Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga emas turun lebih dari 2% pada Senin (28/9/2026) karena kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 2,7% menjadi US$ 4.171,85 per ons pada pukul 06.27 GMT, mencapai level terendah sejak awal Agustus. Kontrak berjangka emas AS turun 2,7% menjadi US$ 4.204,30.
"Kombinasi imbal hasil obligasi yang tinggi dan harga minyak yang tinggi terus menjadi hambatan bagi emas. Harga minyak naik akibat sinyal yang beragam mengenai arus minyak, yang membuat inflasi tetap menjadi perhatian utama bagi para investor," kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.
Baca Juga: China-AS Sepakati Pemangkasan Tarif Barang US$ 60 Miliar, Termasuk Produk Pertanian
Iran menegaskan bahwa hanya diplomasi yang dapat menyelesaikan konfliknya dengan Amerika Serikat dan Israel, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan penolakannya terhadap usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri pertempuran. Harga minyak bergerak naik.
The Fed menaikkan suku bunga awal bulan ini, dengan menaikkan kisaran target suku bunga sebesar seperempat poin persentase menjadi antara 3,75% dan 4%. Para pedagang memperhitungkan adanya peluang sebesar 69% untuk kenaikan suku bunga AS pada bulan Oktober, menurut perangkat FedWatch milik CME.
Harga energi yang lebih tinggi dapat memicu inflasi dengan meningkatkan biaya di seluruh sektor ekonomi. Emas secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, namun lingkungan suku bunga tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil (bunga) ini.
Investor akan memantau serangkaian data pasar tenaga kerja dan inflasi AS minggu ini, termasuk data lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), dan data nonfarm payrolls.
Baca Juga: Bursa Saham China Anjlok, Ada Apa?
"Angka inflasi atau ketenagakerjaan yang lebih tinggi dari perkiraan dapat terus memberikan tekanan kenaikan pada imbal hasil obligasi dan semakin membebani harga emas," ujar Waterer.
Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, pada hari Jumat menyatakan kekhawatirannya bahwa inflasi yang terus tinggi berisiko membuat masyarakat Amerika terbiasa menganggap harga-harga yang tinggi sebagai hal yang wajar; ia menambahkan bahwa bank sentral tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.














