kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.988   -10,00   -0,06%
  • IDX 6.122   -26,16   -0,43%
  • KOMPAS100 793   -5,23   -0,65%
  • LQ45 608   -3,65   -0,60%
  • ISSI 212   -0,09   -0,04%
  • IDX30 337   -1,94   -0,57%
  • IDXHIDIV20 427   -0,46   -0,11%
  • IDX80 91   -0,65   -0,71%
  • IDXV30 115   -0,40   -0,35%
  • IDXQ30 110   -0,10   -0,09%

Harga Emas Spot Rebound 1%, tetapi Masih Dibayangi Suku Bunga The Fed


Rabu, 30 September 2026 / 05:21 WIB
Harga Emas Spot Rebound 1%, tetapi Masih Dibayangi Suku Bunga The Fed
ILUSTRASI. Harga Emas / logam mulia (REUTERS/Siphiwe Sibeko)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga emas kembali menguat pada perdagangan Selasa (29/9/2026), setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh pekan.

Namun, kenaikan harga emas masih terbatas karena ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) kembali menguat.

Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,7% menjadi US$ 4.142,89 per ons troi pada pukul 13.55 waktu AS atau 17.55 GMT. Harga emas sempat menyentuh US$ 4.112,97 per ons troi, sedikit di atas level terendah lebih dari tujuh pekan pada perdagangan sebelumnya di US$ 4.110,55.

Baca Juga: Rekor Sejarah! Gadis Kecil 11 Tahun Ini Jadi Women Grandmaster Catur Termuda

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup naik sekitar 0,3% menjadi US$ 4.179,70 per ons troi.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant mengatakan, penguatan harga emas pada perdagangan Selasa lebih mencerminkan koreksi setelah penurunan tajam pada hari sebelumnya.

“Pergerakan hari ini hanya merupakan koreksi dari kerugian kemarin. Saya masih melihat adanya sejumlah hambatan yang cukup signifikan bagi emas,” ujar Grant.

Pada perdagangan Senin, harga emas anjlok hampir 4%, menjadi penurunan harian terbesar sejak 10 Juni.

Harga emas juga menyentuh level terendah sejak 5 Agustus, tertekan oleh penguatan dolar AS, kenaikan yield US Treasury, harga energi serta kekhawatiran inflasi.

Baca Juga: Manchester City Klaim Punya Bukti Kuat, Siap Lawan Putusan Premier League

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan emas.

Dolar AS menguat dan mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, ditopang volatilitas harga minyak serta kenaikan yield obligasi pemerintah AS.

Dolar yang lebih kuat membuat emas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar AS. Sementara itu, kenaikan yield Treasury meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Kenaikan harga energi juga berpotensi mendorong inflasi sehingga dapat membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk meredam tekanan harga.

“Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih tinggi membuat dolar tetap kuat dan yield masih tinggi. Saya memperkirakan kenaikan harga emas hari ini masih terbatas dan pasar akan fokus pada data inflasi PCE besok serta data tenaga kerja pada Jumat,” kata Grant.

Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sebesar 68%, sedangkan peluang kenaikan pada Desember mencapai 95%, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Baca Juga: Manchester City Bersalah, Premier League Ungkap Pelanggaran Keuangan 9 Musim

Investor kini menunggu sejumlah data ekonomi AS yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed.

Data ketenagakerjaan ADP dan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) akan dirilis pada Rabu, sementara laporan nonfarm payrolls dijadwalkan keluar pada Jumat.

Emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, dalam kondisi suku bunga tinggi, daya tarik emas dapat berkurang karena investor memiliki alternatif aset yang memberikan imbal hasil.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,4% menjadi US$ 60,72 per ons troi. Platinum melemah 1,8% menjadi US$ 1.686,34, sedangkan palladium turun 0,5% menjadi US$ 1.208,24 per ons troi.




TERBARU

[X]
×