Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - LONDON/SINGAPURA. Saham sektor pertahanan Eropa melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis (8/1/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global yang turut mendorong penguatan dolar AS dan harga minyak dunia.
Indeks saham kedirgantaraan dan pertahanan Eropa (STOXX aerospace and defence) naik hampir 2% pada perdagangan awal, memperpanjang reli lima hari berturut-turut. Sepanjang tahun ini, indeks tersebut telah menguat sekitar 13% dan melonjak lebih dari 260% sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Penguatan saham pertahanan terjadi di tengah berbagai perkembangan geopolitik, mulai dari penyitaan dua kapal tanker minyak yang terkait Venezuela di Samudra Atlantik hingga rencana pertemuan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dengan para pemimpin Denmark pekan depan untuk membahas isu Greenland.
“Investor mulai menyadari bahwa ancaman geopolitik tidak akan hilang dalam waktu dekat,” kata Peter McLean, Kepala Solusi Portofolio Multi-Aset di Stonehage Fleming Investment Management. Ia menilai, meskipun aksi militer di Greenland kecil kemungkinannya, dorongan untuk meningkatkan belanja pertahanan di Eropa semakin kuat.
Baca Juga: Trump Usulkan Anggaran Militer AS 2027 US$ 1,5 Triliun, Saham Pertahanan Melonjak
Sementara itu, euro diperkirakan mencatat pelemahan kedelapan berturut-turut terhadap dolar AS. Namun, pergerakan dolar relatif tertahan menjelang rilis data ketenagakerjaan non-pertanian AS (non-farm payrolls) yang sangat dinantikan pada Jumat.
Di pasar energi, harga minyak yang sempat tertekan awal pekan ini kembali menguat. Minyak mentah Brent naik kembali ke atas US$60 per barel, sementara minyak mentah AS (WTI) naik 0,5% ke level US$56,30 per barel.
Penguatan harga minyak terjadi setelah sejumlah pejabat tinggi AS menyatakan perlunya pengendalian penjualan dan pendapatan minyak Venezuela untuk jangka panjang, guna menstabilkan ekonomi negara tersebut dan memastikan kebijakannya sejalan dengan kepentingan AS.
Analis senior komoditas ANZ, Daniel Hynes, menilai reaksi negatif pasar terhadap pernyataan Presiden Donald Trump terkait Venezuela sebelumnya terlalu berlebihan.
Menurutnya, pengendalian penjualan minyak justru bisa berarti sanksi atau pembatasan tetap berlaku dalam jangka pendek, yang berpotensi menopang harga minyak.
Di sisi lain, pasar saham global cenderung melemah setelah mengawali tahun dengan reli kuat. Indeks STOXX 600 Eropa turun 0,2%. Indeks Nikkei Jepang merosot 1,6% akibat meningkatnya ketegangan dengan China, sementara kontrak berjangka Wall Street melemah 0,2%.
Baca Juga: Bursa Eropa Menguat, Saham Pertahanan Melonjak Usai Ketegangan Venezuela
“Pasar Asia tampaknya sedang mengambil jeda setelah awal tahun 2026 yang kuat,” kata Kepala Strategi Investasi Saxo, Charu Chanana.
Ia menambahkan, sentimen pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh isu geopolitik, termasuk larangan ekspor barang guna ganda China ke Jepang dan risiko pasokan logam tanah jarang.
Saham perusahaan kimia Jepang turun di Tokyo, sementara saham pesaing mereka di China justru naik setelah Kementerian Perdagangan China mengumumkan penyelidikan anti-dumping terhadap impor bahan kimia untuk industri semikonduktor.
Selain isu geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada data klaim pengangguran mingguan AS serta laporan non-farm payrolls.
Analis Goldman Sachs memperkirakan penambahan tenaga kerja AS pada Desember mencapai 70.000, di atas konsensus pasar, dengan tingkat pengangguran turun tipis ke 4,5%.
Baca Juga: Jual Senjata ke Taiwan, China Beri Sanksi Perusahaan Pertahanan AS
Sejumlah data ekonomi AS sebelumnya menunjukkan gambaran yang beragam. Data JOLTS menguatkan pandangan bahwa pasar tenaga kerja masih stabil, sementara indeks jasa ISM mencatat level tertinggi dalam 14 bulan.
Meski demikian, ekspektasi pasar terhadap dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini belum banyak berubah.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di kisaran 4,15%, sedangkan imbal hasil obligasi Jerman tenor 10 tahun bertahan di sekitar 2,8%.
Di pasar mata uang, poundsterling diperdagangkan di kisaran US$1,3458, sementara yen Jepang menguat tipis ke 156,67 per dolar AS. Harga emas sebagai aset lindung nilai turun 0,5% ke US$4.420 per ons, sedangkan perak dan platinum masing-masing merosot 2,6% dan 3,2% setelah reli sebelumnya.
McLean menambahkan, arah pergerakan imbal hasil obligasi akan menjadi salah satu faktor risiko utama tahun ini. “Jika imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun di bawah 4% dan terus melemah, itu bisa menjadi sentimen yang sangat positif bagi pasar,” ujarnya.













