Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Jumat (17/7/2026), tetapi tetap berada di jalur pelemahan mingguan setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan mendorong pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Meski demikian, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memberikan dukungan bagi dolar sebagai aset safe haven.
Baca Juga: Rekor Gila Argentina di Semifinal Piala Dunia Berlanjut usai Singkirkan Inggris
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan dalam eskalasi yang telah berlangsung selama sepekan. Kondisi tersebut mengikis efek gencatan senjata bulan lalu dan mendorong harga minyak mendekati level tertinggi dalam satu bulan.
Pelaku pasar juga menantikan pidato Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan berlangsung pada pukul 01.00 GMT.
Di pasar valuta asing, euro diperdagangkan di level US$ 1,1445 dan berpeluang menguat sekitar 0,29% sepanjang pekan ini.
Sementara itu, pound sterling berada di posisi US$ 1,3476 dan diperkirakan mencatat kenaikan mingguan sebesar 0,56%, sekaligus memperpanjang reli menjadi tiga pekan berturut-turut seiring meredanya kekhawatiran terhadap prospek fiskal Inggris.
Baca Juga: Rekam Jejak Lionel Messi di Final Piala Dunia, Kini Bidik Gelar Kedua
Di sisi lain, yen Jepang berada di level 162,39 per dolar AS, tidak jauh dari posisi terlemah dalam 40 tahun di 162,84 yang sempat disentuh pada awal bulan. Investor masih mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang untuk menopang mata uangnya.
Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya, berada di level 100,72.
Indeks tersebut diperkirakan melemah sekitar 0,24% sepanjang pekan ini setelah sempat menyentuh level terendah dalam satu bulan pada awal pekan akibat menurunnya peluang kenaikan suku bunga The Fed. Namun, permintaan terhadap aset safe haven membantu membatasi pelemahan dolar.
Strategis OCBC dalam risetnya mengatakan dolar AS masih menjadi mata uang safe haven dengan imbal hasil tertinggi di kelompok negara G10.
"Pergerakan jangka pendek pasar valas kemungkinan masih mengikuti kerangka 'USD smile', di mana dolar cenderung menguat ketika pasar memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS yang lebih kuat disertai suku bunga yang lebih tinggi, atau ketika sentimen penghindaran risiko global meningkat," tulis OCBC.
Baca Juga: Trump Bakal Pidato: ABC, NBC, CNN Ogah Lakukan Siaran Langsung di Saluran Utama
Dari sisi fundamental, data yang dirilis Kamis (16/7) menunjukkan penjualan ritel AS naik tipis pada Juni. Penurunan harga bensin menekan pendapatan SPBU, namun lonjakan belanja daring mendorong ekonom merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II.
Data tersebut juga memperlihatkan pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat. Dengan inflasi konsumen yang melambat pada Juni, mayoritas ekonom memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan akhir bulan ini.
Meski demikian, para pejabat bank sentral masih berhati-hati untuk menyimpulkan tren inflasi hanya berdasarkan satu bulan data yang membaik setelah beberapa bulan sebelumnya menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi.
Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson mengatakan, dirinya terbuka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak menunjukkan perbaikan dalam waktu dekat.
Baca Juga: Netflix Proyeksi Pendapatan Hanya US$ 12,86 Miliar di Kuartal III-2026, Saham Anjlok
Berdasarkan alat CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli kini hanya sekitar 11%, turun dari 25% pada pekan lalu.
Selain itu, pelaku pasar kini memperkirakan total kenaikan suku bunga hingga akhir tahun hanya sekitar 26 basis poin, lebih rendah dibandingkan ekspektasi 44 basis poin pada awal pekan ini.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
