kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45672,14   1,07   0.16%
  • EMAS916.000 -1,08%
  • RD.SAHAM 0.54%
  • RD.CAMPURAN 0.26%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Melawan virus corona, China larang perdagangan dan konsumsi binatang liar


Selasa, 25 Februari 2020 / 09:04 WIB
Melawan virus corona, China larang perdagangan dan konsumsi binatang liar
ILUSTRASI. Warga mengenakan masker di Wuhan, China. China Daily via REUTERS.

Sumber: South China Morning Post,The Star | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pemerintah China mengumumkan akan melarang perdagangan dan konsumsi hewan liar. Meski industri ini bernilai miliaran dollar dan mempekerjakan jutaan orang, larangan ini akan tetap diberlakukan sebagai bagian dari upaya untuk mengekang penyebaran wabah virus corona.

South China Morning Post melaporkan, epidemi Covid-19 yang telah menewaskan lebih dari 2.500 orang di Tiongkok dan menyebar ke luar China  telah dikaitkan dengan hewan liar yang membawa virus corona dan dijual di pasar secara bebas untuk dikonsumsi. Sebagian besar ilmuwan percaya, virus melompat dari hewan yang dijajakan di pasar ke manusia, bermutasi dan kemudian menginfeksi orang lain.

"Sejak wabah Covid-19, memakan hewan liar dan ancaman besar yang tersembunyi terhadap kesehatan masyarakat dari praktik tersebut telah menarik perhatian luas," kata Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional, seperti yang dikutip penyiaran negara CCTV, Senin.

Baca Juga: Trump meminta kongres AS menggelontorkan US$ 2,5 miliar untuk melawan virus corona

Menurut laporan tersebut, seperti yang dikutip dari South China Morning Post, keputusan untuk melarang konsumsi hewan liar dan termasuk tindakan keras terhadap perdagangan satwa liar ilegal untuk melindungi kesehatan masyarakat. Dijelaskan pula, larangan itu akan segera diberlakukan.

Permintaan daging hewan liar memang tinggi di China. Epidemi 17 tahun yang lalu dari sindrom pernapasan akut, atau Sars, yang menewaskan lebih dari 800 orang di seluruh dunia, telah dikaitkan dengan konsumsi kucing luwak di China oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

WHO mengatakan 70% patogen penyebab penyakit global yang ditemukan dalam 50 tahun terakhir berasal dari hewan.

Baca Juga: Gara-gara virus corona, syuting Mission Impossible di Italia ditunda

Para pecinta lingkungan dan pelestari alam liar menyambut baik keputusan tersebut, meskipun ada pula yang berpendapat bahwa pemerintah perlu memberikan bantuan keuangan kepada perusahaan yang menjalankan peternakan untuk hewan-hewan tersebut.

Data yang dihimpun South China Morning Post menunjukkan, industri perdagangan dan konsumsi satwa liar China bernilai 520 miliar yuan (US$ 74 miliar) dan mempekerjakan lebih dari 14 juta orang. Data ini mengutip laporan yang disponsori pemerintah yang diterbitkan oleh Chinese Academy of Engineering pada 2017.



TERBARU

[X]
×