Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA – Perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mengubah pola pembelian bahan bakar kapal atau bunker fuel di pasar global. Perusahaan pelayaran kini lebih banyak melakukan pembelian di pasar spot dan menggunakan kontrak berjangka pendek untuk menghadapi gejolak harga sekaligus mencari alternatif lokasi pengisian bahan bakar.
Sejumlah eksekutif industri menyampaikan perubahan tersebut seiring meningkatnya ketidakpastian pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah. Perusahaan pelayaran juga mulai memperluas pilihan pelabuhan pengisian bahan bakar guna menjaga keamanan pasokan ketika jalur pelayaran utama terganggu.
Data dari pedagang bahan bakar kapal menunjukkan, lebih dari tujuh bulan sejak konflik dengan Iran dimulai, harga bahan bakar laut masih berada jauh di atas level sebelum perang, dengan kenaikan lebih dari 70%.
Pengalihan rute dan perubahan jalur pelayaran akibat blokade di sejumlah jalur perairan strategis di Timur Tengah turut mendorong perusahaan pelayaran mendiversifikasi lokasi pengisian bahan bakar. Kondisi ini membuat mereka semakin enggan terikat kontrak jangka panjang di satu pelabuhan tertentu.
Baca Juga: Bursa Asia Rebound, IHSG Anjlok 11% Setelah MSCI Soroti Status Pasar Indonesia
Kepala Eksekutif Seascale Energy sekaligus Kepala Bunkering di perusahaan tanker Hafnia, Peter Grunwaldt, mengatakan frekuensi pembelian bahan bakar di pasar spot meningkat di tengah volatilitas harga.
"Frekuensi pengisian bahan bakar melalui pembelian spot semakin tinggi karena banyak pemilik kapal hanya akan membeli bahan bakar dalam jumlah minimum untuk mencapai pelabuhan berikutnya jika harga pasar melonjak," kata Grunwaldt di sela-sela konferensi Singapore International Bunkering.
Pembelian spot memberikan fleksibilitas lebih besar bagi pemilik kapal karena keputusan pembelian dapat disesuaikan dengan harga harian. Sebaliknya, kontrak jangka panjang mengharuskan pembeli mengambil volume bahan bakar sesuai kesepakatan, terlepas dari perubahan harga pasar.
Chief Operating Officer Bunker Holding, Mikkel Kannegaard, mengatakan tingginya harga bahan bakar membuat perusahaan pelayaran lebih berhati-hati dalam menentukan komitmen pembelian jangka panjang.
"Saat harga berada di level tinggi, muncul pertimbangan bahwa jika harga turun besok, Anda tentu tidak ingin terlalu terekspos terhadap risiko tersebut," ujar Kannegaard.
Dia mengatakan, tren penggunaan kontrak jangka panjang kini semakin berkurang. Menurutnya, perdagangan bahan bakar kapal juga menjadi lebih kompleks karena pasar semakin terfragmentasi.
Choong Zhen Mao, Direktur Eksekutif Equatorial Marine Fuel yang berbasis di Singapura, mengatakan durasi kontrak pembelian bahan bakar kapal kini semakin pendek.
Sebelum perang, kontrak pembelian umumnya dapat berlangsung selama enam bulan hingga satu tahun. Namun, saat ini durasinya menyusut menjadi hanya tiga bulan atau bahkan satu bulan.
Baca Juga: Penjualan Mobil Listrik Global Turun 2% pada September 2026, China dan AS Melemah
Perusahaan Pelayaran Cari Pelabuhan Alternatif
Selain mengurangi volume pembelian dalam setiap transaksi, perusahaan pelayaran juga mulai mencari lokasi alternatif untuk memperoleh pasokan bahan bakar kapal.
Langkah ini dilakukan ketika situasi keamanan di sekitar Pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA), semakin memburuk. Fujairah sebelumnya merupakan salah satu pusat utama pemasok bahan bakar kapal.
Grunwaldt mengatakan, pola pengisian bahan bakar tradisional di kawasan Teluk Arab mengalami perubahan besar akibat konflik tersebut.
"Di sekitar Teluk Arab, khususnya, pola pengisian bahan bakar tradisional sedang mengalami perubahan besar," ujarnya.
Dia menambahkan, pengalihan aktivitas dari Fujairah telah mendorong peningkatan permintaan di pelabuhan-pelabuhan sekitarnya. Akibatnya, perusahaan kini melakukan pengisian bahan bakar di lebih banyak pelabuhan dibandingkan sebelumnya.
"Pelabuhan yang sebelumnya hanya digunakan sesekali, seperti Port Louis, Colombo, dan Salalah, kini lebih sering digunakan," kata Grunwaldt.
Port Louis berada di Mauritius, Colombo di Sri Lanka, sedangkan Salalah terletak di Oman. Ketiganya menjadi alternatif bagi perusahaan pelayaran yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap lokasi pengisian bahan bakar tradisional di kawasan Timur Tengah.
Kannegaard dari Bunker Holding juga melihat peningkatan permintaan bahan bakar kapal dari kawasan Afrika dan Asia Selatan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa gangguan pasokan di Timur Tengah mendorong aktivitas perdagangan dan pengisian bahan bakar menyebar ke wilayah lain.
Baca Juga: KFC Tinggalkan PepsiCo Setelah 40 Tahun, Gandeng Coca-Cola pada 2027
Vitol Mulai Pasok Bahan Bakar dari Pakistan
Perusahaan perdagangan energi Vitol turut menyesuaikan strategi pasokannya untuk menghadapi gangguan di Timur Tengah.
Pada Juli 2026, Vitol mulai menyediakan layanan pengisian bahan bakar kapal di Pelabuhan Gwadar, Pakistan. Lokasi tersebut berada di luar Selat Hormuz dan dapat digunakan untuk melayani pelanggan yang beroperasi di kawasan Teluk.
Kepala Vitol Asia, Kieran Gallagher, mengatakan diversifikasi sumber pasokan menjadi langkah penting untuk menghadapi gangguan saat ini sekaligus memperkuat ketahanan bisnis dalam jangka panjang.
"Diversifikasi sangat penting, baik untuk mengelola gangguan saat ini maupun membangun ketahanan jangka panjang," kata Gallagher.
Dalam jangka pendek, menurut dia, langkah tersebut berarti memperluas sumber pasokan secara geografis dan mengembangkan rute perdagangan baru untuk bahan bakar konvensional.














