kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.594.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 17.923   5,00   0,03%
  • IDX 5.949   -144,60   -2,37%
  • KOMPAS100 768   -17,35   -2,21%
  • LQ45 592   -9,66   -1,61%
  • ISSI 207   -6,06   -2,84%
  • IDX30 330   -4,31   -1,29%
  • IDXHIDIV20 424   -2,61   -0,61%
  • IDX80 88   -1,88   -2,10%
  • IDXV30 115   -1,10   -0,95%
  • IDXQ30 108   -0,75   -0,69%

Harga Minyak Brent Bertahan di Atas US$ 100 Senin (12/10), Ini Pendorongnya


Senin, 12 Oktober 2026 / 14:07 WIB
Harga Minyak Brent Bertahan di Atas US$ 100 Senin (12/10), Ini Pendorongnya
ILUSTRASI. Harga Minyak Mentah Dunia (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (12/10/2026), seiring harapan bahwa kesepakatan penghentian serangan terhadap fasilitas energi antara Rusia dan Ukraina dapat meningkatkan pasokan minyak dan produk olahan, termasuk diesel.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka turun 11 sen atau 0,11% menjadi US$ 104,61 per barel pada pukul 06.27 GMT.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) melemah 49 sen atau 0,53% menjadi US$ 91,36 per barel. Kedua acuan minyak tersebut sempat terkoreksi lebih dari 1% pada awal perdagangan.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan: Saham HYBE dan JYP Melemah, Saham Kosmetik Menguat

Harga produk olahan minyak juga mengalami tekanan. Kontrak berjangka gasoil ICE turun 3% menjadi US$ 1.436 per metrik ton setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Rusia akan segera memasok lebih banyak diesel ke pasar AS dan global.

Pada Jumat, Trump mengatakan Rusia akan memasok lebih dari 300.000 metrik ton atau sekitar 2,25 juta barel diesel. Rusia juga disebut akan mengirim tambahan 500.000 ton pada November dan 1 juta ton lagi setelahnya.

Sebagai gambaran, konsumsi diesel global diperkirakan mendekati 29 juta barel per hari, menurut Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA).

Trump pada Minggu juga mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina telah sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing.

Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan masih menunggu rincian kesepakatan tersebut, sementara Rusia belum memberikan komentar.

Baca Juga: China Gelar Pembicaraan Intensif dengan Uni Eropa, Bahas Kendaraan Listrik dan Hybrid

Analis Utama KCM Trade Tim Waterer menilai, pengumuman tersebut meredakan sebagian tekanan pasokan dalam jangka pendek.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pasar masih mempertanyakan validitas dan keberlanjutan gencatan senjata tersebut.

Tanpa bukti yang lebih jelas bahwa kesepakatan benar-benar bertahan, ruang penurunan harga minyak diperkirakan tetap terbatas.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol juga meminta negara-negara anggota mengevaluasi kebutuhan pelepasan tambahan diesel.

Negara yang belum menuntaskan komitmen pelepasan cadangan energi diminta mempercepat realisasi sisa volumenya, dengan memprioritaskan diesel.

Konflik Timur Tengah tahan harga minyak di atas US$ 100

Di tengah harapan tambahan pasokan dari Rusia, konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor penopang harga Brent di atas US$ 100 per barel.

Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan pada Sabtu di bandara internasional Riyadh, Arab Saudi, yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.

Baca Juga: Bursa China Melemah, Tertekan Kenaikan Imbal Hasil Global dan Gejolak Geopolitik

Otoritas Arab Saudi juga melaporkan adanya korban luka dalam serangan baru di bandara tersebut pada Minggu.

Trump pada Sabtu mengatakan AS sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap Houthi.

Eskalasi ini merupakan bagian dari meluasnya konflik yang berkaitan dengan perang Iran yang dilancarkan AS dan Israel pada Februari.

Risiko gangguan pasokan juga meningkat akibat serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Sejumlah insiden dilaporkan terjadi sepanjang bulan ini, sehingga berpotensi menghambat pemulihan ekspor minyak Timur Tengah yang terlihat pada September.

United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal tanker terkena serangan drone di sekitar area labuh Sohar, Oman.

Kapal lainnya mengalami kerusakan akibat proyektil yang belum diketahui saat melintasi Selat Hormuz.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga Brent untuk Desember menjadi US$ 90 per barel, dari perkiraan sebelumnya US$ 85 per barel.

Baca Juga: Pasar Saham Asia Bergejolak Jelang Musim Laporan Keuangan, Harga Minyak Turun

Analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven mempertahankan skenario dasar bahwa penyesuaian pasokan Timur Tengah pada akhirnya akan menekan harga minyak mentah.

Namun, potensi eskalasi konflik kembali tetap menjadi risiko kenaikan harga yang signifikan. Goldman Sachs memperkirakan premi risiko geopolitik saat ini sedikit di atas US$ 20 per barel.

Untuk minyak WTI, Goldman Sachs memperkirakan harga rata-rata mencapai US$ 81 per barel pada Desember 2026 dan US$ 73 per barel pada 2027.

Harga WTI saat ini dinilai relatif rendah dibandingkan Brent, antara lain akibat tingginya biaya pengiriman minyak dari AS ke Eropa.

Sementara itu, di Teluk Meksiko, perusahaan energi Shell, Chevron, dan BP berupaya memulihkan produksi serta mengerahkan kembali personel ke anjungan lepas pantai setelah Badai Isaias mendarat pada Sabtu dini hari.




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×