Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Saham Glencore memulai perdagangan di Australian Securities Exchange (ASX) pada Rabu (14/10/2026) dengan harga lebih tinggi dibandingkan penutupan di Bursa London.
Langkah pencatatan ini menjadi upaya perusahaan pertambangan dan perdagangan komoditas tersebut untuk menarik minat investor Australia yang ingin meningkatkan eksposur terhadap tembaga.
Melansir Reuters, Chief Executive Officer Glencore Gary Nagle berharap saham perusahaan mendapat sambutan positif dari investor Australia.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Rabu (14/10), Konflik Houthi-Arab Saudi Picu Kekhawatiran
Menurut dia, meningkatnya kebutuhan tembaga untuk elektrifikasi, perluasan jaringan listrik, transportasi, hingga pusat data kecerdasan buatan (AI) menjadi daya tarik bagi pasar.
“Glencore telah berinvestasi di Australia selama beberapa dekade dan kami memahami bahwa komunitas investasi Australia memiliki pemahaman yang mendalam mengenai sumber daya global dan pasar komoditas,” kata Nagle dalam pernyataan pada Rabu.
Glencore mencatatkan CHESS Depositary Interests (CDI), instrumen yang mewakili kepemilikan saham perusahaan asing dan diperdagangkan di Australia, dengan harga pembukaan A$ 11,44 atau setara US$ 7,99 per unit.
Harga tersebut setara dengan 603 pence per saham, lebih tinggi dibandingkan penutupan saham Glencore di London pada Selasa (13/10/2026) sebesar 582,90 pence.
Perusahaan yang berbasis di Swiss tersebut kini diperdagangkan di pasar yang juga menjadi rumah bagi sejumlah perusahaan tambang besar, seperti BHP Group, Rio Tinto, dan Fortescue.
Baca Juga: Dolar AS Mundur dari Level Tertinggi 18 Bulan Rabu (14/10), Menanti Data Inflasi
Ketiga saham perusahaan tersebut tercatat bergerak melemah pada awal perdagangan Rabu.
Selain di London dan Australia, Glencore juga memiliki pencatatan sekunder di Johannesburg.
Nagle sebelumnya menyampaikan keyakinannya bahwa Glencore, yang memiliki nilai pasar sekitar US$ 88 miliar, dapat masuk ke indeks acuan S&P/ASX 200 dalam waktu 12 bulan.
Namun, sejumlah analis menilai momentum saham perusahaan berpotensi mendorong masuknya Glencore ke indeks utama Australia tersebut dalam waktu lebih singkat.
Paul Schroder, mitra di firma hukum Mallesons, menilai kehadiran Glencore menjadi tambahan signifikan bagi pasar modal Australia, terutama di tengah aktivitas pencatatan saham baru yang relatif lesu.
“Tidak setiap hari perusahaan sebesar Glencore bergabung dengan ASX, khususnya pada periode ketika aktivitas pencatatan saham sedang lesu,” ujar Schroder.
Ia menambahkan, pencatatan tersebut memperkuat posisi ASX sebagai salah satu bursa utama untuk perusahaan berbasis sumber daya alam.
Baca Juga: Bank Sentral Singapura Tahan Kebijakan Moneter, Kejutkan Analis
Buka peluang aksi korporasi
Pencatatan di Australia juga memunculkan spekulasi mengenai peluang transaksi akuisisi dan konsolidasi di sektor pertambangan. Langkah ini dinilai dapat membantu Glencore membangun kedekatan dengan investor lokal yang sebelumnya belum melihat nilai dari pendekatan perusahaan kepada Rio Tinto pada tahun lalu.
Rio Tinto menghentikan pembicaraan pengambilalihan dengan Glencore pada Februari 2026, mengakhiri negosiasi selama beberapa bulan mengenai potensi penggabungan senilai US$ 240 miliar. Jika terealisasi, transaksi tersebut akan mengubah peta industri pertambangan global.
Nagle mengatakan pekan lalu bahwa penguatan kehadiran Glencore di Australia dapat membuka peluang bisnis baru.
Di negara tersebut, Glencore memproduksi sejumlah komoditas, termasuk batubara, tembaga, seng, timbal, dan nikel. Meski demikian, perusahaan belum memiliki daftar target akuisisi tertentu.
Analis JPMorgan menyebut manajemen Glencore masih melihat manfaat dari kemungkinan kombinasi bisnis dengan Rio Tinto.
Baca Juga: F1 Umumkan Grand Prix Rwanda, Amnesty International Soroti Pelanggaran HAM
Dalam laporan setelah pertemuan dengan Nagle pada Jumat, mereka juga mencatat saham Glencore telah mengungguli saham Rio Tinto sekitar 10% sejak negosiasi kedua perusahaan berakhir pada Februari.
“Aksi merger dan akuisisi dipandang sebagai bagian dari strategi pertumbuhan, dan disebutkan bahwa ‘siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada masa depan’,” tulis analis JPMorgan dalam laporan tersebut.
Dengan pencatatan di Australia, Glencore berupaya memperluas basis investornya di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap tembaga.
Di saat yang sama, peluang konsolidasi tetap menjadi salah satu faktor yang dicermati investor terhadap prospek pertumbuhan perusahaan.













