kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.606.000   -27.000   -1,03%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

Apple Tempel Ketat Nvidia, Perebutan Gelar Perusahaan Paling Bernilai Kian Sengit


Jumat, 17 Juli 2026 / 20:54 WIB
Apple Tempel Ketat Nvidia, Perebutan Gelar Perusahaan Paling Bernilai Kian Sengit
ILUSTRASI. Logo Apple (Dok./REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Apple semakin mendekati Nvidia dalam persaingan menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia.

Pergeseran ini mencerminkan perubahan sentimen investor terhadap prospek kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yang kini tidak lagi hanya berfokus pada produsen chip.

Baca Juga: Uni Eropa Siapkan Reformasi Perbankan untuk Hadapi Dominasi Bank AS

Pada perdagangan pre-market Jumat (17/7/2026), kapitalisasi pasar Apple mencapai sekitar US$ 4,90 triliun setelah harga sahamnya menguat tipis. Sementara itu, nilai pasar Nvidia berada di kisaran yang sama setelah sahamnya turun sekitar 2,4%.

Apabila berhasil melampaui Nvidia, Apple akan kembali menyandang predikat perusahaan paling bernilai di dunia untuk pertama kalinya sejak April tahun lalu.

Persaingan ketat tersebut menunjukkan investor mulai memperluas fokus investasi di luar perusahaan yang selama ini menjadi penerima manfaat utama ledakan AI, seperti Nvidia, yang hampir setahun terakhir memimpin daftar perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar.

Head of Investment BRI Wealth Management Toni Meadows menilai perubahan persepsi pasar terhadap Apple menjadi salah satu faktor utama di balik kenaikan valuasi perusahaan tersebut.

"Apple sebelumnya dipandang tertinggal dalam perlombaan AI karena tidak agresif mengembangkan model AI. Namun kini sentimen berubah," ujarnya.

Menurut Meadows, Apple memiliki posisi yang lebih baik untuk memonetisasi AI melalui layanan digital, ekosistem produknya yang terintegrasi, serta potensi peningkatan penjualan perangkat keras.

Baca Juga: Juara Piala Dunia 2026 Tak Hanya Angkat Trofi, FIFA Siapkan Cincin Juara

Selain itu, Apple juga dinilai tidak terlalu bergantung pada belanja modal (capital expenditure/capex) yang besar seperti perusahaan AI lainnya.

"Revaluasi saham Apple lebih didorong keyakinan terhadap keberlanjutan laba perusahaan dibandingkan ekspektasi spekulatif terhadap AI," katanya.

Siri baru jadi andalan Apple

Menyempitnya selisih valuasi dengan Nvidia juga mencerminkan upaya Apple memperkuat posisinya dalam persaingan AI.

Baca Juga: Tren Perawatan Kulit dengan Memakai Jaringan Tisu dari Mayat Semakin Populer

Bulan lalu, Apple meluncurkan pembaruan besar pada asisten virtual Siri yang sempat tertunda.

Perusahaan berharap peningkatan kemampuan Siri dapat memperkecil ketertinggalan dari para pesaing teknologi besar maupun startup AI.

Sejumlah analis menilai Apple memiliki keunggulan berupa data pribadi yang tersimpan di jutaan perangkat iPhone.

Data tersebut berpotensi membuat Siri mampu memberikan jawaban yang lebih relevan dan personal.

Namun, tantangan utama Apple adalah bagaimana memanfaatkan data tersebut tanpa mengorbankan komitmen perusahaan terhadap perlindungan privasi pengguna.

Persaingan ini juga menjadi sorotan menjelang pergantian kepemimpinan Apple. CEO Tim Cook dijadwalkan menyerahkan jabatannya kepada Kepala Divisi Perangkat Keras John Ternus pada September mendatang.

Baca Juga: AS Gempur Infrastruktur Iran, Konflik Hormuz Kian Memanas

Nvidia masih diuntungkan ledakan AI

Meski berpotensi disalip Apple, Nvidia tetap menjadi salah satu perusahaan yang paling diuntungkan dari lonjakan investasi AI.

Perusahaan semikonduktor itu menjadi perusahaan pertama di dunia yang menembus kapitalisasi pasar US$ 5 triliun pada Oktober lalu, didorong tingginya permintaan terhadap unit pemrosesan grafis (GPU) yang menjadi tulang punggung pengembangan AI generatif.

Analis menilai posisi Nvidia masih sangat kuat dan berpeluang kembali merebut posisi teratas apabila sentimen pasar kembali berpihak kepada sektor chip AI.

Vice President Alpha Research Segal Marco Advisors Benjamin Hall mengatakan, perubahan posisi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar tidak serta-merta mengubah prospek jangka panjang Nvidia.

"Saya tidak melihat perbedaan yang signifikan apabila Nvidia kehilangan posisinya. Perusahaan ini tetap akan menjadi pemain utama dalam perkembangan AI ke depan," ujarnya.

Baca Juga: Setelah 15 Tahun, India Siapkan Comeback Formula 1 pada 2028

Persaingan AI meluas

Demam AI juga mulai mengangkat perusahaan semikonduktor lain, khususnya produsen chip memori.

Micron berhasil menembus kapitalisasi pasar US$ 1 triliun pada Mei lalu seiring meningkatnya optimisme terhadap peran chip memori dalam infrastruktur AI.

Sementara itu, perusahaan Korea Selatan SK Hynix resmi melantai di bursa Nasdaq awal bulan ini, menambah daftar emiten yang bersaing menarik perhatian investor di sektor AI.

Meski demikian, reli saham perusahaan semikonduktor mulai mengalami tekanan pada Juli. Investor mulai mengevaluasi kembali keberlanjutan lonjakan valuasi sektor AI, yang menyebabkan indeks Philadelphia SE Semiconductor terkoreksi hampir 19% dari rekor tertingginya.

Walaupun terkoreksi cukup dalam, kinerja indeks tersebut sepanjang tahun ini masih lebih baik dibandingkan pergerakan saham Nvidia.


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×