Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - LONDON. Obligasi global kembali dilanda aksi jual pada Kamis (1/10/2026). Aksi jual ini berpotensi semakin menekan keuangan pemerintah yang sudah berat.
Ini bisa terjadi karena biaya pinjaman melonjak ke tingkat yang belum pernah terlihat dalam beberapa dekade. Ini terjadi di banyak negara, mulai dari Amerika Serikat (AS) hingga Prancis dan Jepang. Kondisi ini juga berdampak pada pasar yang lebih luas, termasuk pasar saham.
Saham-saham Eropa terkena dampak paling parah; indeks acuan STOXX 600 turun 1,2% ke level terendah sejak Juni di 624,85 pada pukul 15.31 WIB, Kamis (1/10/2026).
Yield obligasi pemerintah AS alias US treasury tenor 10 tahun naik menjadi 5,34%, level tertinggi sejak 2002. US treasury telah mencatatkan kenaikan kuartalan terbesar abad ini pada periode tiga bulan hingga September.
Imbal hasil akan naik ketika harga obligasi turun. Angka ini terus melonjak di seluruh dunia seiring melonjaknya biaya energi yang memicu inflasi, serta pesatnya perkembangan akal imitasi (AI) dan pembangunan data center yang meningkatkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi dan arah suku bunga jangka pendek di masa depan.
Baca Juga: AS Minta Jerman dan Prancis Lepas Cadangan Solar, Atau Hadapi Larangan Ekspor
Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya pendanaan bagi perusahaan maupun peminjam hipotek, serta memaksa pemerintah mengeluarkan lebih banyak dana untuk pembayaran bunga. Kondisi ini menyisakan lebih sedikit anggaran untuk kebutuhan lainnya.
Obligasi negara-negara dengan tingkat utang yang lebih tinggi mengalami tekanan jual yang lebih hebat.
Obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun baru saja mencatatkan kinerja kuartalan terburuk sejak 1987. Yield obligasi negara ini melonjak 10 basis poin pada Kamis (1/10/2026) menjadi 4,96%.
Artinya, yield obligasi Prancis telah mendekati angka psikologis 5%. Credit default swap (CDS) Prancis juga naik ke level tertinggi sejak 2013.
"Obligasi pemerintah Prancis sedang tertekan hebat karena saat ini adalah masa penyusunan anggaran yang situasinya sedang kacau. Obligasi Italia juga mengalami tekanan serupa," ujar Tim Graf, Kepala Strategi Makro Wilayah EMEA di State Street, seperti dikutip Reuters, Kamis (1/10/2026).
Sementara imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun naik melampaui 6%, mencapai level tertinggi sejak 1998.
Baca Juga: Warga Jerman Bisa Gunakan Baterai Mobil Listrik untuk Pasok Listrik di Rumah
Di Jepang, di mana inflasi akhirnya mulai menguat setelah perjuangan panjang melawan deflasi selama beberapa decade, imbal hasil obligasi pemerintah mencatatkan kenaikan dua digit selama lima kuartal berturut-turut, sebuah rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Kita telah bertahan dalam keseimbangan yang tidak stabil di mana inflasi inti berada pada tingkat tinggi yang tidak berkelanjutan," kata Andrew Lilley, Kepala Strategi Suku Bunga Barrenjoey, bank investasi yang berbasis di Sydney.
Para analis menyatakan tidak tampak adanya pemicu langsung bagi pergerakan obligasi. Harga minyak relatif stabil di atas US$100 per barel dan tidak ada data ekonomi baru yang memicu kekhawatiran pasar.
"Kita telah mengalami aksi jual obligasi yang berkepanjangan. Pergerakannya berkorelasi dengan harga minyak dan juga dipengaruhi oleh data ekonomi AS yang kuat. Tidak cukup banyak pembeli yang berminat membeli obligasi, dan situasi ini tidak membantu," kata Rory McPherson, Kepala Strategi Pasar Wren Sterling.














