Harga Minyak Dekati Level Terendah dalam 2 Bulan, WTI Menuju ke Bawah US$ 80 Pagi Ini

Senin, 21 November 2022 | 08:43 WIB   Reporter: Anna Suci Perwitasari
Harga Minyak Dekati Level Terendah dalam 2 Bulan, WTI Menuju ke Bawah US$ 80 Pagi Ini

ILUSTRASI. Harga minyak mentah kompak melemah di pagi ini (21/11)


KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak melayang di dekat posisi terendah dalam dua bulan pada awal perdagangan pekan ini. Kekhawatiran pasokan berkurang sementara kekhawatiran atas permintaan bahan bakar China dan kenaikan suku bunga membebani harga minyak mentah.

Senin (21/11) pukul 08.15 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Januari 2023 telah tergelincir 0,3% ke US$ 87,34 per barel, setelah menetap di level terendah sejak 27 September.

Setali tiga uang, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Desember 2022 berada di US$ 80 per barel, turun 8 sen, jelang berakhirnya kontrak pada hari Senin.

Sementara, harga minyak WTI untuk kontrak pengiriman Januari 2023 yang lebih aktif, turun 21 sen menjadi US$ 79,90 per barel.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Menuju Penurunan Mingguan Kedua

Kedua benchmark ditutup di level terendah sejak 27 September, memperpanjang penurunan untuk minggu kedua, dengan Brent turun 9% dan WTI 10% lebih rendah pada Jumat (18/11).

Minyak mentah berjangka Brent bulan depan menyebar menyempit tajam pada minggu lalu. Sementara WTI berubah menjadi contango, mencerminkan berkurangnya kekhawatiran pasokan.

Pasokan minyak mentah yang ketat di Eropa telah berkurang karena penyulingan menumpuk stok menjelang embargo Uni Eropa 5 Desember terhadap minyak mentah Rusia, memberikan tekanan pada pasar minyak mentah fisik di seluruh Eropa, Afrika dan Amerika Serikat.

Kepala kebijakan energi UE mengatakan kepada Reuters bahwa UE mengharapkan peraturannya selesai tepat waktu untuk pengenalan rencana G7 untuk membatasi harga minyak mentah Rusia pada 5 Desember.

Analis RBC Capital Mike Tran bilang, berakhirnya kontrak WTI Desember yang lemah mengindikasikan penjualan pasar kertas daripada kelembutan pasar fisik yang sebenarnya.

Baca Juga: Bursa Asia Resah di Pagi Ini (21/11), Simak Sentimen yang Mendorongnya

"Persediaan global yang ketat tidak mendukung alasan tradisional surplus barel untuk contango," katanya dalam sebuah catatan.

Sementara indikator pasar spot Laut Utara dan Afrika Barat jauh dari kuat, mereka juga tidak menunjukkan tanda-tanda kesusahan, tambahnya.

Pasar diesel tetap ketat, dengan Eropa dan AS bersaing untuk minyak. Sementara China hampir menggandakan ekspor dieselnya pada Oktober dari tahun sebelumnya menjadi 1,06 juta ton, volumenya jauh di bawah 1,73 juta ton pada September.

Permintaan di importir minyak mentah utama dunia tetap terhambat oleh pembatasan COVID-19 sementara ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut di tempat lain telah meningkatkan the greenback, membuat komoditas berdenominasi dolar lebih mahal bagi investor.

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru