Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat (AS) kembali mencuat menjelang pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di simposium Jackson Hole.
Dua pejabat The Fed menilai tekanan harga masih terlalu tinggi sehingga ruang untuk penurunan suku bunga semakin terbatas, bahkan opsi kenaikan suku bunga kembali terbuka.
Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeffrey Schmid mengatakan kebijakan suku bunga The Fed saat ini belum cukup menekan aktivitas ekonomi untuk meredam inflasi.
Menurut dia, inflasi AS masih "stubborn" dan "sticky" atau sulit turun menuju target 2%.
Baca Juga: Obligasi AS Kirim Sinyal The Fed Mungkin Tak Lagi Naikkan Suku Bunga
"Saya tidak tahu apa yang sedang kita batasi dengan kebijakan suku bunga yang kita terapkan saat ini," ujar Schmid kepada CNBC, Kamis (27/8/2026).
Saat ini, suku bunga acuan The Fed berada di kisaran 3,50%-3,75%. Schmid sebelumnya telah membuka peluang kenaikan suku bunga untuk membantu mengembalikan inflasi ke target 2%.
Namun, Schmid belum memastikan apakah kenaikan suku bunga akan dilakukan dalam pertemuan The Fed pada 15-16 September mendatang.
Ia masih menunggu data lebih lanjut, terutama untuk melihat sisi permintaan yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus inflasi.
Senada, Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee mengingatkan bahwa inflasi masih menjadi risiko utama bagi perekonomian AS. Ia menilai masyarakat perlu mewaspadai kemungkinan tekanan harga kembali meningkat.
"Ketakutan terbesar saya dalam jangka pendek adalah inflasi belum terkendali," kata Goolsbee dalam podcast Rapid Response.
Goolsbee menyoroti kenaikan biaya energi akibat perang di Iran serta perubahan kebijakan tarif pemerintahan Donald Trump yang dinilai dapat kembali menekan harga di tingkat rumah tangga.
Baca Juga: Inflasi AS Terancam Panas Lagi, The Fed Mulai Bahas Peluang Kenaikan Suku Bunga
Menurut dia, kondisi tersebut berisiko membuat masyarakat menganggap inflasi tinggi sebagai sesuatu yang permanen. Jika ekspektasi itu terbentuk, upaya untuk menurunkan inflasi akan menjadi jauh lebih sulit.
Meski demikian, Goolsbee menilai tren inflasi dalam tiga bulan terakhir belum menunjukkan kondisi yang terlalu buruk. Ia juga membuka peluang penurunan suku bunga apabila data menunjukkan inflasi kembali bergerak menuju target 2%.
Menanti sinyal Warsh
Pernyataan kedua pejabat The Fed tersebut muncul sehari setelah pemerintah AS merilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator utama yang menjadi acuan bank sentral AS.
Indeks PCE tercatat naik 3,7% secara tahunan hingga Juli 2026, sama seperti pada Juni, tetapi masih turun dari kenaikan 4,1% pada Mei.
Data tersebut memunculkan pandangan berbeda di pasar.
Sebagian ekonom menilai inflasi yang masih tinggi dapat membuka jalan bagi kenaikan suku bunga pada September, sementara sebagian lainnya melihat peluang pengetatan masih terbuka tetapi belum tentu dilakukan pada pertemuan terdekat.
Pasar futures saat ini cenderung belum memperkirakan kenaikan suku bunga pada September. Namun, peluang kenaikan pada akhir 2026 dinilai cukup besar.
Baca Juga: Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Menyusut, Inflasi AS Naik Tipis Sesuai Ekspektasi
Perhatian pasar kini tertuju pada pidato Warsh dalam konferensi Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026). Pelaku pasar berharap Warsh memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
Namun, ekspektasi tersebut tidak terlalu tinggi. Warsh dikenal enggan memberikan panduan tegas mengenai arah suku bunga, termasuk terkait keputusan kebijakan moneter pada pertemuan mendatang.
Selain persoalan inflasi, Goolsbee juga menyoroti tekanan politik terhadap The Fed. Menurut dia, intervensi politik terhadap kebijakan moneter dapat mengganggu kredibilitas bank sentral dan berujung pada kembalinya inflasi.
Bagi pasar keuangan, kombinasi inflasi yang masih tinggi dan ketidakpastian kebijakan The Fed menjadi sinyal bahwa era pelonggaran moneter belum tentu berjalan mulus.














