kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.623.000   25.000   0,96%
  • USD/IDR 17.758   2,00   0,01%
  • IDX 6.473   10,66   0,16%
  • KOMPAS100 847   -4,75   -0,56%
  • LQ45 644   -4,61   -0,71%
  • ISSI 227   2,74   1,22%
  • IDX30 357   -3,03   -0,84%
  • IDXHIDIV20 446   -3,84   -0,85%
  • IDX80 97   -0,52   -0,54%
  • IDXV30 124   -0,32   -0,26%
  • IDXQ30 115   -1,06   -0,91%

AS Setujui Penjualan Jet Tempur F-35 ke Arab Saudi Senilai US$ 24,3 Miliar


Jumat, 18 September 2026 / 09:06 WIB
AS Setujui Penjualan Jet Tempur F-35 ke Arab Saudi Senilai US$ 24,3 Miliar
ILUSTRASI. Jet tempur F-35 Lightning II buatan Lockheed Martin (REUTERS/Kacper Pempel)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pemerintah Amerika Serikat (AS) membuka jalan bagi potensi penjualan jet tempur F-35 Lightning II buatan Lockheed Martin kepada Arab Saudi dengan nilai sekitar US$ 24,3 miliar.

Departemen Luar Negeri AS pada Kamis (17/9/2026) menyatakan telah menyetujui potensi penjualan tersebut.

Rencana ini mencakup 48 unit F-35, 49 mesin Pratt & Whitney, peralatan komunikasi, suku cadang serta berbagai layanan pendukung.

Baca Juga: Nikkei Naik 1% Jumat (18/9), Saham Teknologi Jepang Ikuti Reli Wall Street

Meski telah mendapat persetujuan dari Departemen Luar Negeri AS, transaksi tersebut masih membutuhkan persetujuan Kongres AS sebelum dapat direalisasikan.

Penjualan F-35 ke Arab Saudi akan menjadi langkah penting dalam hubungan pertahanan kedua negara.

Kesepakatan tersebut berpotensi memperluas kerja sama industri pertahanan AS sekaligus memperkuat posisi Arab Saudi dalam modernisasi militernya.

Arab Saudi telah lama mengincar jet tempur tersebut. Kerajaan itu kembali mengajukan permintaan langsung kepada Presiden AS Donald Trump pada awal 2025.

Perkuat Industri Pertahanan AS

F-35 merupakan jet tempur yang menggunakan teknologi siluman atau stealth, sehingga dirancang untuk mengurangi kemungkinan terdeteksi oleh sistem pertahanan lawan.

Pesawat tersebut diproduksi oleh Lockheed Martin dan menggunakan mesin buatan Pratt & Whitney.

Arab Saudi merupakan salah satu pelanggan terbesar industri persenjataan AS.

Negara tersebut tengah melakukan modernisasi angkatan udara dan meningkatkan kemampuan pertahanannya untuk menghadapi berbagai risiko keamanan di kawasan, khususnya terkait Iran.

Baca Juga: BOJ Diperkirakan Naikkan Suku Bunga ke 1,25%, Tertinggi dalam 31 Tahun

Angkatan Udara Arab Saudi saat ini mengoperasikan sejumlah jenis pesawat tempur, termasuk F-15 buatan Boeing serta Tornado dan Typhoon buatan Eropa.

Usulan pembelian 48 F-35 tersebut setara dengan pembentukan dua skuadron dan menjadi bagian dari upaya Riyadh memperkuat kemampuan militernya di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington menyambut baik rencana penjualan tersebut.

Menurut kedutaan, kesepakatan F-35 mencerminkan kekuatan dan keberlanjutan kemitraan strategis Saudi-AS serta perkembangan kerja sama pertahanan kedua negara.

Uji Kebijakan AS di Timur Tengah

Rencana penjualan tersebut juga memiliki dimensi strategis karena Washington selama ini mempertimbangkan keunggulan militer kualitatif Israel atau qualitative military edge (QME) dalam setiap penjualan senjata ke negara-negara Timur Tengah.

Israel telah mengoperasikan F-35 selama sekitar satu dekade dan hingga kini menjadi satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki sistem pesawat tersebut.

Baca Juga: Indonesia Masuk 10 Besar Negara G20 dengan Ekspor Terbesar ke AS

Jika terealisasi, penjualan F-35 kepada Arab Saudi akan menjadi perubahan penting dalam kebijakan persenjataan AS di kawasan sekaligus berpotensi memengaruhi keseimbangan kekuatan militer Timur Tengah.

Persoalan F-35 sebelumnya juga menjadi bagian dari upaya diplomasi yang lebih luas antara AS, Arab Saudi dan Israel.

Pemerintahan Joe Biden pernah mengeksplorasi kemungkinan memberikan F-35 kepada Riyadh sebagai bagian dari kesepakatan yang mencakup normalisasi hubungan Arab Saudi dengan Israel. Namun, upaya tersebut tidak berlanjut.

Setelah kembali menjabat, Trump menjadikan penjualan senjata kepada Arab Saudi sebagai salah satu prioritas.

Pada 2025, AS telah menyepakati paket persenjataan senilai hampir US$ 142 miliar untuk Arab Saudi, yang disebut Gedung Putih sebagai kesepakatan kerja sama pertahanan terbesar yang pernah dilakukan Washington.

Namun, rencana penjualan F-35 masih menghadapi proses pengawasan Kongres. Sejumlah anggota parlemen AS sebelumnya mempertanyakan kesepakatan persenjataan dengan Riyadh, terutama setelah kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi pada 2018.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat Jumat (18/9), Harga Minyak Turun Jelang Keputusan Suku Bunga BOJ

Di sisi lain, Arab Saudi terus menjalankan agenda modernisasi ekonomi dan militernya melalui Vision 2030 yang digagas Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Riyadh juga berupaya melakukan diversifikasi mitra pertahanan, sembari mempertahankan hubungan keamanan yang telah berlangsung selama puluhan tahun dengan Washington.




TERBARU

[X]
×