Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - DUBAI. Kelompok Houthi di Yaman terus memperluas pengaruh militernya dengan berupaya menguasai sejumlah wilayah strategis di dataran tinggi untuk memutus akses antara pesisir Laut Merah dan wilayah selatan yang masih dikuasai pasukan yang didukung Arab Saudi.
Perkembangan tersebut terjadi setelah kelompok Houthi melancarkan serangan cepat sepanjang September dan berhasil merebut sejumlah wilayah di pesisir Laut Merah. Ekspansi tersebut memperluas konflik Timur Tengah ke medan baru sekaligus meningkatkan risiko terhadap jalur perdagangan dan pasokan energi global.
Di tengah eskalasi tersebut, Amerika Serikat dilaporkan sempat menyiapkan serangan udara terhadap Houthi pada Minggu (20/9), tetapi Presiden AS Donald Trump disebut membatalkan rencana tersebut pada menit-menit terakhir.
Laporan The New York Times menyebut keputusan itu diambil setelah Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman kembali meminta dukungan Amerika Serikat dalam menghadapi Houthi.
Namun, Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen. Komando Pusat AS (US Central Command) juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.
Houthi incar pegunungan strategis
Kelompok Houthi yang telah menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, sejak 2014 kini berusaha memperkuat posisi militernya di sepanjang pesisir Laut Merah.
Baca Juga: Penjualan Robot Humanoid Global Capai 7.000 Unit, Bakal Melonjak Tahun 2030
Lima sumber militer Yaman mengatakan kepada Reuters bahwa Houthi kini berupaya merebut kawasan strategis yang dikenal sebagai Pegunungan Kahboub di Provinsi Taiz dan Lahij. Wilayah tersebut menjadi jalur pemisah antara pesisir Laut Merah dan wilayah selatan yang masih berada di bawah kendali pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Pertempuran dilaporkan terkonsentrasi di sekitar Distrik Al-Wazi'iyah di Provinsi Taiz serta Ras al-Ara di sepanjang pesisir Laut Arab. Kawasan tersebut berada di antara mulut Laut Merah yang direbut Houthi pekan lalu dan Aden, yang menjadi basis pemerintahan Yaman yang didukung Saudi.
Penguasaan dataran tinggi tersebut dinilai dapat memberikan keuntungan strategis bagi Houthi untuk mengamankan bagian belakang pasukannya di sekitar Selat Bab al-Mandab. Posisi itu juga dapat membuka peluang bagi Houthi untuk membentuk front baru sekaligus melindungi wilayah yang sebelumnya telah direbut di sekitar Dhubab dan Pulau Perim.
Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir telah melancarkan ratusan serangan udara terhadap posisi Houthi di wilayah dataran tinggi, menurut kelompok tersebut. Namun, serangan udara sejauh ini belum menghentikan laju pasukan Houthi, sementara pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi dilaporkan mundur dari sejumlah posisi.
Hampir 700 orang tewas
Eskalasi konflik juga menimbulkan dampak kemanusiaan yang signifikan.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hampir 700 orang tewas dan ribuan lainnya terluka dalam peningkatan pertempuran terbaru. Lebih dari 120.000 warga Yaman telah meninggalkan rumah mereka dan mengungsi di dalam negeri, sementara ribuan lainnya melarikan diri menggunakan kapal menuju Afrika.
Data Reuters sebelumnya yang mengutip Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat sedikitnya 112.000 orang telah mengungsi di dalam Yaman akibat konflik terbaru, sedangkan hampir 3.000 orang melarikan diri melalui laut menuju Djibouti.
Houthi serang Riyadh
Eskalasi juga telah mencapai wilayah Arab Saudi. Houthi pada Sabtu (19/9) mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah lokasi yang disebutnya sebagai target "sensitif" di Riyadh.
Serangan tersebut menjadi salah satu eskalasi terbaru yang meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan ibu kota Arab Saudi. Api dan kepulan asap terlihat di sekitar bandara utama Riyadh setelah serangkaian ledakan terdengar. Koalisi pimpinan Saudi mengatakan telah mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh dan menggagalkan serangan lainnya di sejumlah wilayah.
Baca Juga: Perang Iran Dorong Pembeli LNG Asia Cari Pasokan Alternatif, Indonesia Dilirik
Houthi juga mengklaim telah menyerang fasilitas minyak milik Saudi Aramco di Yanbu. Arab Saudi belum memberikan komentar mengenai serangan pertama yang dilaporkan menyasar ibu kota sejak eskalasi terbaru dimulai.
Ancaman terhadap ekspor minyak Saudi
Perluasan kendali Houthi di sekitar Selat Bab al-Mandab menjadi persoalan penting bagi Arab Saudi karena jalur tersebut merupakan salah satu rute alternatif bagi ekspor minyak Saudi yang selama ini digunakan untuk menghindari gangguan di Selat Hormuz.
Dengan meningkatnya risiko di Laut Merah, Arab Saudi meningkatkan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Data satelit menunjukkan ekspor minyak Saudi melalui Hormuz mencapai sekitar 2,9 juta barel per hari dalam beberapa hari terakhir, naik tajam dibandingkan sekitar 700.000 barel per hari pada Agustus.
Peningkatan tersebut sebagian mengompensasi terhentinya pemuatan minyak Saudi dari pelabuhan Laut Merah di Yanbu.
Untuk mempertahankan arus ekspor, sebagian kapal tanker juga melakukan perjalanan bolak-balik melalui Hormuz dengan mematikan transponder. Biaya pengangkutan dan risiko pelayaran meningkat tajam, termasuk tarif yang dalam sejumlah kasus mencapai seperempat nilai kargo.
Minyak yang dibawa melalui jalur tersebut kemudian dipindahkan dari satu kapal ke kapal lainnya di Samudra Hindia sebelum dikirim menuju konsumen di Asia dan wilayah lain.














