kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Waspada, Penelitian Ungkap Pengguna Glucosamine Rutin Menaikkan Risiko Demensia


Jumat, 12 Juni 2026 / 18:35 WIB
Waspada, Penelitian Ungkap Pengguna Glucosamine Rutin Menaikkan Risiko Demensia
ILUSTRASI. demensia (dok/dok)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Penelitian terbaru membuka wawasan baru terkait kesehatan otak dan pemulihan cedera kepala pada anak-anak, sekaligus menantang panduan medis yang selama ini berlaku.

Salah satu temuan penting menunjukkan bahwa penggunaan rutin suplemen glucosamine, yang populer sebagai obat nyeri sendi, dapat meningkatkan risiko berkembangnya demensia. 

Analisis besar-besaran terhadap catatan medis hampir 60.000 pasien antara 2012 hingga 2024 menemukan bahwa penggunaan glucosamine secara rutin dikaitkan dengan peningkatan 25% kemungkinan peralihan dari gangguan kognitif ringan ke demensia. 

Baca Juga: GSK Akuisisi Nuvalent, Mengapa Sektor Kesehatan Jadi Incaran Investor?

Selain itu, pada pasien yang sudah menderita demensia, glucosamine juga dikaitkan dengan peningkatan 25% risiko kematian selama masa penelitian.

Para peneliti menjelaskan bahwa pada pasien dengan gangguan kognitif ringan saja, efek ini tidak terlihat, menunjukkan bahwa dampak glucosamine lebih besar pada pasien dengan demensia yang sudah ada. Eksperimen pada hewan menunjukkan bahwa glucosamine memperburuk proses berbahaya di otak yang disebut hiperglikosilasi, di mana penempelan molekul gula yang abnormal pada protein otak mengganggu fungsi neurologis penting.

“Data rekam medis elektronik ini sangat provokatif,” kata Matt Gentry dari University of Florida, salah satu penulis studi. “Meskipun ini hanyalah asosiasi, bukan bukti sebab-akibat, temuan ini membuka pertanyaan klinis penting yang perlu perhatian lebih.” Studi ini diterbitkan di jurnal Nature Metabolism.

Sementara itu, penelitian lain justru menemukan kabar baik terkait pemulihan anak-anak dari gegar otak. Studi yang dipublikasikan di British Journal of Sports Medicine menunjukkan bahwa waktu layar yang moderat dapat membantu beberapa anak pulih lebih cepat. 

Anak-anak yang menggunakan layar dalam jumlah terbatas pada tiga hari pertama setelah cedera menunjukkan pemulihan lebih cepat dibandingkan yang tidak menggunakan layar sama sekali.

Jingzhen “Ginger” Yang dari Nationwide Children’s Hospital, Ohio, pemimpin studi, menjelaskan bahwa rata-rata 141 menit waktu layar per hari dikaitkan dengan pemulihan 35% lebih cepat dibandingkan 260 menit per hari. Anak-anak yang menggunakan layar lebih dari empat jam atau kurang dari dua jam per hari justru berisiko pulih lebih lambat.

Jenis perangkat juga berpengaruh. Sekitar dua jam per hari penggunaan smartphone dan TV terkait dengan pemulihan lebih cepat, sedangkan komputer, tablet, dan perangkat game tidak menunjukkan efek signifikan.

“Temuan ini membuka kemungkinan baru dalam praktik pemulihan gegar otak, berlawanan dengan panduan sebelumnya yang menyarankan untuk menghindari layar total,” kata Dr. Thomas Pommering, penulis studi lain dari Nationwide Children’s.

Baca Juga: Dalai Lama Akan Jalani Perawatan Lutut di New Delhi, Kondisi Kesehatan Jadi Sorotan


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×