Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Kasus pelanggaran finansial Manchester City dan Chelsea sama-sama berkaitan dengan aturan sepak bola Inggris. Namun, kedua kasus tersebut memiliki perbedaan penting.
Chelsea mengakui 74 pelanggaran dan akhirnya hanya mendapat denda £10 juta. Sementara itu, Manchester City menghadapi kasus yang jauh lebih kompleks dan masih akan melanjutkan proses banding.
Sebenarnya, apa yang membuat kasus dua raksasa Inggris ini berbeda?
Baca Juga: Manchester City Klaim Punya Bukti Kuat, Siap Lawan Putusan Premier League
Chelsea Melaporkan Pelanggarannya Sendiri
Kasus Chelsea bermula setelah pemilik baru klub, BlueCo, menemukan ketidakteraturan dalam laporan keuangan pada era Roman Abramovich.
Mengutip catatan The Sun, pelanggaran tersebut berkaitan dengan pembayaran kepada agen yang tidak dicatat dalam pembukuan resmi.
Setelah menemukannya, Chelsea justru melaporkan masalah tersebut kepada UEFA, FA, dan Premier League.
Chelsea kemudian mengakui 74 pelanggaran dan membantu proses penyelidikan dengan menyerahkan dokumen yang dibutuhkan.
Sikap tersebut menjadi salah satu faktor yang meringankan hukuman klub.
Sementara itu, kasus City bermula dari kebocoran dokumen Football Leaks pada 2018. Dokumen tersebut berisi informasi mengenai aktivitas keuangan klub pada periode 2008/09 hingga 2017/18.
City sejak awal membantah tuduhan tersebut dan menyatakan dokumen yang dipublikasikan telah diperoleh secara ilegal serta digunakan di luar konteks.
Premier League kemudian mengajukan serangkaian tuduhan terhadap City. Klub tidak mengakui tuduhan tersebut dan terus mempertahankan pembelaannya.
Baca Juga: Manchester City Bersalah, Premier League Ungkap Pelanggaran Keuangan 9 Musim
Pelanggaran City Dinilai Lebih Serius
Dalam kasus Chelsea, pembayaran yang tidak dicatat tersebut ditemukan tidak membuat klub melanggar aturan Premier League mengenai batas kerugian finansial, seandainya pembayaran itu dilaporkan dengan benar.
Chelsea akhirnya dijatuhi denda £10 juta setelah mengakui 74 pelanggaran.
Selain itu, pelanggaran Chelsea berkaitan dengan pembayaran yang tidak dicatat dalam pembukuan, bukan skema yang menurut temuan komisi membuat klub melampaui aturan kerugian finansial Premier League.
Sementara itu, Manchester City dinyatakan bersalah atas pelanggaran terkait informasi keuangan, sumber pendapatan, kontrak, dan pendanaan.
Komisi independen juga menemukan kontrak yang disebut sebagai "sham" untuk menutupi sekitar £830 juta pendapatan dari Abu Dhabi.
City juga dinyatakan bersalah atas sebagian besar tuduhan terkait kegagalan bekerja sama dalam penyelidikan.
Baca Juga: Kisah Rui Pinto, Hacker di Balik Terbongkarnya Kasus Manchester City
Perbedaan Kasus Chelsea dan Manchester City
Jika dirangkum, perbedaan antara kasus Chelsea dan Manchester City bisa dirinci sebagai berikut:
| Aspek | Chelsea | Manchester City |
|---|---|---|
| Periode | 2012-2019 | 2008/09-2017/18, serta proses kerja sama hingga 2022 |
| Jumlah pelanggaran | 74 | Awalnya 115, kemudian 130 tuduhan |
| Awal kasus | Ditemukan pemilik baru | Football Leaks |
| Sikap klub | Mengakui pelanggaran | Membantah tuduhan |
| Pelaporan | Melaporkan sendiri kepada UEFA, FA, dan Premier League | Tidak mengakui tuduhan |
| Jenis pelanggaran | Pembayaran tidak masuk pembukuan | Informasi keuangan, sumber pendapatan, kontrak, dan pendanaan |
| Kerja sama | Membantu penyelidikan | Dinyatakan bersalah atas sebagian besar tuduhan non-kooperasi |
| Hukuman | Denda £10 juta | Sanksi belum ditentukan dan City akan mengajukan banding |
Baca Juga: Kasus Manchester City dan Negreira Barcelona, Mengapa Hukumannya Berbeda?














