Reporter: Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gan Kim Yong menilai dunia tidak bisa merespons meningkatnya ketegangan geopolitik dengan menutup diri dan mengurangi keterbukaan ekonomi.
Menurut Gan, model ekonomi terbuka saat ini menghadapi tekanan dari dua arah. Di satu sisi, rivalitas geopolitik membuat negara-negara semakin memperhatikan ketergantungan ekonomi dan keamanan ekonomi. Di sisi lain, pelaku usaha dan pekerja mempertanyakan apakah mereka memperoleh manfaat yang cukup dari keterbukaan, pertumbuhan ekonomi, dan perubahan teknologi.
“Kita tidak bisa begitu saja melawan keterbukaan dengan menutup diri. Kita harus membuat keterbukaan bekerja lebih baik bagi bisnis dan masyarakat,” kata Gan dalam FutureChina Global Forum (FCGF) 2026 di Singapura, Jumat (25/9).
Gan mengatakan, kondisi tersebut menjadi bagian dari pemikiran di balik tema FCGF 2026, yakni Strengthening Resilience, Rebuilding Trust. Menurut dia, ketahanan ekonomi perlu dibangun dengan memperkuat kemampuan domestik sekaligus memperluas koneksi dengan negara lain.
“Resiliensi mengharuskan kita membangun kemampuan yang lebih kuat di dalam negeri sekaligus memperluas koneksi kita ke luar negeri,” ujarnya.
Menurut Gan, hubungan yang kuat dengan mitra ekonomi menjadi semakin penting ketika kondisi global semakin sulit. Namun, keterbukaan ekonomi juga harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan perusahaan dan pekerja.
Dalam konteks Singapura, pemerintah berupaya memperkuat sektor yang sudah menjadi keunggulan, seperti manufaktur maju dan jasa modern, sekaligus mengembangkan sumber pertumbuhan baru. Salah satunya melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan produktivitas serta memperkuat hubungan dengan pasar global.
Tenaga kerja
Gan menekankan bahwa transformasi teknologi harus berjalan beriringan dengan pengembangan tenaga kerja. Perusahaan perlu beradaptasi dengan model bisnis dan pasar baru, sementara pekerja harus memperoleh keterampilan yang memungkinkan mereka mengambil peran baru ketika pekerjaan berubah.
“Job redesign dan pelatihan harus menjadi bagian dari upaya ini, sehingga transformasi perusahaan berjalan beriringan dengan pengembangan tenaga kerja,” kata Gan.
Gan menambahkan, ASEAN yang lebih kuat dan tangguh merupakan kepentingan bersama bagi Singapura dan China.
Namun, kawasan Asia Tenggara menghadapi tantangan yang semakin besar dalam melakukan peningkatan kapasitas industri. Persaingan semakin ketat, sementara otomatisasi mengurangi keunggulan biaya tenaga kerja yang murah.
Platform digital juga membawa dua sisi bagi pelaku usaha. Di satu sisi membuka pasar baru, tetapi di sisi lain menghadirkan kompetisi baru.
“Lebih banyak perdagangan dan investasi saja tidak akan cukup. Kita juga harus membantu perusahaan lokal bergerak naik dalam rantai nilai untuk mendapatkan manfaat dari peluang tersebut dan membantu pekerja memperoleh keterampilan yang dibutuhkan untuk mengambil peran baru,” jelas Gan.
Menurut Gan, integrasi ekonomi regional akan lebih relevan dan tangguh apabila perusahaan lokal memperoleh akses terhadap pasar sekaligus kemampuan baru, sementara pekerja mendapatkan jalur untuk meningkatkan karier.
Singapura sendiri akan mengambil peran sebagai Ketua ASEAN pada 2027. Gan mengatakan Singapura akan bekerja sama dengan negara-negara anggota ASEAN untuk memperdalam integrasi ekonomi dan memperkuat kemampuan kawasan dalam menghadapi perubahan.
Tujuannya, kata dia, adalah memastikan ASEAN tetap terbuka terhadap dunia, namun memiliki kemampuan dan konektivitas yang cukup untuk menghadapi perubahan ekonomi global.














