Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham Apple merosot hampir 10% pada perdagangan Jumat (31/7/2026) setelah perusahaan memberikan proyeksi pendapatan yang lebih lemah dari ekspektasi pasar.
Prospek tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi produsen iPhone dalam memperoleh pasokan komponen di tengah lonjakan permintaan untuk pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan (AI) yang membebani rantai pasok global.
Mengutip Reuters, jika pelemahan tersebut bertahan hingga penutupan perdagangan, maka ini akan menjadi penurunan harian terbesar saham Apple sejak aksi jual besar-besaran di pasar pada Maret 2020 saat pandemi Covid-19.
Penurunan tersebut diperkirakan menghapus hampir US$500 miliar dari kapitalisasi pasar Apple. Kondisi ini juga berpotensi mengembalikan posisi perusahaan sebagai emiten paling bernilai di dunia kepada Nvidia, raksasa pembuat chip AI, hanya beberapa hari setelah Apple kembali merebut posisi tersebut.
CEO Apple Tim Cook, yang selama ini dikenal sebagai sosok ahli dalam manajemen rantai pasok, mengakui bahwa perusahaan menghadapi kendala pasokan yang serius. Pernyataan itu disampaikan dalam paparan kinerja keuangan terakhirnya sebagai CEO sebelum menyerahkan jabatan kepada John Ternus pada September mendatang dan beralih menjadi executive chairman.
Baca Juga: Trump Tunda Serangan ke Iran, Buka Peluang Kesepakatan Nuklir dan Selat Hormuz
Cook menyebut kelangkaan komponen yang terjadi saat ini sangat berdampak terhadap operasional perusahaan.
Sementara itu, CEO Creative Strategies Ben Bajarin menilai situasi yang dihadapi Apple menjadi sinyal buruk bagi industri teknologi secara keseluruhan.
"Jika bahkan Apple dengan skala sebesar itu mengatakan bahwa mereka sudah kehabisan seluruh fleksibilitas dalam rantai pasok, maka kondisinya benar-benar buruk bagi semua pihak," ujar Ben Bajarin.
Ledakan AI Tekan Pasokan Chip Global
Persaingan investasi AI dalam beberapa tahun terakhir telah membuat perusahaan-perusahaan teknologi besar berlomba mengamankan kapasitas produksi chip canggih dan chip memori untuk menopang pembangunan pusat data AI.
Fenomena tersebut memicu kelangkaan komponen sekaligus mendorong kenaikan harga, yang diperkirakan akan mempersempit pasar komputer pribadi (PC) maupun smartphone sepanjang tahun ini.
Apple sebelumnya masih mampu meredam lonjakan biaya memori dengan memanfaatkan persediaan komponen yang telah ditimbun sebelumnya. Namun Cook mengatakan cadangan tersebut kini mulai menipis.
Selain itu, kekurangan pasokan prosesor membuat Apple kesulitan memenuhi tingginya permintaan terhadap iPhone dan komputer Mac.
Pada Kamis (30/7), Apple memproyeksikan pertumbuhan pendapatan kuartal berjalan berada di kisaran 9% hingga 11%, lebih rendah dibandingkan ekspektasi analis Wall Street yang memperkirakan pertumbuhan sekitar 12%.
Meski perusahaan membukukan kinerja yang kuat pada kuartal yang berakhir Juni, perlambatan pertumbuhan bisnis layanan (services) turut membayangi hasil tersebut.
Pelemahan Bisnis Layanan Picu Kekhawatiran Investor
Perlambatan pada bisnis layanan menjadi perhatian investor karena terjadi di tengah kuatnya penjualan iPhone.
Segmen layanan Apple mencakup berbagai bisnis berulang seperti App Store, Apple Music, Apple TV, hingga layanan digital lainnya yang selama ini menjadi sumber keuntungan dengan margin tinggi.
Analis menilai perlambatan tersebut berpotensi semakin dalam apabila penjualan iPhone melemah akibat kenaikan harga yang diperkirakan akan dilakukan Apple saat peluncuran lini iPhone terbaru pada September mendatang.
Analis Morgan Stanley juga menilai dominasi Apple terhadap rantai pasok kini mulai dipertanyakan, sementara manfaat AI terhadap bisnis perusahaan belum terlihat secara nyata.
Baca Juga: Ledakan Bom di Restoran Mewah Moskow Tewaskan 3 Orang, Puluhan Terluka
"Pengaruh Apple terhadap rantai pasok tampaknya mulai dipertanyakan dan belum terlihat jelas bahwa AI memberikan dorongan yang terukur terhadap produk maupun layanan perusahaan. Dampak monetisasi AI di masa depan juga masih belum pasti," tulis analis Morgan Stanley.
"Bahkan, bisa saja perlambatan di App Store merupakan dampak AI yang mengalihkan waktu penggunaan pelanggan ke aktivitas lain," tambahnya.
Sejumlah Analis Masih Optimistis
Di sisi lain, sebagian analis menilai permintaan iPhone masih cukup tangguh menghadapi kenaikan harga, sebagaimana yang terjadi pada peluncuran produk-produk sebelumnya.
Selain itu, kerja sama pembiayaan Apple dengan Klarna di Amerika Serikat yang menawarkan skema cicilan bulanan untuk perangkat Apple dinilai dapat membantu menjaga daya beli konsumen.
Setelah laporan keuangan tersebut dirilis, setidaknya empat perusahaan sekuritas memangkas target harga saham Apple, sementara tiga lainnya justru menaikkan proyeksinya.
Berdasarkan data LSEG, median target harga saham Apple kini berada di US$330, sekitar US$3 lebih rendah dibandingkan harga penutupan terakhir sebelum laporan keuangan diumumkan.
Meski menghadapi tekanan jangka pendek, saham Apple hingga penutupan perdagangan Kamis (30/7) masih mencatat kenaikan sekitar 22,7% sepanjang tahun ini.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
