dari China. Jadi, ada banyak gangguan pasokan," papar Wright.
Kementerian Ekonomi Jerman tidak segera menanggapi permintaan komentar. Kementerian Energi Prancis menolak berkomentar.
Seorang pejabat di Prancis mengatakan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Trump tidak membahas masalah ini saat mereka bertemu di sela-sela Sidang Umum PBB di New York pekan lalu.
Baca Juga: Filipina Kerahkan Kapal Terbesar Hadapi Kapal Riset China Dekat Taiwan
Namun, pejabat tersebut mengatakan bahwa Macron akan mengadakan konferensi video dengan para pemimpin negara-negara G7 untuk membahas kenaikan harga bahan bakar dan ketersediaan global produk olahan minyak, termasuk koordinasi pelepasan cadangan yang dilakukan bersama Internasional Energy Agency (IEA).
Eropa menjadi semakin bergantung pada bahan bakar AS setelah larangan impor dari Rusia akibat invasi Rusia ke Ukraina, serta setelah konflik yang melibatkan AS-Israel dan Iran mengganggu pasokan dari Timur Tengah.














