Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Sejumlah mata uang Asia melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (28/9/2026), dengan baht Thailand dan won Korea Selatan menjadi yang paling tertekan di kawasan.
Mengutip data Reuters pada pukul 02.14 GMT, baht melemah 0,43% menjadi 33,513 per dolar AS dari 33,37. Won Korea Selatan turun 0,52% menjadi 1.360,80 per dolar AS dari 1.353,68.
Rupiah juga bergerak melemah 0,33% menjadi Rp17.940 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.880 per dolar AS.
Baca Juga: Laba Industri China Melambat, Ketimpangan Ekonomi Makin Terlihat
Tekanan juga terlihat pada sejumlah mata uang Asia lainnya. Yen Jepang melemah 0,27% menjadi 157,69 per dolar AS, ringgit Malaysia turun 0,20% menjadi 4,078, dolar Singapura melemah 0,09% menjadi 1,278, sementara yuan China turun tipis 0,04% menjadi 6,715.
Peso Filipina melemah 0,11% menjadi 62,463 per dolar AS. Rupee India relatif stabil di 95,813 per dolar AS.
Pergerakan mata uang Asia tersebut berlangsung di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global akibat kenaikan harga energi serta ketidakpastian geopolitik.
Sementara itu, secara kumulatif sepanjang 2026, rupiah menjadi salah satu mata uang Asia yang mencatat pelemahan cukup dalam terhadap dolar AS.
Berdasarkan data Reuters, rupiah berada di level Rp17.755 per dolar AS pada akhir 2025 dan kini berada di sekitar Rp17.940. Dengan demikian, rupiah telah melemah sekitar 6,11% sepanjang tahun berjalan.
Baca Juga: Lewati Bos Facebook, Harta Kekakayaan Pengusaha Komputer Ini Terbanyak Keempat Dunia
Peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar dalam daftar tersebut, yakni 4,79% sejak akhir 2025. Rupee India melemah 5,81%, sedangkan baht Thailand turun 4,13%.
Sebaliknya, won Korea Selatan menguat 4,39% sepanjang 2026. Yuan China juga menguat 3,97%, sementara dolar Singapura naik 1,16% dan ringgit Malaysia menguat 0,75%.
Pergerakan mata uang Asia masih akan dipengaruhi arah kebijakan bank sentral utama, terutama Federal Reserve Amerika Serikat, serta perkembangan harga minyak dan kondisi geopolitik global.














