Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan menyambut Presiden China Xi Jinping di Washington pada Rabu (23/9/2026), dalam kunjungan tiga hari yang akan membahas sejumlah isu sensitif, mulai dari perdagangan dan teknologi hingga Iran dan Taiwan.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah hubungan ekonomi kedua negara yang masih dibayangi ketegangan.
Gencatan perdagangan selama 11 bulan dijadwalkan berakhir pada November, sementara Washington dan Beijing masih berbeda pandangan mengenai tarif, pembatasan teknologi, mineral tanah jarang, narkotika hingga Taiwan.
Baca Juga: Trump Siapkan US$ 2,45 Miliar untuk Pemulihan Gaza, Rekonstruksi Butuh US$71,4 Miliar
Reuters melaporkan, ekspektasi tercapainya terobosan besar dalam pertemuan ini relatif terbatas.
Namun, pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung Kamis (24/9) tetap berpeluang menghasilkan kesepakatan terbatas, termasuk penurunan tarif pada sektor tertentu, kerja sama pemberantasan perdagangan narkotika dan perluasan komunikasi militer.
Trump juga diperkirakan akan meminta pembebasan sejumlah warga negara AS dan warga negara lain yang ditahan di China.
Di sektor teknologi, kedua negara berpotensi memperluas pembicaraan mengenai kecerdasan buatan (AI).
AS dan China tengah bersaing ketat dalam pengembangan teknologi tersebut, sekaligus menghadapi kekhawatiran mengenai risiko yang semakin besar dari penggunaannya.
Pertemuan Trump dan Xi juga menjadi perhatian pelaku industri teknologi. Jamuan makan malam kenegaraan yang dijadwalkan Kamis diperkirakan akan dihadiri sejumlah pimpinan perusahaan besar dari kedua negara, termasuk CEO Apple Tim Cook, CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO OpenAI Sam Altman.
Baca Juga: AS-Iran Kembali Berunding, Harga Minyak Bertahan di Bawah US$ 100
Selain perdagangan dan teknologi, Iran diperkirakan menjadi salah satu isu pembahasan. China memiliki hubungan erat dengan Teheran dan merupakan importir minyak terbesar dunia.
Beijing sebelumnya turut menstabilkan harga minyak setelah perang pecah dengan mengurangi permintaan dan melepas cadangan minyak strategis.
Pemerintahan Trump sebelumnya mengancam akan menerapkan sanksi sekunder terhadap negara dan perusahaan yang melakukan bisnis dengan Iran.
Namun, Washington menahan penerapan sanksi tersebut terhadap sejumlah bank besar di China, yang merupakan mitra dagang terbesar Iran.
Isu Taiwan juga berpotensi menjadi titik ketegangan. Xi diperkirakan kembali meminta Trump mengurangi penjualan senjata AS ke Taiwan.
Pada Desember lalu, pemerintahan Trump menyetujui penjualan senjata senilai US$ 11 miliar kepada Taiwan, yang menjadi paket terbesar dalam sejarah.
Sementara itu, paket penjualan senjata berikutnya senilai sekitar US$ 14 miliar masih tertahan selama berbulan-bulan.
Baca Juga: Indeks Dolar AS Tembus 100,79 Rabu (23/9), Pasar Tunggu Arah Suku Bunga The Fed
Trump sebelumnya menyebut penjualan senjata ke Taiwan sebagai salah satu alat tawar dalam negosiasi dengan China.
Di tengah agenda tersebut, kedua pemimpin berupaya menjaga hubungan ekonomi AS-China tetap stabil.
Bagi pasar global, arah pembicaraan akan menjadi perhatian karena kebijakan perdagangan, teknologi dan energi kedua negara memiliki dampak luas terhadap rantai pasok dan perdagangan internasional.
Pertemuan Trump-Xi kali ini merupakan yang ketiga sejak 2025. Pertemuan lanjutan kemungkinan digelar tahun ini, antara lain di sela-sela KTT Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di China pada November atau pertemuan G20 di AS pada Desember.














