Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (17/7) setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
Mengutip laporan Reuters, pada awal perdagangan Asia, harga minyak mentah Brent naik 0,7% menjadi US$ 84,83 per barel (sekitar Rp1,53 juta).
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 0,7% ke level US$79,49 per barel (sekitar Rp1,43 juta).
Secara mingguan, kontrak Brent maupun WTI diperkirakan sama-sama melonjak lebih dari 11%, menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak April.
Baca Juga: IEA Peringatkan Krisis Keamanan Energi Global Jika Selat Hormuz Tak Segera Dibuka
AS Kembali Serang Iran
Kenaikan harga tersebut terjadi setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi dimulainya gelombang serangan baru terhadap Iran pada Kamis (16/7) waktu setempat.
Dalam keterangannya, CENTCOM menyebut operasi militer tersebut dilakukan untuk "semakin melemahkan kemampuan militer Iran".
Aksi militer terbaru itu kembali meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa konflik di Timur Tengah dapat meluas dan mengganggu infrastruktur energi maupun jalur distribusi minyak
Strategis valuta asing dan suku bunga Macquarie, Thierry Wizman, mengatakan hubungan Amerika Serikat dan Iran kini semakin jauh dari titik temu.
"Amerika Serikat dan Iran kini semakin jauh dari titik temu. Beberapa hari ke depan akan menentukan pihak mana yang telah bertindak terlalu jauh, tetapi tetap ada risiko infrastruktur minyak menjadi sasaran kerusakan," ujar Wizman, dikutip Reuters.
Baca Juga: Trump Bakal Pidato: ABC, NBC, CNN Ogah Lakukan Siaran Langsung di Saluran Utama
Pasar Asia Wajib Waspada
Di kawasan Asia, sentimen tersebut ikut membebani pergerakan pasar saham. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun tipis 0,06% pada awal perdagangan, sedangkan indeks Nikkei Jepang merosot 2,8%.
Analis HSBC menilai pasar mulai mempertanyakan keberlanjutan siklus pertumbuhan industri AI setelah reli panjang sektor tersebut.
Meski demikian, menurut HSBC, fundamental industri AI secara umum masih tergolong kuat sehingga sulit menyimpulkan bahwa siklus pertumbuhan telah berakhir.
Selain konflik di Timur Tengah, pasar global juga mencermati meningkatnya ketegangan perdagangan setelah Amerika Serikat mengenakan tarif impor baru sebesar 25% terhadap Brasil.
Kombinasi berbagai sentimen tersebut membuat pelaku pasar memilih bersikap lebih berhati-hati menjelang akhir pekan.
Baca Juga: Bursa Jepang Terpuruk, Nikkei Jatuh 3,6% karena Saham Chip dan Risiko Geopolitik













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
