kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.939   -8,00   -0,04%
  • IDX 6.344   -7,43   -0,12%
  • KOMPAS100 833   -2,31   -0,28%
  • LQ45 631   -3,13   -0,49%
  • ISSI 219   -0,63   -0,29%
  • IDX30 354   -1,64   -0,46%
  • IDXHIDIV20 433   -1,50   -0,35%
  • IDX80 95   -0,31   -0,33%
  • IDXV30 120   -0,41   -0,34%
  • IDXQ30 113   -0,60   -0,53%

Iran Ancam Balas Serangan AS dengan Target Infrastruktur Energi Teluk


Kamis, 06 Agustus 2026 / 15:53 WIB
Iran Ancam Balas Serangan AS dengan Target Infrastruktur Energi Teluk
ILUSTRASI. Iran memperingatkan negara-negara Teluk bahwa setiap serangan baru Amerika Serikat (AS) terhadap wilayahnya akan memicu aksi balasan (via REUTERS/IRANIAN STATE TV)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Iran memperingatkan negara-negara Teluk bahwa setiap serangan baru Amerika Serikat (AS) terhadap wilayahnya akan memicu aksi balasan yang menyasar infrastruktur energi penting di kawasan tersebut.

Langkah ini dinilai sebagai upaya Teheran untuk meningkatkan biaya politik dan ekonomi apabila Washington kembali melancarkan aksi militer.

Mengutip laporan Reuters, peringatan tersebut disampaikan melalui serangkaian komunikasi diplomatik tingkat tinggi setelah Presiden AS Donald Trump pada 28 Juli mengancam akan menyerang jaringan energi dan infrastruktur Iran.

Informasi ini diungkapkan oleh lima sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, terdiri dari dua pejabat senior Iran, dua sumber dari negara Teluk, serta seorang diplomat senior kawasan. Seluruh sumber meminta identitasnya dirahasiakan karena sensitifnya isu tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi disebut melakukan pembicaraan dengan para menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, dan Qatar, serta Panglima Angkatan Darat Pakistan.

Menurut diplomat senior kawasan tersebut, Araqchi mendesak sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk agar menggunakan pengaruh mereka terhadap Presiden Trump untuk mencegah serangan militer baru terhadap Iran.

Baca Juga: Serangan Houthi Membuat Lalu Lintas Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb Anjlok Drastis

Ia memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan serangan terhadap aset-aset AS serta fasilitas energi di kawasan Teluk.

Dalam setiap pembicaraan, Araqchi menyampaikan pesan yang sama.

"Kami siap melakukan pembalasan, tetapi menemukan solusi diplomatik adalah cara terbaik untuk menghindari eskalasi yang lebih luas dan kehancuran di seluruh kawasan," ujar diplomat tersebut mengutip pesan Iran.

Salah satu sumber dari negara Teluk menegaskan bahwa ancaman Iran disampaikan secara jelas.

"Peringatan Iran sangat tegas: jika Amerika menargetkan infrastruktur Iran, mereka akan membalas dengan menyerang fasilitas energi di negara-negara Teluk serta target-target regional lainnya," kata sumber tersebut.

Arab Saudi Dorong Jalur Diplomasi

Manuver diplomatik Iran mencerminkan upaya Teheran memanfaatkan ancaman kerusakan regional sebagai alat tawar untuk mencegah serangan lanjutan dari AS.

Situasi ini juga menempatkan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS sekaligus bergantung pada ekspor energi dalam posisi sulit di antara Washington dan Teheran.

Menurut diplomat senior dan sejumlah sumber Teluk, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman kemudian berbicara langsung dengan Presiden Trump.

Dalam pembicaraan tersebut, ia meminta Trump menunda aksi militer, kembali ke meja perundingan, mengupayakan gencatan senjata, serta mencari penyelesaian melalui jalur diplomatik.

Sumber lain dari kawasan Teluk mengatakan peringatan Iran ditujukan kepada seluruh negara Teluk, namun terutama disampaikan melalui Arab Saudi dan Qatar. Dalam beberapa tahun terakhir, Iran diketahui memperbaiki hubungan dengan negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi yang sebelumnya menjadi rival utama di kawasan.

Baca Juga: Iran Berpotensi Kendalikan Selat Hormuz, AS dan Oman Bahas Kesepakatan Akhiri Perang

Qatar, Oman, dan Arab Saudi juga disebut telah mendesak Washington agar melanjutkan perundingan dengan Teheran guna menghindari konflik baru.

Seorang pejabat Iran mengatakan negaranya telah memperingatkan bahwa gelombang baru serangan AS dapat "mengubah kawasan menjadi lautan api."

Pada 2 Agustus lalu, Trump menyatakan dirinya sepakat membatalkan rencana serangan terhadap Iran "dengan syarat kesepakatan dapat segera dicapai."

Saudi Siap Membela Diri Jika Diserang

Meski mendorong penyelesaian damai, Arab Saudi tetap menegaskan kesiapan mempertahankan wilayahnya.

"Arab Saudi meyakini bahwa eskalasi lebih lanjut hanya akan membawa lebih banyak kehancuran. Karena itu, kami mendesak Trump memberikan kesempatan bagi diplomasi," ujar salah satu sumber Teluk.

Sumber lainnya mengatakan Riyadh telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayah Arab Saudi akan dibalas dengan respons militer.

Analis Saudi yang dekat dengan Kerajaan, Ali Shihabi, menilai eskalasi lanjutan kecil kemungkinan menghasilkan tujuan yang diinginkan.

"Kerajaan meyakini kombinasi respons militer yang proporsional dan tekanan berkelanjutan terhadap Iran di Selat Hormuz merupakan jalur terbaik menuju penyelesaian diplomatik yang realistis," kata Shihabi.

Iran Ancam Infrastruktur Energi Kawasan

Kepemimpinan Iran selama ini berulang kali menuntut penutupan pangkalan militer AS di kawasan Teluk dan meminta negara-negara Arab menghentikan kerja sama intelijen dengan Washington yang diyakini membantu serangan terhadap Iran.

Seorang pejabat Iran mengatakan peringatan terbaru Teheran menegaskan bahwa setiap serangan baru AS akan dibalas dengan serangan terhadap berbagai infrastruktur penting di kawasan Teluk.

Target tersebut meliputi fasilitas energi, kilang minyak, jaringan listrik, infrastruktur air, jaringan transportasi, hingga ladang minyak.

Baca Juga: Google Hadapi Penolakan Proyek Pusat Data US$ 15 Miliar di India, Ada Apa?

"Musuh terus mengancam infrastruktur Iran. Jika Iran mengalami kerusakan, maka Iran akan menimbulkan kerusakan yang jauh lebih besar sebagai balasannya," ujar pejabat tersebut.

Ia juga menyinggung serangan terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco pada September 2019 yang sempat melumpuhkan lebih dari separuh produksi minyak mentah Arab Saudi.

"Mereka masih mengingat Aramco milik Arab Saudi," katanya.

Melalui ancaman terhadap infrastruktur vital ekonomi negara-negara Teluk, Iran berupaya meyakinkan Washington dan sekutu-sekutunya bahwa serangan baru terhadap Teheran akan menimbulkan konsekuensi ekonomi dan strategis yang sangat besar.

Menurut seorang pejabat senior Iran, dari sudut pandang Teheran, Trump kini menghadapi dua pilihan yang sama-sama sulit, yakni meningkatkan konflik yang berpotensi mengganggu pasokan energi global atau menerima penyelesaian melalui negosiasi yang mungkin tidak memberikan kemenangan mutlak bagi Washington.

Sementara itu, diplomat senior kawasan mengatakan salah satu hambatan utama menuju kesepakatan adalah keengganan Washington membiarkan Iran tampil seolah memenangkan konflik.

"Amerika Serikat menginginkan sesuatu yang dapat mereka tunjukkan sebagai bukti bahwa mereka memenangkan perang," ujar diplomat tersebut.


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×