kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Khawatir ancaman virus corona, Tokyo menunda pelatihan volunter olimpiade


Sabtu, 22 Februari 2020 / 10:24 WIB
ILUSTRASI. Olimpiade Tokyo.


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Penyelenggara Olimpiade Musim Panas Tokyo 2020 menunda pelatihan untuk volunter alias sukarelawan karena penyebaran virus corona di Jepang.

Mengutip Reuters, Sabtu (22/2), dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis Jumat malam, panitia mengatakan pelatihan dijadwalkan akan digelar mulai Sabtu hari ini, tetapi akan dijadwalkan kembali.

Baca Juga: Ini 8 negara yang laporkan kasus kematian akibat virus corona

Menurut pernyataan tersebut, penundaan pelatihan tidak akan mempengaruhi persiapan lain, dan panitia tidak mempertimbangkan untuk membatalkan pertandingan.

Jepang menghadapi pertanyaan yang berkembang tentang apakah langkah ini cukup untuk menghentikan virus corona yang menyebar dari China sejak akhir tahun lalu.

Beberapa investor mulai khawatir epidemi ini akan merusak Olimpiade Tokyo yang dijadwalkan akan dimulai pada 24 Juli mendatang.

Asal tahu saja, lebih dari 400 orang penumpang asal Jepang dan warga negara asing akan diturunkan dari kapal pesiar Princess Diamond pasca karantina yang dilakukan beberapa pekan terakhir.

Lebih dari 600 orang di kapal pesiar tersebut terinfeksi virus corona. Kapal yang tiba di Yokohama sejak 3 Februari 2020 itu membawa 3.700 orang.

Dua di antara mereka, meninggal pada Kamis (21/2) dan seitar 100 penumpang akan dipindahkan ke darat dalam beberapa hari ke depan untuk karantina lebih lanjut.

Di sekitar Jepang, lebih dari 80 orang dinyatakan positif mengidap virus corona yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di China.




TERBARU

[X]
×