Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed dinilai masih perlu menaikkan suku bunga acuan setidaknya sebesar 50 basis poin (bps) lagi.
Langkah ini diperlukan untuk membawa kebijakan moneter ke level yang "sedikit restriktif" (modestly restrictive) guna menekan inflasi kembali ke target 2%.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, pada Kamis (1/10/2026).
Logan menilai kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada bulan lalu yang menggeser suku bunga acuan ke rentang 3,75%–4,00% merupakan langkah awal yang penting dalam pengetatan kebijakan moneter.
Baca Juga: Kasus Negreira Dibuka Lagi, Ini 6 Sanksi yang Bisa Diterima Barcelona dari UEFA
"Meskipun demikian, saya memperkirakan rentang target suku bunga masih perlu dinaikkan setidaknya 50 basis poin atau lebih untuk menyeimbangkan prospek dan risiko terhadap pencapaian dua mandat utama kami secara tepat. Kita harus memulihkan stabilitas harga," tegas Logan dalam pidatonya di hadapan para eksekutif bisnis dan tokoh masyarakat di markas The Fed Dallas dilansir dari Reuters.
Logan menjelaskan bahwa kondisi perekonomian AS saat ini terus menguat dengan pasar tenaga kerja yang relatif seimbang.
Kendati inflasi mulai melandai seiring memudarnya faktor-faktor sementara (transitory), ia menilai inflasi sulit untuk turun di bawah level 2,5% tanpa adanya kenaikan suku bunga lanjutan.
"Beberapa kali kenaikan tambahan pada rentang target suku bunga akan membalikkan pemangkasan suku bunga berbasis risk management yang dilakukan FOMC pada akhir tahun lalu," ujar Logan, merujuk pada langkah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang sempat memangkas suku bunga acuan sebesar 75 bps dalam tiga pertemuan terakhir tahun lalu.
Baca Juga: UEFA Buka Lagi Kasus Negreira Barcelona, Real Madrid Kirim 50.000 Halaman Dokumen
Pernyataan Logan dirilis pada hari yang sama saat yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun terakhir, sebelum akhirnya melandai ke kisaran 5,24%.
Menurut Logan, lonjakan yield obligasi jangka panjang mencerminkan ekspektasi pelaku pasar terhadap pertumbuhan ekonomi yang solid serta tingkat suku bunga The Fed yang lebih tinggi.
Namun, kenaikan tersebut juga bisa mencerminkan peningkatan term premium yang pada akhirnya dapat memperlambat laju ekonomi, sehingga mengurangi urgensi pengetatan moneter yang berlebihan.
Ia menambahkan bahwa level pasti dari suku bunga kebijakan yang dibutuhkan untuk menciptakan kondisi restriktif masih dipenuhi ketidakpastian dan berkembang seiring waktu, tergantung pada kondisi finansial secara luas.
Baca Juga: Gagal Ke Final FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Sorotan Media Malaysia Kepada Timnas
"Saya akan terus memantau pasar tenaga kerja, pergerakan harga, pertumbuhan ekonomi, konsumsi, serta kondisi keuangan untuk mengevaluasi apakah kebijakan yang diterapkan sudah cukup restriktif," pungkasnya.














