Akademisi Estonia Nilai Invasi Rusia ke Ukraina Bentuk Penjajahan Gaya Baru

Jumat, 25 November 2022 | 14:39 WIB   Reporter: Noverius Laoli
Akademisi Estonia Nilai Invasi Rusia ke Ukraina Bentuk Penjajahan Gaya Baru

Akademisi Estonia Nilai Invasi Rusia ke Ukraina Bentuk Penjajahan Gaya Baru


KONTAN.CO.ID -  SURABAYA. Peneliti dan pengamat hubungan internasional Universitas Tartu Estonia, Andrey Makarychev menilai petualangan Presiden Rusia Vladimir Putin terhadap Ukraina sebuah penjajahan gaya baru.

Hal tersebut dikemukakannya dalam makalah bertajuk ‘Understanding Eeastern Europe and Eurasia: Between Russia and Ukraine’ yang menjadi bagian diskusi kegiatan “Launching Pusat Studi Eropa dan Eurasia” Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga (FISIP UNAIR). 

Dia menjelaskan akhir dari post-soviet regionalisme, akibat invasi Moscow terhadap Kyiv, kemudian mengubah situasi language games dalam studi Hubungan Internasioanal (HI), sehingga beberapa konsep kunci seperti resilience, security, sovereignty, dan violence mengalami pergesaran makna.

“Intervensi yang dilakukan oleh Rusia dapat disebut sebagai “post-colonial type war” dan apa yang dihadapi oleh Ukraina saat ini sama seperti negara-negara Global South yang lain, yaitu memperjuangkan kemerdekaannya,” tutur akademisi tersegut dalam ekterangannya.

Baca Juga: Parlemen Rusia Mengesahkan Undang-Undang yang Melarang Propaganda LGBT

Post-soviet regionalism dimulai ketika awal Maret 1992, rombongan milisi lokal pro-Transnistria yang dibantu oleh milisi Cossack dari Rusia menyerang kantor polisi di Dubasari, Transnistria sehingga menyebabkan pemerintah Moldova melakukan pengamanan. 

Konflik tersebut menjadi berkepanjangan karena melibatkan orang-orang di luar Moldova. Tercatat sukarelawan Rumania membantu pemerintah Moldova, sementara sukarelawan Rusia membantu kelompok Cossack.

Keterlibatan Rusia meningkat pasca Wakil Presiden Rusia, Alexander Rutskoi menyerukan agar sisa-sia pasukan Uni Soviet dari etnis Russia untuk terlibat yang mengakibatkan wilayah tersebut lepas dari Moldova, namun hingga saat ini tidak diakui oleh dunia internasional.

Hingga kini, wilayah Transnistria yang kecil dan terjepit oleh Moldova dan Ukraina sangat bergantung pada Rusia untuk mencukupi kebutuhan pokok mereka. Bahkan hingga kini Rusia masih menempatkan sebagian kecilnya di wilayah tersebut.

Baca Juga: Pengawal Putin Gelar Latihan Taktis di Moskow, Upaya Hadapi Kemungkinan Kudeta?

Editor: Noverius Laoli

Terbaru