kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.994   45,00   0,27%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Pasokan Minyak Iran Masuk Pasar, Harga Brent dan WTI Bergerak Tipis Senin (23/3)


Senin, 23 Maret 2026 / 07:16 WIB
Pasokan Minyak Iran Masuk Pasar, Harga Brent dan WTI Bergerak Tipis Senin (23/3)
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Christian Hartmann)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak bergerak stabil pada Senin (23/3/2026), seiring investor menimbang ancaman Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap fasilitas energi yang bisa memperburuk perang, sementara jutaan barel minyak Iran di laut mulai memasuki pasar global setelah Washington melonggarkan sanksi.

Melansir Reuters, minyak mentah Brent  turun tipis 8 sen ke US$112,11 per barel pada pukul 23.24 GMT, setelah Jumat lalu ditutup di level tertinggi sejak Juli 2022.

Minyak West Texas Intermediate AS berada di US$98,17 per barel, turun 6 sen setelah naik 2,27% pada sesi sebelumnya. Selisih harga Brent-WTI kini melebihi US$14 per barel, jarak terbesar dalam beberapa tahun.

Baca Juga: Zuckerberg Kembangkan AI Agent untuk Bantu Tugas CEO di Meta

Michael McCarthy, CEO platform perdagangan online Moomoo Australia mengatakan, penurunan harga minyak bersifat sementara karena likuiditas rendah dan para pedagang mengambil keuntungan jangka pendek.

“Momentum jelas masih mendukung kenaikan, dan pengujian level tertinggi baru-baru ini di dekat US$120 per barel adalah skenario realistis minggu ini,” ujar McCarthy.

Presiden Donald Trump pada Sabtu lalu mengancam akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz dalam 48 jam, eskalasi signifikan hanya sehari setelah ia menyebut perang sedang “dapat dilonggarkan.”

Speaker Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menulis di X bahwa infrastruktur kritis dan fasilitas energi di Timur Tengah bisa “rusak secara permanen” jika pembangkit listrik Iran diserang.

“Ini jelas berarti eskalasi lebih lanjut, yang berarti harga minyak akan lebih tinggi. Beberapa orang salah mengira Iran akan menyerah,” kata Amrita Sen, pendiri Energy Aspects.

“Trump mencoba menunjukkan ia bisa melakukan eskalasi lebih dulu, yang berakhir dengan infrastruktur Teluk yang hancur.”

Baca Juga: Sanksi Dilonggarkan, Kilang India dan Asia Mulai Lirik Minyak Iran

Perang telah merusak fasilitas energi utama di Teluk dan hampir menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur yang menangani sekitar 20% aliran minyak dan LNG global. Para analis memperkirakan produksi minyak Timur Tengah turun 7–10 juta barel per hari.

Di Irak, pemerintah telah menyatakan force majeure untuk seluruh ladang minyak yang dikembangkan oleh perusahaan asing.

Menteri Minyak Irak Hayan Abdel-Ghani menyatakan, produksi di Basra Oil Company dipangkas menjadi 900.000 bpd dari sebelumnya 3,3 juta bpd.

Untuk meringankan krisis pasokan, Washington sementara melonggarkan sanksi terhadap minyak Iran yang berada di laut.

Kilang di India berencana kembali membeli minyak Iran, sementara kilang lain di Asia sedang mengevaluasi langkah serupa, kata para pedagang.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×