kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45974,33   -17,61   -1.78%
  • EMAS991.000 0,71%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Selain Gas, Rusia Pertimbangkan Memperluas Pembayaran Rubel ke Ekspor Utama Lainnya


Senin, 04 April 2022 / 06:30 WIB
Selain Gas, Rusia Pertimbangkan Memperluas Pembayaran Rubel ke Ekspor Utama Lainnya
ILUSTRASI. Skema pembayaran rubel untuk gas alam adalah prototipe yang akan diperluas Rusia ke ekspor utama lainnya. REUTERS/Dado Ruvic


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - LONDON. Kremlin menegaskan kepada Barat, skema pembayaran rubel Presiden Vladimir Putin untuk gas alam adalah prototipe yang akan diperluas Rusia ke ekspor utama lainnya. Langkah ini diambil karena Barat telah menutup pelemahan dolar AS dengan membekukan aset Rusia.

Informasi saja, protipe merupakan rupa yang pertama atau rupa awal atau standar ukuran dari sebuah entitas. 

Melansir Reuters, perekonomian Rusia menghadapi krisis paling parah sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1991 setelah Amerika Serikat dan sekutunya memberlakukan sanksi yang melumpuhkan karena invasi Putin pada 24 Februari di Ukraina.

Tanggapan ekonomi utama Putin sejauh ini adalah perintah pada 23 Maret agar ekspor gas Rusia dibayar dalam rubel. Namun skema tersebut memungkinkan pembeli membayar dalam mata uang kontrak yang kemudian ditukarkan menjadi rubel oleh Gazprombank.

"Ini adalah prototipe sistem," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada televisi pemerintah Channel One Rusia tentang rubel untuk sistem pembayaran gas.

"Saya tidak ragu bahwa itu akan diperluas ke kelompok barang baru," kata Peskov. Dia tidak memberikan kerangka waktu untuk langkah seperti itu.

Baca Juga: Cara Warga Ukraina Lawan Pasukan Rusia: Beri Makanan dan Alkohol yang Diracun

Peskov mengatakan bahwa keputusan Barat untuk membekukan cadangan bank sentral senilai US$ 300 miliar adalah "perampokan" yang akan mempercepat perpindahan dari ketergantungan pada dolar AS dan euro sebagai mata uang cadangan global.

Kremlin, katanya, menginginkan sistem baru untuk menggantikan kontur arsitektur keuangan Bretton Woods yang didirikan oleh kekuatan Barat pada tahun 1944.

"Jelas bahwa -bahkan jika ini merupakan prospek yang jauh- kita akan datang ke beberapa sistem baru yang berbeda dari sistem Bretton Woods," kata Peskov.

Sanksi Barat terhadap Rusia, katanya, telah "mempercepat erosi kepercayaan terhadap dolar dan euro."

Baca Juga: Berikut Daftar Pembeli dan Mantan Pembeli Minyak Rusia Pasca Invasi, Ada Pertamina

Putin mengatakan "operasi militer khusus" di Ukraina diperlukan karena Amerika Serikat menggunakan Ukraina untuk mengancam Rusia dan Moskow harus bertahan melawan penganiayaan terhadap orang-orang berbahasa Rusia oleh Ukraina.

Ukraina telah menolak klaim penganiayaan Putin dan mengatakan sedang memerangi perang agresi Rusia yang tidak beralasan.

Pejabat Rusia telah berulang kali mengatakan upaya Barat untuk mengisolasi salah satu produsen sumber daya alam terbesar di dunia adalah tindakan irasional yang akan menyebabkan melonjaknya harga bagi konsumen. Kondisi itu akan membuat Eropa dan Amerika Serikat mengalami resesi.

Rusia telah lama berusaha untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang AS, meskipun ekspor utamanya - minyak, gas dan logam - dihargai dalam dolar di pasar global. 

Secara global, dolar sejauh ini merupakan mata uang yang paling banyak diperdagangkan, diikuti oleh euro, yen, dan poundsterling Inggris.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×