Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Perusahaan pelayaran asal Denmark, Maersk, menaikkan biaya tambahan bahan bakar darurat atau emergency fuel surcharge (EFS) untuk seluruh pengambilan barang ekspor dan pengiriman barang impor.
Kebijakan tersebut dilakukan di tengah berlanjutnya konflik di Timur Tengah yang meningkatkan risiko terhadap pasokan energi serta aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.
Melansir Reuters, Maersk dalam pernyataannya pada Kamis (8/10/2026) menyebutkan, EFS akan dinaikkan menjadi 20% mulai 12 Oktober 2026.
Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup Turun 1,42%: Investor Tahan Diri
Perusahaan juga akan terus mengevaluasi besaran biaya tambahan tersebut secara berkala.
Kenaikan biaya tambahan ini terjadi ketika harga minyak dunia kembali menguat akibat kekhawatiran terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Risiko tersebut meningkat seiring bertambahnya serangan terhadap kapal di kawasan Teluk dan Selat Hormuz.
Selain gangguan terhadap jalur pelayaran, produksi minyak Amerika Serikat juga mengalami penurunan karena ancaman badai terhadap aktivitas produksi lepas pantai.
Bagi industri pelayaran, kenaikan harga bahan bakar dan meningkatnya risiko operasional dapat mendorong kenaikan biaya transportasi.
Baca Juga: Vietnam Ungkap Negosiasi Kesepakatan Dagang dengan AS Hampir Rampung
Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap biaya logistik, terutama jika gangguan di jalur perdagangan utama Timur Tengah berlangsung lebih lama.
Maersk menyatakan akan meninjau kembali besaran EFS secara berkala sesuai perkembangan kondisi pasar dan situasi di kawasan.














