Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan ketahanan, meski perekonomian menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak dan inflasi akibat konflik di Timur Tengah.
Melansir Reuters Kamis (17/9/2026), Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan, klaim awal tunjangan pengangguran turun secara tak terduga pada pekan lalu.
Klaim baru tercatat 196.000 pada pekan yang berakhir 12 September 2026, turun 10.000 dari pekan sebelumnya.
Baca Juga: India Peringatkan AS, Tarif Minyak Rusia Bisa Ganggu Hubungan Bilateral
Angka tersebut juga lebih rendah dari ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 208.000 klaim.
Namun, penurunan tersebut dinilai perlu dibaca dengan hati-hati karena bertepatan dengan periode libur Labor Day.
Penyesuaian musiman klaim pengangguran cenderung lebih sulit dilakukan ketika terdapat hari libur yang tanggalnya berubah setiap tahun.
Rata-rata klaim pengangguran selama empat pekan, yang menjadi indikator lebih baik untuk melihat tren pasar tenaga kerja, turun 2.750 menjadi 203.250 klaim.
"Angka yang sangat rendah pada pekan lalu mungkin mencerminkan masalah penyesuaian musiman terkait Labor Day, tetapi gambaran dasarnya tetap menggembirakan," kata Samuel Tombs, kepala ekonom AS di Pantheon Macroeconomics.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk lebih fokus terhadap tekanan inflasi.
Baca Juga: Harga Minyak Turun 3%, Pasokan Saudi via Oman Redakan Kekhawatiran Pasar
Bank sentral AS pada Rabu (16/9) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%, kenaikan pertama sejak Juli 2023.
Ketua The Fed Kevin Warsh juga menilai kondisi pasar tenaga kerja masih menjadi salah satu indikator kekuatan ekonomi.
Menurut dia, tingkat pengangguran saat ini pada dasarnya masih konsisten dengan kondisi full employment.
Data klaim pengangguran terbaru juga mencakup periode survei pemerintah terhadap perusahaan untuk menyusun komponen payrolls dalam laporan ketenagakerjaan September.
Rata-rata klaim selama empat pekan relatif tidak banyak berubah antara periode survei Agustus dan September, yang mengindikasikan kondisi pasar tenaga kerja masih stabil.
Pada Agustus, jumlah tenaga kerja nonpertanian AS bertambah 162.000 orang setelah pertumbuhan pekerjaan melambat tajam dalam tiga bulan sebelumnya.
Baca Juga: Investor Asing Banjiri Obligasi Pemerintah Kanada, Dana Masuk Capai C$104 Miliar
Sementara itu, jumlah penerima tunjangan pengangguran yang masih berlanjut turun 39.000 menjadi 1,73 juta orang pada pekan yang berakhir 5 September.
Data tersebut sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk melihat kondisi perekrutan tenaga kerja.
Meski demikian, ekonom memperkirakan kondisi pasar tenaga kerja masih menghadapi sejumlah tantangan.
Dunia usaha cenderung berhati-hati meningkatkan perekrutan di tengah ketidakpastian ekonomi, termasuk dampak konflik AS-Israel dengan Iran yang mendorong harga minyak dan berpotensi memperbesar tekanan inflasi.
Tingkat pengangguran AS sendiri berada di 4,1% pada Agustus. Rendahnya angka pemutusan hubungan kerja dan pertumbuhan angkatan kerja yang lebih terbatas menjadi faktor yang turut menahan kenaikan tingkat pengangguran.
Baca Juga: N. Chandrasekaran Kembali Pimpin Tata Sons, Ini Gurita Bisnisnya
Sektor Properti Mulai Tertekan
Di tengah pasar tenaga kerja yang relatif solid, sektor perumahan AS justru menghadapi tekanan lebih besar akibat kenaikan biaya pembiayaan.
Data Biro Sensus AS menunjukkan izin pembangunan rumah tapak atau single-family homes turun 1,8% pada Agustus menjadi tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman sebesar 878.000 unit. Meski turun secara bulanan, izin tersebut masih tumbuh 1,3% dibandingkan Agustus tahun lalu.
Penurunan izin pembangunan tersebut terjadi setelah sentimen perusahaan pembangun rumah merosot ke level terendah dalam satu tahun pada September.
National Association of Home Builders (NAHB) menyebut kenaikan suku bunga hipotek menjadi salah satu faktor yang menekan sentimen industri perumahan. Industri juga menghadapi kekurangan tenaga kerja yang semakin memburuk serta kenaikan harga material akibat tarif impor.
Baca Juga: Kremlin: Sanksi Baru AS Akan Persulit Upaya Damai Rusia-Ukraina
Tekanan tersebut semakin terlihat dari kenaikan bunga kredit pemilikan rumah. Suku bunga rata-rata KPR fixed-rate 30 tahun melonjak hampir 80 basis poin sejak perang di Timur Tengah dimulai.
Data Freddie Mac menunjukkan rata-rata bunga KPR 30 tahun mencapai 6,76% pada pekan lalu, level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.
Kenaikan bunga KPR membuat biaya pembiayaan rumah semakin mahal dan berpotensi menekan permintaan maupun aktivitas pembangunan.
Meski izin pembangunan rumah tapak turun, pembangunan rumah tapak justru meningkat 7,6% pada Agustus menjadi tingkat tahunan 918.000 unit. Angka tersebut juga meningkat 5,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, segmen perumahan multifamily mengalami tekanan lebih dalam. Pembangunan multifamily anjlok 22,5% menjadi tingkat tahunan 344.000 unit pada Agustus, sementara housing starts multifamily turun 15,5% secara tahunan.
Secara keseluruhan, housing starts turun 2,6% menjadi 1,275 juta unit pada Agustus dan merosot 1,2% dibandingkan setahun sebelumnya.
Izin pembangunan secara keseluruhan juga turun 2,7% menjadi tingkat tahunan 1,394 juta unit, meski masih meningkat 3,5% secara tahunan.
Baca Juga: The Fed Beri Sinyal Naikkan Bunga Lagi, Ini Proyeksi Broker Wall Street
Investasi residensial AS bahkan telah mengalami kontraksi dalam lima dari enam kuartal terakhir.
"Pasar perumahan bukan titik paling terang dalam radar The Fed saat ini, dengan berbagai guncangan pasokan dan harga yang menekan output serta permintaan secara bersamaan," kata Carl Weinberg, kepala ekonom High Frequency Economics.
Menurut Weinberg, persoalan yang terjadi di sektor perumahan tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan moneter.
Perkembangan tersebut menunjukkan adanya perbedaan kondisi antara pasar tenaga kerja dan sektor perumahan AS.
Ketahanan pasar kerja memberikan ruang bagi The Fed untuk tetap memperhatikan inflasi, sementara kenaikan biaya pembiayaan justru meningkatkan tekanan terhadap aktivitas perumahan.














