Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Boeing memenangkan kontrak senilai US$20 miliar untuk mengembangkan jet tempur siluman generasi berikutnya milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS).
Departemen Pertahanan AS atau Pentagon pada Selasa (29/9/2026) mengatakan, Boeing terpilih mengalahkan Northrop Grumman dalam kontrak pengembangan tersebut. Kontrak awal mencakup pembuatan pesawat untuk kebutuhan pengujian.
Melansir Reuters, nilai program ini berpotensi membengkak hingga ratusan miliar dolar AS sepanjang masa pengembangannya seiring peningkatan produksi dan kemungkinan adanya pesanan dari negara lain.
Baca Juga: Dolar AS Menguat 2,5% terhadap Euro pada September, Terkuat 14 Bulan
Kemenangan tersebut menjadi kontrak besar kedua Boeing untuk jet tempur generasi keenam dalam dua tahun berturut-turut.
Pada Maret 2025, Boeing juga terpilih untuk mengembangkan jet tempur siluman F-47 bagi Angkatan Udara AS.
Boeing dinilai memiliki keunggulan dalam kompetisi karena pengalaman panjang memproduksi jet tempur berbasis kapal induk untuk Angkatan Laut AS. Salah satunya adalah F/A-18E/F Super Hornet yang akan digantikan oleh pesawat baru tersebut.
Kemenangan ini sekaligus meredakan kekhawatiran mengenai kemampuan Boeing menyediakan tenaga insinyur dan rantai pemasok untuk mengembangkan F-47 dan jet tempur Angkatan Laut secara bersamaan.
Saham Boeing naik 2,25% dalam perdagangan setelah penutupan bursa AS pada Selasa. Sebaliknya, saham Northrop Grumman turun 3,5%.
Baca Juga: Bursa Australia Naik Tipis Rabu (30/9), Menanti Data Inflasi dan Arah Suku Bunga
Dorong produksi Boeing di St. Louis
Kontrak tersebut menjadi dorongan bagi operasi produksi jet tempur Boeing di St. Louis, Missouri. Fasilitas tersebut tengah bersiap menghentikan produksi F/A-18E/F Super Hornet dan EA-18G Growler.
Presiden dan CEO Boeing Defense, Space & Security Steve Parker mengatakan, perusahaan telah melakukan investasi untuk membangun fasilitas yang dapat digunakan memproduksi berbagai produk dengan teknologi generasi terbaru.
"Sistem produksi dan tim kami yang berdedikasi siap menjalankan program penting ini," ujar Parker dalam pernyataan perusahaan.
Program yang saat ini dikenal sebagai F/A-XX tersebut akan menjadi bagian utama dari sistem Next Generation Air Dominance milik Angkatan Laut AS.
Michael Duffey, pejabat Pentagon yang bertanggung jawab atas pengadaan senjata, menyebut program tersebut sebagai investasi penting bagi keamanan nasional AS dan kemampuan tempur udara jangka panjang.
Sebelum mendapatkan kontrak F-47 dan F/A-XX, Boeing dinilai telah banyak mengurangi aktivitasnya dalam bisnis pesawat tempur.
Jeremiah Gertler, pakar kedirgantaraan dari Center for Strategic and International Studies, mengatakan masih terdapat pertanyaan mengenai sejauh mana pengembangan F-47 akan berkaitan dengan F/A-XX.
"Yang belum kita ketahui adalah seberapa banyak DNA F-47 yang terdapat dalam F/A-XX. Apakah keduanya dikembangkan bersama atau secara terpisah?" ujar Gertler.
Baca Juga: Harga Emas Turun Hampir 6% September, Investor Pantau Inflasi AS
Sempat tertunda
Program jet tempur generasi berikutnya tersebut sebelumnya menghadapi sejumlah penundaan dan perdebatan mengenai pendanaan.
Pentagon sempat berupaya menunda kontrak hingga tiga tahun karena kekhawatiran kapasitas engineering dan rantai pasok industri pertahanan AS tidak cukup untuk mengembangkan dua jet tempur generasi keenam secara bersamaan.
Namun, Kongres AS kemudian mempertahankan pendanaan program tersebut. Kongres mengalokasikan US$750 juta melalui undang-undang pemotongan pajak dan belanja 2025, serta tambahan US$1,4 miliar untuk tahun fiskal 2026.
Lockheed Martin tersingkir dari kompetisi pada Maret 2025 setelah Angkatan Laut AS menilai desain perusahaan tersebut tidak memenuhi kriteria yang dipersyaratkan. Kompetisi kemudian menyisakan Boeing dan Northrop Grumman sebagai dua finalis.
Pengembangan F/A-XX juga menjadi perhatian seiring China mempercepat pengembangan pesawat tempur canggih, termasuk desain yang disebut Beijing sebagai pesawat generasi keenam.
Baca Juga: China Peringatkan Uni Eropa, Siap Balas Jika Perdagangan Dibatasi
Jet tempur baru tersebut diperkirakan memiliki kemampuan siluman yang lebih canggih, jangkauan dan daya tahan terbang yang lebih jauh, serta kemampuan terintegrasi dengan pesawat tempur tanpa awak dan sistem pertahanan udara berbasis kapal induk.
Angkatan Laut AS tetap berencana membeli lebih dari 270 unit Lockheed Martin F-35C untuk armada kapal induknya. Pesawat tersebut nantinya akan beroperasi bersama F/A-XX setelah mulai digunakan.
Produksi awal F/A-XX diperkirakan dimulai pada dekade 2030-an. Sementara itu, armada F/A-18E/F Super Hornet yang telah beroperasi sejak 1990-an diperkirakan tetap digunakan hingga dekade 2040-an.














