Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seorang mantan insinyur OpenAI berkewarganegaraan Arab Saudi ditangkap oleh agen federal Amerika Serikat (AS) atas dugaan memasang perangkat perekam audio tersembunyi di ruang konferensi eksekutif perusahaan kecerdasan buatan (AI) tersebut.
Departemen Kehakiman AS menyampaikan bahwa perangkat itu diduga digunakan untuk merekam komunikasi sensitif perusahaan.
Kasus ini menyoroti meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan informasi dalam industri AI. Perusahaan teknologi dan pemerintah kini bersaing ketat untuk memperoleh talenta, teknologi, serta hasil penelitian AI yang berpotensi memberikan keunggulan ekonomi dan strategis.
Departemen Kehakiman AS menyebut tersangka bernama Abdulrahman Alfozan, berusia 35 tahun. Ia diketahui bekerja sebagai insinyur di OpenAI sejak Juli 2025.
Baca Juga: Taiwan Sepakat Beli 30% LNG dari Proyek Pipa Gas Alaska
Hingga berita ini ditulis, email yang dikirimkan ke alamat yang dikaitkan dengan nama Alfozan belum mendapat tanggapan. Belum diketahui pula siapa pengacara yang mewakilinya. Kedutaan Besar Arab Saudi di AS juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters.
OpenAI Temukan Alat Perekam Tersembunyi di Ruang Konferensi
Menurut Departemen Kehakiman AS, OpenAI menemukan perangkat perekam yang terhubung ke port USB di bagian belakang televisi dalam ruang konferensi eksekutif di salah satu gedung perusahaan di San Francisco pada 30 September.
Berdasarkan dokumen pengaduan FBI, perangkat berukuran sebesar ibu jari tersebut dilengkapi mikrofon dan dapat terhubung dengan kamera. Alat itu disembunyikan di dalam tisu toilet dan diduga dipasang sekitar 28 September.
Data yang tersimpan di dalam perangkat tersebut telah dienkripsi sehingga tidak dapat langsung diakses. Penyelidik kemudian menemukan perangkat serupa yang telah dimodifikasi di dalam tas pribadi Alfozan.
Dalam pernyataan melalui akun resmi di platform X, OpenAI mengatakan bahwa perusahaan menggunakan model AI internal untuk mengidentifikasi orang yang diduga memasang perangkat tersebut sekaligus menelusuri asal-usulnya.
OpenAI juga menyatakan memiliki bukti yang menunjukkan bahwa karyawan tersebut berniat memasang perangkat perekam tambahan di sejumlah area sensitif kantor untuk merekam rapat secara diam-diam.
Baca Juga: Inflasi AS Diprediksi Melonjak 3,6% pada September 2026, Harga BBM Jadi Pemicu
Meski demikian, perusahaan menyebut belum menemukan indikasi bahwa tersangka mengakses atau mengambil informasi penting perusahaan secara tidak semestinya.
"Saat ini, kami tidak memiliki indikasi bahwa individu tersebut secara tidak semestinya mengakses atau mengambil bobot model, kode sumber, maupun data pelanggan. Karyawan tersebut telah diberhentikan," kata OpenAI.
Bobot model atau model weights merupakan parameter yang dipelajari selama proses pelatihan AI dan menjadi salah satu komponen penting dalam pengembangan model. Sementara itu, kode sumber merupakan instruksi pemrograman yang digunakan untuk membangun perangkat lunak.
OpenAI telah melaporkan kasus tersebut kepada FBI. Biro investigasi federal AS itu masih melanjutkan penyelidikan untuk mengungkap dugaan pelanggaran yang terjadi.
FBI Ungkap Dugaan Perekaman Informasi Sensitif
Direktur FBI Kash Patel mengatakan, dugaan pemasangan perangkat tersebut berkaitan dengan upaya merekam komunikasi internal perusahaan mengenai teknologi AI tingkat lanjut.
"Abdulrahman Alfozan diduga menyembunyikan perangkat perekam rahasia di ruang konferensi eksekutif tempatnya bekerja untuk merekam secara diam-diam komunikasi sensitif mengenai teknologi kecerdasan super milik perusahaan," kata Patel dalam sebuah pernyataan.
Dokumen pengaduan FBI juga menyebut Alfozan menggunakan agen produktivitas berbasis AI untuk mencari informasi mengenai kalender penggunaan ruang rapat dan kemampuan fasilitas tersebut selama sekitar satu bulan hingga 16 September.
Alfozan diketahui telah berstatus sebagai penduduk tetap yang sah di AS sejak September 2020.
Jika terbukti bersalah, ia menghadapi ancaman hukuman penjara hingga lima tahun, denda sebesar US$250.000, serta pembebasan dengan pengawasan selama tiga tahun.
Profil LinkedIn yang dikaitkan dengan Alfozan menyebutkan bahwa ia pernah menempuh pendidikan di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan University of California, Berkeley. Ia juga tercatat pernah bekerja di Meta dan Microsoft.
Baca Juga: Rusia Serang Kyiv dengan Rudal Balistik, Zelensky Tuduh Langgar Gencatan Senjata
Namun, Reuters menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen informasi yang tercantum dalam profil LinkedIn tersebut.
OpenAI Perketat Perhatian terhadap Keamanan Internal
Kasus dugaan pemasangan perangkat perekam ini muncul ketika OpenAI menghadapi sejumlah persoalan terkait keamanan informasi dan pengelolaan data sensitif.
Secara terpisah, The Information melaporkan bahwa OpenAI tengah melakukan pembicaraan tahap awal untuk mengakuisisi Trail of Bits, perusahaan rintisan yang bergerak di bidang identifikasi dan perbaikan kerentanan dalam perangkat lunak sumber terbuka (open-source software).
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pembicaraan masih berlangsung dan berpotensi tidak mencapai kesepakatan. Informasi itu mengutip sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut. OpenAI maupun Trail of Bits belum segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.
Pada Jumat sebelumnya, OpenAI juga mengumumkan pemberhentian tiga penelitinya setelah penyelidikan internal menemukan bahwa mereka melanggar kebijakan perusahaan terkait penanganan informasi sensitif.
Ketiga peneliti tersebut adalah Jasmine Wang, Tomek Korbak, dan Mikita Balesni. Mereka kemudian menerbitkan surat yang menjelaskan situasi di balik pemecatan tersebut.













