Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. FTSE Russell mengusulkan perubahan metodologi indeks saham Amerika Serikat, Russell US Style Index, yang mengelompokkan saham berdasarkan karakteristik pertumbuhan (growth) dan nilai (value).
Pada 19 Oktober 2026, FTSE Russell mengumumkan dua proposal. Di mana, konsultasi pasar atas usulan perubahan metodologi indeks tersebut dibuka hingga 11 Desember 2026.
Proposal pertama mengusulkan penambahan rasio penjualan terhadap harga saham (sales-to-price) sebagai variabel pelengkap penilaian saham value. Sementara itu, proposal kedua menyasar kerangka pembobotan saham growth dan value.
Baca Juga: IHSG Rebound & Kembali ke 5.100 Pagi Ini (20/10), Top Gainers LQ45: TLKM, SCMA, EMTK
Selama ini, metodologi FTSE Russell mengklasifikasikan saham berdasarkan rasio harga terhadap nilai buku (book-to-price), proyeksi pertumbuhan, dan pertumbuhan penjualan historis.
Ketiga indikator tersebut digabungkan menjadi skor komposit berbobot kapitalisasi pasar. Skor ini kemudian diterjemahkan menjadi probabilitas kategori value dan growth.
Bobot konstituen disesuaikan untuk mempertahankan pembagian keseluruhan sebesar 50% saham growth dan 50% saham value. Namun, FTSE Russell menilai metodologi tersebut perlu ditinjau mengikuti perkembangan pasar.
Dalam pengumumannya,FTSE Russell menilai rasio book-to-price berpotensi memberikan pengaruh terlalu besar terhadap klasifikasi saham. Selain itu, konsentrasi kapitalisasi pasar pada segelintir perusahaan besar dapat mendistorsi pengelompokan saham.
Dalam proposal pertama, FTSE Russell tetap mempertahankan rasio book-to-price sebagai komponen utama penilaian saham value. Indikator tersebut dinilai stabil, mapan, dan diterima secara luas.
Namun, semakin besarnya nilai ekonomi perusahaan yang berasal dari aset tak berwujud mendorong kebutuhan memperluas indikator penilaian. FTSE Russell pun mengusulkan penambahan rasio sales-to-price.
Menurut penyedia indeks global itu, rasio sales-to-price menawarkan keseimbangan terbaik untuk membedakan karakteristik saham. Penilaian tersebut mencakup cakupan data, stabilitas, penerapan global, dan perputaran transaksi.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp 18.045 Per Dolar AS Hari Ini (20/10), Asia Naik
FTSE Russell juga mempertimbangkan representasi pengelola investasi aktif dalam metodologi tersebut. Variabel lain yang diuji dinilai hanya memberikan manfaat tambahan terbatas dibandingkan peningkatan kompleksitas dan perputaran transaksi.
Proposal kedua menyasar pembagian bobot saham growth dan value yang selama ini dirancang sebesar 50:50. FTSE Russell menilai pembagian yang kaku dapat memengaruhi klasifikasi saham tertentu.
Perusahaan dengan karakteristik pertumbuhan berpotensi diklasifikasikan sebagai saham value demi memenuhi batas agregat kapitalisasi pasar. Kondisi ini menjadi perhatian ketika pasar didominasi sejumlah kecil perusahaan besar.
FTSE Russell menyebut sejumlah kecil perusahaan berkapitalisasi pasar sangat besar dengan karakteristik growth memiliki porsi signifikan dalam indeks Russell 1000. Konsentrasi tersebut dapat memengaruhi pembagian bobot indeks.
Untuk mengatasi persoalan itu, FTSE Russell mengusulkan penerapan metodologi Diversification Factor dalam kerangka pembobotan saham growth dan value. Pendekatan tersebut memungkinkan pembagian bobot bergerak melampaui komposisi 50:50.
Meski demikian, penyimpangan dari pembagian 50:50 tersebut dibatasi hingga maksimal komposisi 60:40. FTSE Russell menilai perubahan ini dapat mengurangi dampak konsentrasi kapitalisasi pasar perusahaan besar.
Dengan metodologi baru tersebut, perusahaan yang secara tradisional dikategorikan sebagai growth diharapkan tidak terlalu terpengaruh oleh dominasi perusahaan berkapitalisasi pasar sangat besar.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (20/10): Turun Rp 10.000 Jadi Rp 2.564.000 Per Gram














