Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Lalu lintas kapal pengangkut komoditas di Selat Hormuz turun tajam pada Senin (21/9/2026). Data awal pelayaran menunjukkan hanya dua kapal yang melintasi jalur strategis tersebut, turun dari 10 kapal sehari sebelumnya.
Data tersebut tidak mencakup kapal yang kemungkinan melintasi Selat Hormuz dengan mematikan transponder Automatic Identification System (AIS) untuk menghindari deteksi.
Baca Juga: PASAR GLOBAL - Saham Teknologi Naik Didorong Demam AI, Harga Minyak Kembali ke US$100
Melansir Reuters berdasarkan data Kpler, dua kapal yang terpantau melintas terdiri dari kapal Supramax berbendera Panama yang mengangkut mineral dan kapal bulk carrier berbendera Liberia. Keduanya memasuki jalur perairan tersebut melalui rute yang belum diketahui.
Sebagai pembanding, sebelum konflik Iran dimulai pada 28 Februari, Selat Hormuz biasanya dilalui sekitar 125 kapal komersial berukuran besar setiap hari.
Kapal-kapal tersebut mencakup tanker minyak, kapal pengangkut gas, bulk carrier hingga kapal kontainer.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Sekitar 20% pasokan minyak mentah dan liquefied natural gas (LNG) dunia biasanya melewati jalur tersebut setiap hari.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Pasar Tunggu Sinyal Pembicaraan AS-Iran
Dua kapal diserang
Penurunan lalu lintas kapal terjadi bersamaan dengan laporan serangan terhadap dua kapal pengangkut energi yang melintasi Selat Hormuz.
Perusahaan intelijen dan pelacakan pelayaran Marisks Intelligence mengatakan, sebuah kapal tanker minyak mentah dan kapal pengangkut liquefied petroleum gas (LPG) diserang dalam dua insiden terpisah.
Kapal tanker minyak mentah LR Stephanie berbendera Isle of Man terkena proyektil yang belum teridentifikasi saat memasuki Selat Hormuz pada Senin. Insiden tersebut menyebabkan dua awak kapal mengalami luka ringan.
Berdasarkan data LSEG, LR Stephanie dikelola oleh Universal Tanker Corp. Perusahaan tersebut belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.
Sehari sebelumnya, kapal tanker LPG Al Maryah berbendera Liberia juga dilaporkan terkena serangan ketika meninggalkan jalur Selat Hormuz. Kapal tersebut dikelola oleh Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC).
Baca Juga: Bertemu Donald Trump Pekan Ini, Xi Jinping Akan Desak AS Stop Jual Senjata ke Taiwan
Kantor media ADNOC Logistics and Services mengatakan, perusahaan tidak memberikan komentar mengenai persoalan operasional tertentu, termasuk perencanaan perjalanan dan pergerakan kapal.
Kedua kapal dilaporkan masih dapat melanjutkan perjalanan tanpa bantuan kapal tunda.
Marisks mengatakan pihak yang bertanggung jawab atas kedua insiden tersebut masih belum diketahui. Kedua kapal juga tidak tercatat dalam daftar kapal yang dinyatakan "non-compliant" oleh Iranian Persian Gulf Strait Authority (PGSA) yang dipublikasikan.
Sementara itu, lalu lintas kapal di Selat Bab el-Mandeb di ujung selatan Laut Merah relatif stabil. Sebanyak 26 kapal melintasi selat tersebut pada Senin, sama seperti sehari sebelumnya.














