Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - BRASILIA. Pemilihan presiden Brasil memasuki fase krusial dengan hasil awal menunjukkan persaingan ketat antara Presiden Luiz Inacio Lula da Silva dan Senator Flavio Bolsonaro.
Pemilu ini berlangsung di tengah kekhawatiran terhadap ekonomi, utang publik, kriminalitas, serta skandal korupsi yang membayangi pemerintahan dan elite politik.
Sebanyak 13 kandidat bersaing dalam putaran pertama. Jika tidak ada kandidat yang meraih lebih dari 50% suara sah, dua peraih suara terbanyak akan kembali bertarung pada putaran kedua yang dijadwalkan 25 Oktober.
Mengutip Reuters, hasil awal pada Minggu (4/10/2026) menunjukkan Flavio, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, sempat memimpin Lula. Dengan sekitar 2,4% suara masuk, Flavio meraih 49,45%, sementara Lula memperoleh 41,97%.
Baca Juga: Jelang Pilpres Brasil, Flavio Bolsonaro dan Lula Sama Kuat
Sejumlah survei menjelang pemungutan suara menunjukkan Lula berpeluang memimpin putaran pertama, tetapi belum cukup kuat untuk menghindari putaran kedua. Dalam skenario tersebut, elektabilitas Lula dan Flavio disebut relatif berimbang.
Flavio berusaha memanfaatkan kekecewaan pemilih terhadap Lula dan mengandalkan suara protes untuk memperbesar peluangnya menang.
Sementara itu, Lula berupaya mempertahankan dukungan dengan menawarkan kebijakan bantuan sosial dan keringanan utang rumah tangga.
Pemilu kali ini tidak hanya menentukan presiden, tetapi juga arah politik Brasil. Pemilih turut menentukan 513 anggota majelis rendah serta dua pertiga kursi Senat.
Posisi parlemen menjadi penting karena Kongres memiliki pengaruh yang semakin besar dalam politik Brasil sejak pemakzulan mantan Presiden Dilma Rousseff pada 2016.
Beban ekonomi dan fiskal
Persaingan berlangsung ketika pemerintah Brasil menghadapi tekanan ekonomi. Meski ketimpangan dan pengangguran menurun, biaya hidup yang tinggi, beban utang rumah tangga, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kriminalitas menjadi persoalan utama pemilih.
Di sisi fiskal, belanja pemerintah yang meningkat telah mendorong utang publik Brasil di atas 82% dari produk domestik bruto (PDB). Pemerintah juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 2% tahun ini dan 2,3% pada tahun depan.
Kondisi tersebut membuat pemerintahan berikutnya menghadapi tantangan menjaga pertumbuhan sekaligus mengendalikan kondisi keuangan negara.
Baca Juga: Brasil Kembali Turunkan Suku Bunga 25 Bps, Inflasi Melandai Jadi Pertimbangan
Flavio mengangkat persoalan biaya hidup dalam kampanyenya. Sementara Lula menawarkan perluasan bantuan sosial, pelarangan judi daring, serta program keringanan utang bagi keluarga.
Selain ekonomi, skandal perbankan turut menjadi isu besar dalam pemilu. Kasus yang melibatkan Banco Master menyeret sejumlah tokoh politik dan kembali memicu kemarahan publik terhadap korupsi.
Daniel Vorcaro, mantan pengelola bank tersebut, ditangkap dan dituduh terlibat dalam dugaan penipuan bernilai miliaran dolar. Penyelidikan juga menelusuri hubungan Vorcaro dengan sejumlah tokoh, termasuk Hakim Mahkamah Agung Alexandre de Moraes dan Flavio Bolsonaro.
Flavio membantah melakukan pelanggaran. Namun, ia mengakui pernah menerima jutaan dolar dari Vorcaro untuk membiayai pembuatan film mengenai ayahnya.
Kasus tersebut juga menyeret Mahkamah Agung Brasil ke dalam polemik politik. Moraes menilai kasus terhadap dirinya bermotif politik, terutama karena perannya dalam proses hukum terhadap Jair Bolsonaro.
Isu campur tangan asing
Pemilu Brasil juga diwarnai kekhawatiran mengenai campur tangan asing. Pendukung Lula menuding pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi tidak menerima hasil pemilu jika Lula kembali menang.
Trump sendiri belum secara resmi mendukung kandidat tertentu. Namun, ia pernah menerima Flavio Bolsonaro di Gedung Putih dan memberikan pujian secara terbuka.
Baca Juga: Brasil Tolak Visa Dua Pejabat AS Jelang Pemilu Presiden
Otoritas pemilu Brasil menyatakan proses pemungutan suara berlangsung normal dan belum menemukan risiko terkait campur tangan internasional.
Hasil akhir putaran pertama akan menentukan apakah Lula dan Flavio harus kembali berhadapan pada 25 Oktober.
Jika demikian, persaingan akan semakin menentukan arah kebijakan ekonomi, fiskal, dan hubungan luar negeri Brasil dalam lima tahun mendatang.














