kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.927   18,00   0,10%
  • IDX 5.943   17,05   0,29%
  • KOMPAS100 770   4,91   0,64%
  • LQ45 595   5,40   0,92%
  • ISSI 205   -0,19   -0,09%
  • IDX30 331   2,96   0,90%
  • IDXHIDIV20 424   2,54   0,60%
  • IDX80 88   0,63   0,72%
  • IDXV30 116   0,69   0,59%
  • IDXQ30 108   0,68   0,63%

Kelangkaan Solar Global Diperkirakan Berlanjut hingga 2027, IEA Peringatkan Inflasi


Rabu, 14 Oktober 2026 / 22:33 WIB
Kelangkaan Solar Global Diperkirakan Berlanjut hingga 2027, IEA Peringatkan Inflasi
ILUSTRASI. Harga Minyak (BBM) (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Kelangkaan pasokan solar atau diesel global diperkirakan berlanjut hingga 2027.

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperingatkan, terbatasnya pasokan dan lonjakan harga bahan bakar ini dapat menekan pertumbuhan ekonomi serta mendorong inflasi di berbagai negara.

Dalam laporan bulanan yang dirilis Rabu (14/10/2026), IEA menyebut konflik di Timur Tengah dan Rusia telah mengganggu produksi serta memangkas pasokan diesel global.

Kondisi tersebut membuat pasar diesel tetap ketat, sementara persediaan terus menyusut pada periode ketika stok biasanya mulai meningkat.

Baca Juga: Berkshire Suntik US$ 330 Juta, Saham Bending Spoons Melonjak 34%

"Harga solar yang mencetak rekor sudah menimbulkan konsekuensi ekonomi yang luas dengan meningkatkan biaya barang serta memengaruhi pendapatan riil, aktivitas ekonomi, dan inflasi," kata IEA dalam laporannya, seperti dikutip Reuters.

IEA mencatat, gabungan kehilangan ekspor diesel dari Timur Tengah dan Rusia mencapai 1,3 juta barel per hari pada September 2026.

Jumlah tersebut setara sekitar 4,5% dari proyeksi permintaan diesel dan gasoil global sepanjang tahun ini.

Tekanan pasokan menjadi perhatian karena diesel digunakan secara luas di sektor industri, pertanian, dan transportasi.

Kenaikan harganya berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi, yang kemudian dapat diteruskan ke harga barang dan jasa.

IEA memperingatkan, tanpa penyelesaian konflik di Timur Tengah, pasar minyak berisiko mengalami gejolak lebih lanjut dalam beberapa bulan ke depan sebelum pasokan akhirnya berlebih pada 2027.

"Ketika penyangga yang tersisa dalam sistem terus terkikis, tanpa penyelesaian konflik di Timur Tengah, pasar minyak dapat mengalami gejolak lebih besar dalam beberapa bulan mendatang sebelum surplus akhirnya muncul pada 2027," kata IEA.

Baca Juga: Michelle Bowman Sebut The Fed Belum Perlu Terburu-buru Naikkan Suku Bunga

Pasokan diesel masih ketat pada semester I-2027

Pemulihan operasi kilang minyak global yang diperkirakan berlangsung menjelang akhir tahun ini berpotensi membantu mengisi kembali persediaan.

Namun, IEA menilai tambahan produksi tersebut belum cukup untuk menutup defisit yang telah terakumulasi di pasar produk sulingan menengah atau middle distillates, termasuk diesel, gasoil, dan bahan bakar jet.

Dalam proyeksinya, keseimbangan pasokan dan permintaan gasoil global masih akan ketat pada semester I-2027, sebelum mulai melonggar pada semester II-2027.

Margin pengolahan diesel, yakni selisih harga produk diesel terhadap minyak mentah sebagai bahan baku, sempat melonjak ke rekor hampir US$ 95 per barel pada September. Kenaikan ini terjadi ketika keterbatasan kapasitas pengolahan menekan produksi.

Baca Juga: Inflasi AS Naik ke 3,7%, Peluang The Fed Naikkan Bunga Oktober Menguat

Untuk meredam gangguan pasokan, negara-negara anggota IEA sebelumnya menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat pada Maret 2026.

Total komitmen kemudian meningkat menjadi 426 juta barel, dengan sekitar 100 juta barel di antaranya masih harus disalurkan.

Dewan pengurus IEA dijadwalkan membahas rincian pelepasan cadangan tersebut pada Kamis (15/10/2026).

Pelaku pasar mencermati kecepatan penyaluran minyak dari cadangan serta kemungkinan adanya tambahan volume.

Namun, penyaluran cadangan yang telah disepakati sebelumnya berjalan lebih lambat. Pada September, laju pelepasan turun menjadi sekitar 270.000 barel per hari, jauh di bawah rata-rata 2,2 juta barel per hari pada periode Maret-Juni.

Hingga akhir September, sebanyak 331 juta barel cadangan darurat dari kesepakatan tersebut telah dilepas. Eropa masih perlu menyalurkan 46 juta barel, kawasan Amerika 40 juta barel, dan Asia-Oseania 10 juta barel.

IEA memperingatkan, penggunaan cadangan darurat secara berkelanjutan juga mengurangi bantalan perlindungan pasar minyak terhadap gangguan pasokan atau lonjakan harga berikutnya.

Negara anggota IEA memiliki sekitar 1 miliar barel persediaan minyak pemerintah, dengan lebih dari 200 juta barel di antaranya berupa diesel.

Baca Juga: Netflix PHK 1.000 Karyawan, Terbesar sejak 2022

Permintaan minyak turun, pasokan terancam konflik

Di tengah gangguan pasokan, IEA memperkirakan permintaan minyak global akan turun 2,6 juta barel per hari pada 2026.

Angka tersebut lebih dalam dibandingkan proyeksi penurunan 2,5 juta barel per hari pada laporan bulan sebelumnya. Diesel diperkirakan menyumbang sekitar 25% dari penurunan permintaan tersebut.

Dari sisi pasokan, produksi minyak global diproyeksikan turun 5,8 juta barel per hari pada 2026. Namun, pada 2027 pasokan diperkirakan berbalik naik 7,7 juta barel per hari sehingga pasar kembali mengalami surplus.

Sementara itu, ekspor minyak mentah dari negara-negara produsen di kawasan Teluk Timur Tengah meningkat 4,4 juta barel per hari pada September, mencapai sekitar 75% dari tingkat sebelum perang.

Baca Juga: Kelebihan Pasokan Menekan Industri, Raksasa Panel Surya China Pangkas Jumlah Pekerja

Kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan pengiriman melalui Selat Hormuz sebesar 3,7 juta barel per hari, sehingga arus pengiriman mencapai 10,9 juta barel per hari. Aktivitas transfer minyak antarkapal di Teluk Oman turut mendukung pemulihan tersebut.

Meski demikian, IEA menilai eskalasi serangan terhadap infrastruktur energi dan lalu lintas kapal tanker di kawasan itu berpotensi menghambat pemulihan lebih lanjut.

Pada Rabu (14/10/2026), harga minyak mentah Brent bergerak relatif stabil di sekitar US$ 105,80 per barel pada pukul 09.32 GMT, naik 0,1% dari penutupan sebelumnya. Sementara itu, margin pengolahan diesel naik 2% menjadi sekitar US$ 85,42 per barel.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×