Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap puluhan target milik Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Iran pada Kamis (30/7/2026), sebagai respons atas serangan rudal balistik yang sebelumnya diluncurkan Teheran ke pasukan AS di Timur Tengah.
Militer Amerika Serikat menyatakan operasi tersebut menyasar pusat komando militer hingga fasilitas drone milik IRGC. Serangan berlangsung selama sekitar dua jam, dimulai pukul 00.00 GMT (07:00 WIB) hingga 02.00 GMT (09:00 WIB).
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi tersebut bertujuan mengurangi ancaman yang ditimbulkan Iran beserta kelompok-kelompok yang didukungnya terhadap pasukan AS, jalur pelayaran komersial, serta negara-negara Teluk.
"Serangan ini bertujuan untuk semakin mengurangi ancaman yang ditimbulkan Iran dan kelompok-kelompok proksinya terhadap pasukan Amerika, pelayaran komersial, serta negara-negara tetangga di kawasan Teluk," demikian pernyataan CENTCOM.
Baca Juga: Jerman Hadapi Gelombang Panas Ekstrem, Korban Tewas Capai 9.800 Orang
Media pemerintah Iran melaporkan tiga orang tewas akibat serangan AS di Pulau Qeshm.
Di sisi lain, militer Yordania mengumumkan telah menggagalkan upaya serangan Iran ke wilayahnya dengan mencegat lima rudal yang ditembakkan menuju kerajaan tersebut.
Iran Sebelumnya Serang Pasukan AS
Serangan terbaru AS dilakukan setelah Iran pada Rabu (29/7) mengonfirmasi telah menembakkan rudal balistik ke arah pasukan AS yang ditempatkan di Yordania.
CENTCOM menyatakan seluruh rudal tersebut berhasil dicegat, meskipun pangkalan militer AS di Yordania belakangan menjadi salah satu sasaran utama serangan Iran.
Sebelumnya pada hari yang sama, pasukan AS bersama Arab Saudi juga melancarkan serangan terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak bagian timur sebagai balasan atas serangan drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi yang diluncurkan dari wilayah Irak.
Serangan gabungan tersebut menjadi kali pertama Riyadh secara terbuka bergabung dengan Washington dalam operasi militer terhadap kelompok pro-Iran.
Serangan Meluas hingga Mesir
Perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey, melaporkan sebuah drone menghantam kapal tanker penyimpanan gas milik perusahaan AS di Pelabuhan Damietta, pesisir Mediterania Mesir, pada Rabu (29/7/2026).
Kementerian Perminyakan Mesir mengonfirmasi terjadi kebakaran di pelabuhan tersebut, namun tidak menyebut adanya serangan drone. Hingga kini belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Baca Juga: Apple Upgrade Resmi Meluncur, iPhone hingga Mac Kini Bisa Disewa Bulanan
Perkembangan di Irak dan Mesir meningkatkan kekhawatiran semakin banyak negara Timur Tengah akan terseret dalam konflik, setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman pekan lalu mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Selat Hormuz Jadi Titik Sengketa
Konflik yang telah berlangsung sejak Februari itu bermula ketika AS dan Israel melancarkan kampanye pengeboman terhadap Iran. Presiden Donald Trump saat itu mengatakan operasi tersebut hanya akan berlangsung beberapa pekan.
Namun, gencatan senjata sementara yang sempat disepakati pada Juni gagal bertahan setelah pertempuran kembali pecah terkait penguasaan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang diklaim kini berada di bawah kendali Iran.
Trump menegaskan akan memberikan respons keras atas serangan rudal Iran terhadap pasukan AS. Meski demikian, Washington masih membuka peluang tercapainya kesepakatan damai guna mengakhiri konflik yang telah mengguncang pasar energi dan keuangan global akibat terganggunya arus pelayaran di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur penting yang sebelum perang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta gas alam cair (LNG). Jalur tersebut menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Kini, Selat Hormuz menjadi hambatan utama dalam perundingan damai sekaligus titik paling rawan memicu eskalasi konflik.
Iran pada Rabu menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker yang melintas melalui jalur yang disebut tidak sah di Selat Hormuz serta menegaskan pihaknya menguasai kawasan tersebut.
Sementara itu, Oman sebelumnya mengajukan proposal yang didukung negara-negara Teluk untuk mengelola Selat Hormuz, termasuk mekanisme pembayaran biaya penggunaan jalur tersebut secara sukarela. Namun, menurut sumber Reuters, Iran telah menolak usulan tersebut.
Harga Minyak Melonjak
Memanasnya konflik kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak tajam pada Rabu (29/7/2026), menjadi salah satu kenaikan terbesar selama lima bulan konflik berlangsung.
Kontrak berjangka Brent sempat melesat lebih dari 8% hingga menembus level US$ 90 per barel, membalikkan penurunan tajam yang terjadi awal pekan setelah Trump secara mengejutkan menghentikan sementara serangan AS. Pada perdagangan Kamis, harga minyak sedikit terkoreksi.
Puluhan Milisi Irak Tewas
Pasukan Mobilisasi Rakyat Irak (Popular Mobilisation Forces/PMF), kelompok paramiliter yang didukung Iran dan menjadi bagian dari aparat keamanan Irak, menyatakan sedikitnya 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya terluka akibat serangan gabungan AS-Arab Saudi terhadap sejumlah pangkalan di Irak.
Dalam prosesi pemakaman para korban, sejumlah warga Irak terdengar meneriakkan slogan "Matilah Amerika!" sambil membawa kantong jenazah para pejuang yang tewas.
Kepresidenan Irak mengecam serangan tersebut sebagai serangan yang tidak dapat diterima dan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Irak.
Baca Juga: Efisiensi Biaya Dongkrak Laba Magnum Ice Cream, Lampaui Proyeksi Analis
Namun pemerintah Irak juga menyerukan penghentian serangan kelompok-kelompok bersenjata terhadap negara-negara tetangganya.
Meski Iran membantah pasukannya mengarahkan serangan dari wilayah Irak, surat kabar Iran Hamshahri melaporkan empat penasihat Garda Revolusi Iran turut tewas dalam serangan di Irak.
Arab Saudi Minta Konflik Tak Diperluas
Setelah serangan gabungan tersebut, Menteri Pertahanan Arab Saudi bertemu Wakil Presiden AS JD Vance di Washington pada Rabu (29/7/2026).
Menurut dua sumber Reuters, dalam pertemuan itu Riyadh mendesak pemerintahan Trump agar tidak memperluas konflik melalui serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman maupun milisi-milisi yang didukung Iran di Irak.
Salah satu sumber menyatakan eskalasi lebih lanjut hanya akan membuka peluang munculnya "risiko besar yang belum diketahui dampaknya."
Hingga berita ini ditulis, Gedung Putih maupun Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.














