Reporter: Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia
KONTAN.CO.ID - Hubungan ekonomi China dan negara-negara ASEAN diperkirakan akan semakin terintegrasi dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Arus investasi dan perdagangan tidak lagi hanya bergerak dari China menuju Asia Tenggara, tetapi mulai membentuk hubungan yang lebih dua arah.
Namun, perkembangan tersebut juga membawa tantangan. Sejumlah pembicara dalam diskusi mengenai hubungan China-ASEAN menyoroti tekanan dari kelebihan kapasitas industri China, meningkatnya persaingan dengan perusahaan domestik di Asia Tenggara, perubahan pekerjaan akibat perkembangan teknologi, hingga ketidakpastian geopolitik di kawasan.
Visiting Senior Fellow ISEAS-Yusof Ishak Institute, Stephen Olson, mengatakan salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kelebihan kapasitas industri China semakin mengalir ke pasar Asia Tenggara.
Menurut dia, ketika pasar Amerika Serikat tidak lagi menyerap produk China dalam skala seperti sebelumnya, sebagian kapasitas produksi tersebut berpotensi mencari pasar lain, termasuk di Asia Tenggara.
“Masalah sebenarnya yang perlu dikhawatirkan adalah penetrasi ekspor dan kelebihan kapasitas industri yang dihasilkan di China,” ujar Olson dalam Future China Global Forum (FCGF) 2026.
Menurut Olson, masuknya produk dengan keunggulan harga yang besar dapat memberikan tekanan terhadap perusahaan domestik di negara-negara ASEAN. Dalam jangka panjang, tekanan tersebut berpotensi menimbulkan persoalan politik dan ekonomi apabila semakin banyak industri lokal kehilangan daya saing.
Karena itu, menurut Olson, pemerintah negara-negara Asia Tenggara perlu semakin selektif dalam menentukan investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) yang masuk, sekaligus mempertimbangkan dampaknya terhadap perekonomian domestik.
Di sisi lain, Regional CEO Northeast Asia PSA Group Lim Chin Chuan melihat hubungan China-ASEAN juga akan dibentuk oleh perkembangan teknologi, khususnya artificial intelligence (AI), serta perubahan struktur pekerjaan.
Menurut dia, AI dan perubahan pekerjaan merupakan dua faktor yang masih sulit diprediksi, tetapi berpotensi menentukan bagaimana hubungan ekonomi antarnegara berkembang ke depan.
Perubahan tersebut juga akan memengaruhi jenis barang dan teknologi yang diperdagangkan. Jika sebelumnya hubungan ekonomi banyak terlihat melalui perdagangan peralatan dan produk manufaktur, ke depan teknologi seperti model AI dapat menjadi bagian yang semakin penting dalam hubungan ekonomi China dengan negara-negara di kawasan.
Sementara itu, Head of Greater China and CEO OCBC Hong Kong Wang Ke melihat peluang hubungan ekonomi yang semakin dua arah. Dalam tiga hingga lima tahun mendatang, ia memperkirakan perkembangan industri di Asia Tenggara akan mendorong peningkatan ekspor produk dan komponen dari kawasan tersebut ke China.
Artinya, hubungan ekonomi tidak hanya berupa investasi perusahaan China di Asia Tenggara. Perusahaan dari negara-negara ASEAN juga berpotensi meningkatkan investasi dan aktivitas bisnisnya di China.
Wang mencontohkan semakin banyak perusahaan dari Singapura, Malaysia, dan Indonesia yang melihat Hong Kong sebagai salah satu pintu masuk untuk mengakses pasar modal dan peluang investasi China. Salah satunya lewat menggelar initial public offering (IPO) di Hong Kong.
“China akan membeli lebih banyak dari Asia Tenggara, dan kita juga akan melihat lebih banyak perkembangan investasi dari Asia Tenggara ke China,” kata Wang.
CEO AMATA Corporation PCL Vikrom Kromadit juga melihat perpindahan investasi dan aktivitas bisnis China ke Asia Tenggara sebagai sebuah tren yang akan terus berlangsung. Menurut dia, perkembangan tersebut merupakan bagian dari proses transformasi ekonomi China, sebagaimana sebelumnya terjadi di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan ketika basis industri negara-negara tersebut berkembang.
Thailand, menurut Vikrom, menjadi salah satu tujuan penting bagi perusahaan China yang melakukan ekspansi ke Asia Tenggara.
Namun, Vikrom mengingatkan bahwa stabilitas geopolitik tetap menjadi faktor penting. Ia menyoroti meningkatnya ketegangan hubungan China-Jepang dan implikasinya terhadap stabilitas kawasan Asia Tenggara.
Kekhawatiran tersebut terkait dengan kemungkinan bahwa persaingan antara kekuatan besar dapat memengaruhi stabilitas yang selama ini menjadi salah satu fondasi pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara.
Olson sependapat bahwa perdagangan dan investasi membutuhkan stabilitas serta prediktabilitas. Konflik geopolitik atau meningkatnya ketegangan yang mengurangi kepastian dapat dengan cepat memberikan dampak terhadap aktivitas bisnis.
Meski demikian, Lim melihat perkembangan hubungan ekonomi China dan Asia Tenggara masih memiliki ruang yang besar untuk berlanjut. Selama kepentingan ekonomi kedua pihak tetap terjaga, hubungan tersebut dapat terus berkembang.
Pandangan serupa disampaikan Jane Sun, CEO, Trip.com Group. Dia melihat hubungan antarpemerintah dan masyarakat di kawasan sejauh ini tetap terjaga, sehingga hubungan antarnegara Asia masih memiliki dasar untuk berkembang.
Dengan demikian, dalam tiga hingga lima tahun mendatang, hubungan China-ASEAN kemungkinan akan semakin kompleks. Integrasi ekonomi akan semakin dalam, ditandai oleh investasi, perdagangan, rantai pasok, dan teknologi yang semakin terhubung. "Saya sangat optimistis dengan hubungan antara negara-negara di Asia.














