Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Populasi Singapura meningkat 1,6% pada bulan Juni 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai rekor tertinggi baru sebanyak 6,21 juta jiwa. Demikian data statistik pemerintah Singapura yang dirilis Jumat (25/9/2026).
Singapura telah mengalami pertumbuhan populasi yang stabil sejak berakhirnya pandemi, saat negara itu mencabut pembatasan ketat yang sebelumnya menghalangi masuknya warga asing dan sempat menyebabkan penurunan populasi yang jarang terjadi.
Data statistik bulan Juni 2026 menunjukkan bahwa kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan sebesar 3,7% pada jumlah penduduk asing, yang mencapai total 1,98 juta jiwa.
Peningkatan jumlah warga asing di Singapura—negara dengan keterbatasan lahan—dapat menjadi isu sensitif bagi para pemimpin politik, terutama ketika para pemilih merasa khawatir mengenai lapangan kerja dan biaya hidup.
Baca Juga: Investor Jepang Borong JGB, Pembelian Asing Merosot Tajam
Pada tahun 2013, negara kota yang biasanya tertib ini sempat menyaksikan protes menentang rencana peningkatan imigrasi secara drastis yang diproyeksikan akan mendongkrak populasi menjadi 6,9 juta jiwa pada tahun 2030.
Tingkat pengangguran di Singapura tetap rendah di angka 1,9% pada kuartal kedua tahun 2026, meskipun jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) pada periode tersebut mencapai tingkat tertinggi sejak pertengahan pandemi COVID pada tahun 2020.
Singapura menyatakan ingin memberikan kewarganegaraan kepada hingga 30.000 orang per tahun selama lima tahun ke depan guna mengatasi masalah demografis, termasuk rendahnya tingkat kelahiran dan penuaan populasi.
Seperti dilansir Reuters, per Juni 2026, proporsi warga negara dan penduduk tetap Singapura yang berusia di atas 65 tahun meningkat menjadi 19,5%, naik dari 18,8% pada tahun 2025 dan 12,4% pada tahun 2016.
Pada bulan Agustus, Singapura menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 menjadi kisaran 4,5% hingga 5,5%—dari sebelumnya 2,0% hingga 4,0%—setelah ekonomi tumbuh lebih cepat daripada perkiraan awal pada kuartal kedua.
Baca Juga: Yield US Treasury Melonjak, Saham Asia Masih Bertahan di Tengah Tekanan Pasar














