kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.606.000   -27.000   -1,03%
  • USD/IDR 18.010   -2,00   -0,01%
  • IDX 6.103   -5,17   -0,08%
  • KOMPAS100 800   -0,86   -0,11%
  • LQ45 609   0,14   0,02%
  • ISSI 211   -0,18   -0,09%
  • IDX30 344   0,24   0,07%
  • IDXHIDIV20 429   0,49   0,11%
  • IDX80 91   -0,03   -0,03%
  • IDXV30 117   -0,02   -0,02%
  • IDXQ30 111   0,09   0,08%

IEA Peringatkan Krisis Keamanan Energi Global Jika Selat Hormuz Tak Segera Dibuka


Jumat, 17 Juli 2026 / 08:25 WIB
IEA Peringatkan Krisis Keamanan Energi Global Jika Selat Hormuz Tak Segera Dibuka
ILUSTRASI. Krisis Timur Tengah - Kapal Tanker Selat Hormuz (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa keamanan energi global berada dalam ancaman apabila arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz tidak kembali normal dalam beberapa pekan ke depan.

Melansir Reuters, Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan dunia perlu mencemaskan ketahanan pasokan energi jika Amerika Serikat dan Iran tidak segera memulihkan lalu lintas minyak di jalur pelayaran strategis tersebut.

Baca Juga: Bursa Jepang Terpuruk, Nikkei Jatuh 3,6% karena Saham Chip dan Risiko Geopolitik

"Keamanan pasokan minyak masih menjadi isu yang sangat penting. Kita harus khawatir, dan saya memang khawatir, jika situasi tidak membaik dalam beberapa minggu ke depan," ujar Birol dalam acara Council on Foreign Relations, Kamis (16/7/2026).

Selat Hormuz, jalur laut sempit yang berada di antara Iran dan Oman, biasanya menjadi lintasan sekitar 20% pengiriman energi dunia.

Namun, jalur tersebut sebagian besar terhambat sejak konflik pecah pada 28 Februari setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Meski harga energi melonjak tajam, Birol menilai kenaikan tersebut masih dapat diredam oleh sejumlah faktor.

Di antaranya adalah cadangan minyak China yang mencapai lebih dari 1 miliar barel sebelum perang, penghematan konsumsi minyak di China melalui peningkatan penggunaan kendaraan listrik dan transportasi umum, serta pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi oleh IEA hingga 400 juta barel.

Baca Juga: Dolar Bersiap Catat Pelemahan Mingguan, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Mereda

Namun, menurut Birol, langkah-langkah tersebut hanya bersifat sementara.

"Solusi-solusi itu tidak bisa bertahan selamanya," katanya.

Sebelumnya, Birol juga menyebut perang yang melibatkan Iran sebagai gangguan terhadap pasokan energi terburuk dalam sejarah.

Ia menambahkan, peningkatan produksi minyak Amerika Serikat sebagai produsen minyak dan gas terbesar di dunia telah membantu meredakan tekanan pasokan.

"Peningkatan produksi AS sangat membantu. Amerika Serikat bisa menambah produksi 1 juta hingga 2 juta barel per hari, tetapi tidak mungkin menambah hingga 10 juta barel per hari," ujarnya.

Baca Juga: Rekor Gila Argentina di Semifinal Piala Dunia Berlanjut usai Singkirkan Inggris

Birol mengatakan, krisis pasokan minyak dan gas telah memukul perekonomian dunia secara tidak merata. Negara-negara Asia menjadi pihak yang paling terdampak karena sekitar 80% hingga 90% kebutuhan energinya sebelumnya melewati Selat Hormuz.

Menurutnya, Jepang dan Korea Selatan turut merasakan dampak tersebut, tetapi negara berkembang seperti Pakistan, Bangladesh, dan India menghadapi tekanan yang jauh lebih besar.

Ia juga menyoroti dampak sosial dari lonjakan harga energi. Di sejumlah negara berkembang, masyarakat mulai beralih menggunakan bahan bakar alternatif seperti kayu dan kotoran ternak untuk memasak karena produk berbahan bakar minyak semakin mahal.

Kondisi ini meningkatkan risiko kesehatan akibat emisi yang lebih berbahaya, terutama bagi perempuan.

Birol menambahkan, pelepasan cadangan minyak oleh IEA pada Maret lalu berhasil menekan harga minyak sekitar US$ 20 per barel.

Baca Juga: Trump Bakal Pidato: ABC, NBC, CNN Ogah Lakukan Siaran Langsung di Saluran Utama

Langkah itu juga mengirimkan sinyal kepada pasar bahwa IEA, yang mewakili lebih dari 30 negara, masih memiliki kapasitas untuk kembali melepas cadangan apabila situasi memburuk.

"Meskipun pelepasannya sangat besar, sebanyak 400 juta barel itu baru sekitar 20% dari total cadangan yang kami miliki. Masih ada sekitar 80% cadangan yang dapat digunakan jika diperlukan," kata Birol.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×