Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – WASHINGTON. Inflasi Amerika Serikat (AS) pada Agustus 2026 meningkat lebih rendah dari perkiraan. Kondisi ini berpotensi semakin mengurangi ekspektasi pasar terhadap kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga pada Oktober mendatang.
Berdasarkan data Bureau of Economic Analysis (BEA) Departemen Perdagangan AS yang dirilis Rabu (30/9/2026), indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,3% pada Agustus 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 0,4%. Sementara itu, kenaikan indeks PCE pada Juli direvisi turun menjadi 0,1% dari sebelumnya 0,2%.
Secara tahunan, inflasi PCE pada Agustus tercatat sebesar 3,4%, sama dengan angka Juli setelah dilakukan revisi. Sebelumnya, inflasi PCE Juli dilaporkan mencapai 3,7% secara tahunan.
Baca Juga: Rusia Ancam Gunakan Senjata Nuklir Jika NATO Isolasi Kaliningrad
BEA juga melakukan perubahan metodologi dalam penghitungan harga sejumlah komponen, termasuk perangkat lunak dan aksesori, biaya pengelolaan portofolio serta jasa hukum. Selain itu, lembaga tersebut merevisi data inflasi sejak 2021.
Inflasi inti PCE
Jika tidak memperhitungkan komponen makanan dan energi yang cenderung berfluktuasi, indeks harga PCE inti naik 0,2% pada Agustus. Angka tersebut meningkat dari kenaikan yang telah direvisi menjadi 0,1% pada Juli.
Secara tahunan, inflasi inti PCE mencapai 3,0% pada Agustus, setelah sebelumnya juga mencatat kenaikan 3,0% pada Juli berdasarkan data yang telah direvisi.
Sebelumnya, inflasi inti PCE Juli diperkirakan meningkat 3,3% secara tahunan.
Inflasi PCE menjadi salah satu indikator utama yang diperhatikan Federal Reserve dalam menjalankan kebijakan moneternya. Bank sentral AS tersebut menggunakan ukuran inflasi PCE sebagai acuan dalam mencapai target inflasi sebesar 2%.
Pada September 2026, The Fed menaikkan suku bunga acuan overnight sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dalam tiga tahun dan The Fed juga memberi sinyal bahwa kenaikan biaya pinjaman masih dapat berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Peluang kenaikan suku bunga The Fed menyusut
Ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober semakin berkurang setelah Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menyampaikan pandangannya pada Selasa (29/9).
Williams mengatakan dirinya melihat "tidak ada urgensi" untuk melakukan tindakan lanjutan.
Sebelum data inflasi terbaru dirilis, pasar keuangan memperkirakan peluang sekitar 51,5% untuk kembali terjadi pengetatan kebijakan moneter pada Oktober. Angka tersebut turun dari sekitar 70% pada Senin (28/9), berdasarkan CME FedWatch Tool.
Baca Juga: Prancis dan Inggris Bahas Penghentian Kesepakatan Migran 'One in, One Out'
Data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat memberikan ruang bagi pasar untuk mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga lanjutan. Namun, arah kebijakan The Fed tetap akan bergantung pada perkembangan inflasi dan aktivitas ekonomi AS dalam beberapa waktu ke depan.
Belanja konsumen AS masih kuat
Di tengah meningkatnya inflasi dan biaya pinjaman, tekanan terhadap daya beli konsumen AS menjadi salah satu perhatian pasar. Survei Conference Board yang dirilis Selasa menunjukkan kepercayaan konsumen AS merosot ke level terendah dalam hampir 12,5 tahun pada September.
Meski demikian, belum terlihat tanda-tanda konsumen memangkas pengeluaran secara signifikan.
BEA mencatat belanja konsumen AS melonjak 0,9% pada Agustus 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan yang telah direvisi menjadi 0,1% pada Juli.
Sebelumnya, pertumbuhan belanja konsumen pada Juli diperkirakan sebesar 0,2%.
Belanja konsumen menjadi salah satu komponen penting dalam perekonomian AS karena menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi. Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun kepercayaan konsumen melemah dan biaya pinjaman meningkat, aktivitas konsumsi masih relatif kuat pada Agustus.














