kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Pasar Kerja AS Melambat, Pengangguran Bertahan Lebih Lama.


Jumat, 19 Juni 2026 / 16:30 WIB
Pasar Kerja AS Melambat, Pengangguran Bertahan Lebih Lama.
ILUSTRASI. Iran - Amerika Serikat (AS) (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran turun pada pekan lalu. Namun, level klaim yang masih relatif tinggi mengindikasikan pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam mulai kehilangan sebagian momentumnya di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan inflasi.

Melansir Reuters (19/6), Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran turun 4.000 menjadi 226.000 pada pekan yang berakhir 13 Juni. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebanyak 225.000 klaim.

Meski penurunan tersebut memberi sinyal bahwa pasar tenaga kerja masih cukup tangguh, sejumlah ekonom menilai tren yang lebih luas menunjukkan laju penciptaan lapangan kerja mulai melambat. Klaim pengangguran sempat meningkat selama tiga pekan berturut-turut dan kini berada di kisaran atas rentang pergerakan sepanjang tahun ini.

"Kami tidak memperkirakan klaim pengangguran akan terus meningkat dari level saat ini," kata Nancy Vanden Houten, Kepala Ekonom AS Oxford Economics. Menurutnya, kondisi pasar tenaga kerja masih cukup sehat dan belum menunjukkan tanda-tanda overheating yang dapat memicu tekanan inflasi lebih besar.

Baca Juga: Penjualan Ritel AS Melampaui Perkiraan Bulan Mei 2026

Data ini muncul sehari setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, proyeksi terbaru bank sentral menunjukkan para pembuat kebijakan masih membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut karena kekhawatiran terhadap inflasi yang tetap tinggi.

Di sisi lain, sejumlah indikator menunjukkan perusahaan mulai lebih berhati-hati dalam merekrut pekerja. Ketidakpastian kebijakan, mulai dari dampak tarif impor hingga konflik geopolitik di Timur Tengah, dinilai menjadi faktor yang menahan ekspansi tenaga kerja.

Sinyal pelemahan juga terlihat dari data continuing claims atau jumlah penerima tunjangan pengangguran berkelanjutan yang naik 24.000 menjadi 1,81 juta orang. Angka ini mencerminkan semakin banyak pencari kerja yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan baru.

Pemerintah AS juga melaporkan durasi median pengangguran meningkat menjadi 11,6 minggu pada Mei, terlama sejak November 2021. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun angka PHK masih rendah, proses perekrutan tenaga kerja baru belum sepenuhnya pulih.

Di saat yang sama, tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama. Survei Federal Reserve Philadelphia menunjukkan aktivitas manufaktur di kawasan Mid-Atlantic kembali tumbuh pada Juni. Namun, harga bahan baku yang dibayar pabrik meningkat dan pelaku usaha memperkirakan harga jual akan terus naik dalam enam bulan ke depan.

Stephen Stanley, Chief US Economist Santander US Capital Markets, menilai ekspektasi harga yang semakin tinggi dapat menjadi tantangan bagi The Fed. Menurutnya, indikator harga yang diterima produsen kini berada di level tertinggi sejak 2021 dan mendekati puncak yang terjadi saat pandemi.

Kombinasi pasar tenaga kerja yang mulai melambat dan inflasi yang masih membandel menempatkan The Fed pada posisi yang tidak mudah. Bank sentral harus menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berjalan tanpa kehilangan momentum dalam upaya membawa inflasi kembali ke target 2%.

Ekonom Citigroup, Gisela Young, memperkirakan pertumbuhan lapangan kerja AS akan semakin melemah pada musim panas tahun ini. Sejalan dengan itu, tingkat pengangguran diperkirakan akan bergerak lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

Baca Juga: Trump Ancam Tarif 100% untuk Sampanye Prancis Jika Pajak Digital Tak Dicabut


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×