kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 18.058   24,00   0,13%
  • IDX 4.992   -193,04   -3,72%
  • KOMPAS100 631   -27,37   -4,16%
  • LQ45 488   -20,60   -4,05%
  • ISSI 173   -6,90   -3,85%
  • IDX30 273   -10,78   -3,80%
  • IDXHIDIV20 357   -9,13   -2,49%
  • IDX80 72   -3,06   -4,05%
  • IDXV30 101   -1,47   -1,44%
  • IDXQ30 90   -3,28   -3,52%

China Hadapi Krisis Demografi, Beijing Diprediksi Jadi Kota Super-Tua pada 2035


Senin, 19 Oktober 2026 / 14:50 WIB
China Hadapi Krisis Demografi, Beijing Diprediksi Jadi Kota Super-Tua pada 2035
ILUSTRASI. Beijing diprediksi menjadi kota super-tua pada 2035, saat sepertiga penduduknya berusia 60 tahun ke atas di tengah penurunan populasi China. (DOK/Wikipedia.org)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - BEIJIN. Ibu kota China, Beijing, diperkirakan memasuki kategori kota dengan populasi sangat menua (super-aged) pada 2035. Pada periode tersebut, sekitar sepertiga penduduk Beijing diproyeksikan berusia 60 tahun ke atas, mencerminkan tantangan demografi yang semakin besar bagi perekonomian China.

Mengutip laporan media resmi Beijing Daily pada Sabtu (17/10/2026), Beijing telah memiliki 5,29 juta penduduk tetap berusia 60 tahun ke atas pada akhir tahun lalu. Jumlah tersebut setara dengan hampir seperempat dari total populasi kota itu.

Pemerintah Beijing pun meningkatkan dukungan bagi penduduk lanjut usia. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menaikkan pensiun dasar untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang memasuki usia nonproduktif.

Penuaan penduduk menjadi tantangan serius bagi China, yang telah mengalami penurunan jumlah populasi sejak 2022. Perubahan demografi ini berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi, terutama ketika pemerintah berupaya meningkatkan konsumsi domestik sekaligus mengendalikan utang.

Baca Juga: Putin Setujui Perombakan Kabinet Rusia Usai Pemilu Parlemen

Biaya Dorong Kelahiran Capai Puluhan Miliar Dolar AS

Di tengah penurunan populasi dan rendahnya angka kelahiran, pemerintah China menjadikan kebijakan kependudukan sebagai salah satu bagian penting dari strategi ekonomi nasional.

Berdasarkan perkiraan Reuters, total potensi biaya yang harus ditanggung pemerintah China untuk mendorong angka kelahiran pada 2026 mencapai sekitar 180 miliar yuan atau setara US$ 26,92 miliar.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadapi dampak jangka panjang penurunan angka kelahiran dan meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia.

Persoalan ini semakin kompleks karena ratusan juta penduduk China diperkirakan akan meninggalkan angkatan kerja. Pada saat yang sama, anggaran pensiun pemerintah telah menghadapi tekanan seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat.

Kondisi tersebut berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah, terutama jika kebutuhan belanja untuk pensiun dan layanan bagi penduduk lanjut usia terus meningkat.

Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis Jelang Tengah Hari Ini, Ditopang Harga Minyak yang Tergelincir

Populasi Menua Berpotensi Menekan Konsumsi Domestik

Dampak penuaan penduduk tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan layanan kesehatan dan jaminan sosial, tetapi juga dapat memengaruhi pola konsumsi masyarakat dalam jangka panjang.

Sejumlah demografer dan ekonom menilai penurunan jumlah anak saat ini dapat menyebabkan berkurangnya jumlah rumah tangga pada masa mendatang. Kondisi tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan konsumsi, yang menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga momentum perekonomian China.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×