kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Default, perekonomian Argentina diambang krisis


Kamis, 31 Juli 2014 / 16:49 WIB
Default, perekonomian Argentina diambang krisis
ILUSTRASI. Pelayanan calon nasabah di Gerai Kredit Plus. KONTAN/Baihaki/3/11/2010


Sumber: Bloomberg | Editor: Yudho Winarto

BUENOS AIRES. Situasi perekonomian Argentina kian terpuruk. Pasalnya, negeri pesebakbola Messi ini gagal meraih pinjaman sebesar US$1,5 triliun. 

Alhasil, pemerintah Argentina tidak bisa melakukan pembayaran atas bunga utangnya (default) senilai 539 miliar dollar AS kepada para kreditor, setelah pembicaraan antara Menteri Ekonomi Argentina Axel Kicillof dengan para pemberi pinjaman yang diwakili Elliott Management Corp gagal menghasilkan kesepakatan atas kewajiban tersebut

Atas buntutnya negoisasi ini yang berlangsung selama dua hari di New York, Axel Kicillof memilih untuk kembali ke Buenos Aires tanpa rencana apa pun. Axe Kicillof menyebut para kreditur sebagai burung bangkai.  Ini kali kedua negara tersebut mengalami gagal bayar dalam 13 tahun terakhir.

Sementara itu, sekelompok bank Argentina mencoba untuk mencegah krisis dengan membeli surat berharga dari Elliot. "Kami pikir, hal itu (pembelian surat utang oleh bank-bank Argentina) merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan permasalahan dan mencari solusi," ujar analis Bank of America, Jane Brauer seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (31/7).

Asal tahu saja, Argentina sejauh ini memiliki utang sebesar 29 miliar dollar AS dalam bentuk surat utang valas. Dari jumlah itu, sekitar 25% kreditur menginginkan agar uangnya kembali. Namun demikian, Argentina tak memiliki dana yang memadai, lantaran devisa yang dimiliki berada di titik terendah dalam 8 tahun terakhir. 




TERBARU

[X]
×